Pengertian Pupuh Sinom dan Contohnya dalam Kebudayaan Sunda

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pupuh sinom merupakan salah satu bentuk dari karya pupuh yang berasal dari kebudayaan Sunda. Secara sederhana, yang disebut dengan pupuh adalah puisi tradisional yang menggabungkan antara seni sastra dan lagu sunda. Pupuh memiliki rima serta jumlah suku kata yang membentuk sebuah pola pada setiap barisnya.
Melansir dari buku Sastra Sunda Buhun, Dedi Koswara, 2010, masyarakat Sunda mengenal karya pupuh bersamaan dengan tradisi wawacan, guguritan, undak-usuk bahasa yang lebih rumit, gamelan dan laras pelog-salendro. Pupuh Sunda sendiri biasa disebut juga dengan dangding, suku kata atau engang disebut guru wilangan, setiap larik atau baris disebut pada atau padalisan atau guru gatra, sementara permainan lagu berupa bunyi vokal akhir di tiap padalisan disebut guru lagu.
Pengertian Pupuh dalam Kebudayaan Sunda
Pengertian Pupuh sendiri adalah suatu puisi tradisional yang menggabungkan antara karya sastra dan lagu Sunda yang memiliki rima serta jumlah suku kata yang membentuk pola dalam setiap barisnya.
Ada sekitar 17 jenis pupuh dalam kebudayaan Sunda. Dari 17 jenis pupuh tadi, pupuh dapat digolongkan lagi menjadi 2 kelompok, yakni sekar ageung (besar) dan sekar alit (kecil). Sekar ageung terdiri dari 4 jenis pupuh, sedangkan 13 sisanya termasuk sekar alit.
Pupuh yang termasuk kelompok sekar ageung adalah pupuh yang saat dinyanyikan dapat menggunakan beberapa macam lagu, sedangkan pupuh yang termasuk sekar alit adalah pupuh yang hanya bisa dinyanyikan dengan satu macam lagu saja.
Pupuh Sinom dalam Kebudayaan Sunda
Pupuh sinom adalah jenis yang termasuk dalam golongan pupuh sekar ageung. Pupuh Sinom merupakan jenis pupuh yang menggambarkan rasa senang dan kegembiraan (gumbira) atau menggambarkan kasih sayang (kadeudeuh). Setiap bait (pada) dari pupuh sinom ini terdiri dari sembilan baris (padalisan).
Pupuh Sinom ini terikat dengan guru wilangan dan guru lagu yang membentuk pola 8-a, 8-i, 8-a, 8-i, 7-i, 8-u, 7-a, 8-i, 12-a. Angka yang terdapat pada pola tersebut menyimbolkan guru wilangan, sedangkan huruf menyimbolkan guru lagu.
Contoh Pupuh Sinom
Di wetan fajar balebat ( 8 – a )
Panon poe arek bijil ( 8 – i )
Sinarna ruhay burahay ( 8 – a )
Kingkilaban beureum kuning ( 8 – i )
Campur wungu saeutik ( 7 – i )
Kaselapan semu biru ( 8 – u )
Tanda Batara Surya ( 7 – a )
Bade lumungsur ka bumi ( 8 – i )
Murub mubyar langit sarwa hurung herang ( 12 – a )
dan
Mapag balebat ti wetan ( 8 – a )
Ngabring leumpang ngagaridig ( 8 – i )
Barudak rek sarakola ( 8 – a )
Kapireng pating hariring ( 8 – i )
Paheula heula nepi ( 7 – i )
Unggal isuk geus ngabaku ( 8 – u )
Bari garogonjakan ( 7 – a )
Estuning saruka ati ( 8 – i )
Sarerea hayang geura dialajar ( 12 – a )
Fungsi Pupuh Sinom antara lain sebagai nyanyian yang dinyanyikan dalam upacara keagamaan. Selain itu, Pupuh Sinom juga berfungsi sebagai penggambaran kebaikan dan kebenaran, amanat, nasihat, karma, dan sejarah. Melestarikan budaya Pupuh Sinom sendiri berarti turut melestarikan budaya bangsa. (DNR)
