Pengertian Manggalaning Yadnya dalam Ajaran Hindu dan Penjelasannya

Penulis kumparan
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam ajaran agama Hindu, terdapat istilah Manggalaning Yadnya yang perlu dipahami oleh para umat. Salah satu pengetahuan dasar yang perlu dikuasai adalah pengertian Manggalaning Yadnya itu sendiri.
Pasalnya, istilah tersebut berkaitan erat dengan kegiatan keagamaan yang kerap dilakukan oleh umat Hindu. Jadi, dengan memahami istilah tersebut, maka artinya umat Hindu telah mengamalkan ajaran kitab Weda.
Pengertian Manggalaning Yadnya dalam Ajaran Hindu
Menilik secara etimologi, yadnya berasal dari bahasa Sansekerta yang berasal dari kata yaj, yakni pengorbanan dengan penuh cinta kasih. Jadi, bisa dipahami bahwa yadnya berarti pemujaan, persembahan, ataupun korban suci.
Mengutip dari buku Keberadaan Barong dan Rangda dalam Dinamika Religius Masyarakat Hindu Bali, Komang Indra Wirawan (2021:65), pengertian Manggalaning Yadnya adalah tiga unsur penting dalam pelaksanaan yadnya yang terdiri dari:
Sulinggih, yakni orang yang memimpin upacara dan memegang peran penting dalam menjalankan ritus dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan.
Sarati, yakni tukang banten yang bertugas membuat persembahan-persembahan yang akan digunakan dalam upacara. Mereka mempunyai tanggung jawab untuk menyediakan segala kebutuhan upacara.
Yajamana, yakni tuan rumah atau penyelenggara upacara yang bertanggung jawab atas pelaksanaan dan pembiayaan upacara.
Upacara ini dilaksanakan dengan penuh kesungguhan, ketulusan, dan juga tanpa pamrih, atau yang dikenal sebagai Satvika Yadnya. Adapun unsur-unsur yang khas dalam upacara Satvika Yadnya adalah sebagai berikut.
Pengorbanan yang tulus ikhlas.
Bhakti kepada Tuhan.
Penuh kedamaian dan kebahagiaan.
Pemahaman akan makna dan tujuan upacara yang didasarkan pada ajaran agama Hindu.
Sementara teks-teks kuno yang digunakan dalam upacara, seperti Yadnya Prakerti, Purwa Gumi Kemulan, Purwa Gama Sesana, Siwa Tattwa, dan Sanghyang Aji Swamandala, digunakan untuk memberi petunjuk dan pedoman penting dalam penyelenggaraan upacara.
Dalam praktiknya, upacara ini dapat diselenggarakan dengan menyesuaikan kemampuan dan keadaan yang sesungguhnya atau disebut juga dengan Desa Kala Patra. Namun, yang terpenting adalah adanya persembahan, seperti tetandingan banten, yang tetap harus memperhatikan konsep hulu teben.
Baca Juga: Mengenal Bagian-Bagian Upaweda dan Fungsinya bagi Umat Hindu
Demikian ulasan tentang pengertian Manggalaning Yadnya dalam ajaran Hindu. Semoga bermanfaat. (Anne)
