Pengertian, Jenis, dan Manfaat Batu Apung

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam pelajaran geografi, kamu akan mempelajari mengenai jenis-jenis batu. Salah satunya adalah batu apung. Apa itu batu apung? Batu apung adalah bebatuan vulkanik. Simak penjelasan lengkapnya di ulasan berikut ini.
Batu apung ini mudah ditemukan diberbagai daerah. Banyak orang yang memanfaatkan batuan apung untuk berbagai keperluan. Apa saja? Yuk, simak artikel ini hingga usai untuk mengetahui apa itu batu apung, jenis-jenis, hingga manfaatnya.
Baca Juga: Mengenal Jenis Batuan Beku, Batu yang Usianya Sudah Tua
Pengertian Batu Apung
Dikutip dari buku Ensiklopedia Pelajar dan Umum karya Gamal Komandoko (2010: 80), batu apung disebut juga batu timbul, yaitu jenis batu yang berasal dari gunung berapi yang tidak tenggelam di dalam air. Batu apung juga dapat diartikan sebagai batuan yang terbentuk dari material magma atau lava yang mengalami pendinginan secara cepat di udara atau air. Batu apung memiliki densitas yang lebih rendah dari air, sehingga batu ini akan terapung di atas permukaan air.
Warna batu apung bermacam-macam dari yang kekuning-kuningan hingga jingga, kemerah-merahan, abu-abu kebiru-biruan, abu-abu, dan warna-warna lainnya. Unsur terbanyak yang terkandung di dalam batu apung adalah silika. Selain itu terkandung pula alumina, besi oksida, potash, dan soda di dalamnya.
Jenis Batu Apung
Pumice: batu apung jenis ini memiliki tekstur berpori-pori karena adanya gelembung udara dalam batuan. Pumice biasanya terbentuk dari letusan gunung berapi yang kaya akan gas.
Obsidian: batu apung jenis ini terbentuk dari pendinginan lava yang sangat cepat sehingga tidak sempat membentuk kristal. Obsidian memiliki warna hitam pekat atau cokelat dan tekstur yang kaca.
Scoria: batu apung jenis ini serupa dengan pumice namun lebih berat dan lebih sedikit mengandung gelembung udara. Scoria juga seringkali memiliki permukaan kasar.
Perlite: batu apung jenis ini terbentuk dari magma atau lava yang mengandung banyak air. Setelah terjadi pendinginan, perlite mengembang dan membentuk tekstur berpori-pori.
Tuff: batu apung jenis ini terbentuk dari material vulkanik yang terpapar oleh udara atau air, dan biasanya terbentuk dari letusan gunung berapi besar. Tuff memiliki tekstur kasar dan pori-pori yang besar.
Liparit: batu apung jenis ini memiliki tekstur serupa dengan obsidian namun memiliki warna yang lebih terang dan sedikit mengandung kristal.
Manfaat Batu Apung
Batu apung memiliki banyak manfaat, di antaranya:
Bahan bangunan: Batu apung sering digunakan sebagai bahan bangunan karena memiliki tekstur yang ringan, mudah dipotong, dan mudah dipasang.
Bahan hiasan: Batu apung juga sering digunakan sebagai bahan hiasan pada taman atau taman air karena memiliki warna yang cantik dan dapat mengapung di atas air.
Filter air: Batu apung digunakan sebagai media filter pada sistem pengolahan air dan limbah karena memiliki struktur pori-pori yang sangat baik untuk menyaring kotoran dan zat kimia dari air.
Penahan tanah: Batu apung juga digunakan sebagai bahan penahan tanah dan penguat struktur tanah, khususnya pada proyek rekayasa sipil.
Bahan pupuk: Batu apung yang sudah dihancurkan dapat digunakan sebagai bahan pupuk karena mengandung nutrisi penting seperti nitrogen, kalium, dan fosfor.
Penghilang bau: Batu apung dapat digunakan sebagai penghilang bau pada air atau udara karena mampu menyerap dan menetralkan zat-zat yang menyebabkan bau.
Bahan abrasive: Batu apung dapat digunakan sebagai bahan abrasive pada produk pembersih seperti sabun dan pasta gigi karena memiliki permukaan yang kasar dan dapat membersihkan kotoran dengan efektif.
Demikianlah penjelasan mengenai batu apung. Batu apung sendiri merupakan batuan vulkanik yang berasald ari gunung berapi. Kamu bisa menemukannya di daerah dekat gunung berapi dan Indonesia terdapat di berbagai daerah. Semoga dapat menambah referensimu ya! (Umi)
