Konten dari Pengguna

Pengertian, Nilai-Nilai, dan Karakteristik Teks Hikayat

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://pixabay.com/users/ilovechile-travel-14315487/ - karakteristik teks hikayat
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/users/ilovechile-travel-14315487/ - karakteristik teks hikayat

Jika kamu membaca suatu teks hikayat, akan terlihat bahwa karakteristik teks hikayat memang memiliki ciri khas tertentu. Salah satu yang mungkin paling menonjol dari hikayat adalah banyak menceritakan kisah yang berlatar istana dan kerajaan.

Hikayat merupakan salah satu jenis prosa yang berkembang di Indonesia jauh sebelum cerpen atau novel ditulis. Bukan hanya di Indonesia, negara-negara yang masih serumpun dengan Indonesia seperti Philipina, Thailand, Brunei, dan Malaysia, juga memiliki jenis cerita ini.

Pengertian, Nilai-nilai, dan Karakteristik Teks Hikayat

Pengertian hikayat adalah karya sastra lama berbentuk prosa dari Melayu yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah yang bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis, atau gabungan dari sifat-sifat tersebut.

Hikayat umumnya digunakan sebagai pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta. Contoh hikayat antara lain yaitu "Hang Tuah", "Perang Palembang", dan "Seribu Satu Malam".

Ada hikayat yang sengaja ditulis untuk mendokumentasikan sesuatu, seperti silsilah kerajaan. Lalu, ada pula hikayat yang ditulis dengan jalan cerita yang dibuat-buat sesuai perintah dari raja, untuk membuat para musuh merasa takut, karena seolah-olah kerajaannya adalah yang paling perkasa. Hal ini dilakukan untuk menjaga kerajaannya dari serangan musuh.

Karena pada dasarnya hikayat berasal dari Melayu, maka hikayat banyak ditulis dalam Bahasa Melayu. Kemudian, hikayat banyak mengalami proses adaptasi dan terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia, dengan tujuan agar pembaca dapat lebih memahami isi dari hikayat tersebut.

https://pixabay.com/users/dariuszsankowski-1441456/

Nilai-Nilai dalam Hikayat

Melansir dari buku Bahasa Indonesia untuk Kelas X, Suherli, 2017, hikayat mengandung berbagai macam nilai yang bermanfaat bagi kehidupan, antara lain:

Nilai Moral

Hikayat banyak mengandung nilai moral yang dapat dijadikan cerminan untuk bersikap dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai Agama

Hikayat banyak mengajarkan nilai-nilai keagamaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan untuk mempertebal iman.

Nilai Sosial

Melalui hikayat, kita bisa banyak belajar mengenai nilai-nilai sosial yang dapat melatih kita menjadi manusia yang dapat bersosial dengan sesama manusia lainnya dengan baik.

Nilai Budaya

Nilai budaya merupakan nilai yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan di suatu wilayah tertentu. Karena hikayat berasal dari Melayu, maka kita bisa banyak belajar mengenai kebudayaan Melayu dengan membaca hikayat.

Karakteristik Hikayat

Kemustahilan

Teks hikayat banyak mengandung kemustahilan, baik dari segi bahasa maupun dari segi cerita. Kemustahilan berarti hal yang tidak logis atau tidak dapat diterima nalar. Contohnya seperti bayi lahir disertai pedang dan panah. Kemudian contoh lainnya yaitu seorang putri yang keluar dari gendang.

Anonim

Hikayat bersifat anonim, maksudnya adalah tidak diketahui secara jelas nama pencerita atau pengarang dari hikayat tersebut. Hal ini disebabkan karena tidak ada nama penulis yang jelas dalam hikayat tersebut dan cerita yang ditulis dalam hikayat pun disampaikan dari satu orang ke orang lain secara lisan.

Kesaktian

Tokoh dalam hikayat seringkali diceritakan memiliki kesaktian tertentu. Contohnya yaitu tokoh Garuda yang memiliki kemampuan merusak kerajaan dikalahkan oleh Syah Peri.

Istanasentris

Hikayat seringkali bersifat istanasentris yaitu bertema dan berlatar kerajaan. Tokoh-tokoh yang diceritakan dalam hikayat biasanya adalah raja, anak raja, atau prajurit yang hidup di sekitar kerajaan.

Arkais

Karakteristik teks hikayat yang terakhir adalah bahasanya. Bahasa yang digunakan dalam hikayat sudah jarang dipakai atau tidak lazim digunakan dalam komunikasi masa kini. Contohnya seperti hatta, titah, upeti, dan bejana. (DNR)