Konten dari Pengguna

Pengertian Tawadhu, Ciri-ciri dan Manfaatnya

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang yang hidup apa adanya. https://www.flickr.com/
zoom-in-whitePerbesar
Orang yang hidup apa adanya. https://www.flickr.com/

Secara bahasa, pengertian tawadhu adalah ketundukan, tidak sombong dan rendah hati. Dikutip dari buku yang berjudul Hakikat Tawadhu dan Sombong menurut al-Qur'an dan as-Sunnah, Abu Usamah Salim bin ‘Ied al-Halali (2005:5), asal kata tawadhu adalah Tawaadha’atil ardhu yang berarti tanah itu lebih rendah dari tanah sekelilingnya. Maksud dari kata tersebut adalah manusia yang merendahkan dirinya dibandingkan orang lain.

Pengertian Tawadhu, Ciri-ciri dan Manfaatnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُوْنَ ثَوْبُهُ حَسَناً وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قاَلَ: إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat debu. Ada seorang yang bertanya, ‘Sesungguhnya setiap orang suka (memakai) baju yang indah, dan alas kaki yang bagus (apakah ini termasuk sombong?)’.

Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain’.”([HR. Muslim no. 91).

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (Al-Furqan ayat 63).

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Tidaklah seorang bersifat rendah hati (Tawadhu) karena Allah, kecuali Allah mengangkatnya.(HR Muslim).

Mengerjakan Tanpa bermewah-mewahan. https://www.flickr.com/

Menurut Imam An-Nawawi rahimahullah: “Hadits ini mempunyai dua makna:

Pertama: Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meninggikan derajatnya di dunia, dan mengokohkan sifat tawadhu’nya dalam hati hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat derajatnya di mata manusia.

Kedua: Pahala di akhirat, yakni Allah Azza wa Jalla akan mengangkat derajatnya di akhirat disebabkan tawadhu’nya di dunia. Oleh karena itu Ibnul Hâj rahimahullah menyatakan: Siapa yang menginginkan ketinggian, maka hendaknya bersifat rendah hati (tawadhu).

Ciri-ciri Tawadhu:

  1. Ia dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan, kekuatan serta peluang untuk berlaku sombong, tetapi ia tidak bersikap sombong karena mengharap keridhaan Allah.

  2. Tidak dilakukan secara berlebihan. Jika berlebihan, tawadhu bisa berubah menjadi sombong ataupun membanggakan diri.

  3. Tawadhu dilakukan pada waktu dan situasi yang tepat. Dalam hal ini, diperbolehkan berlaku sombong di depan orang yang sombong. Sebagaimana sikap berjalan tegap dengan gagah di depan musuh dalam peperangan.

Manfaat dan kemuliaan yang didapatkan seseorang yang tawadhu:

  1. Tawadhu’ adalah akhlak para nabi dan Rasul.

  2. Orang akan menyayangi orang yang tawadhu atau rendah hati dan tidak menyombongkan diri.

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865).

orang yang sedang berdoa. https://www.flickr.com/

3. Menjalankan Perintah Allah

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”. (asy-Syu’ara ayat 215).

4. Tawadhu adalah Perangai Ibadurrahman,

Dijelaskan dalam firman Allah:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba-hamba Alloh yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”. (al-Furqan ayat 63). Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan: “Firman Allah Azza wa Jalla berjalan di atas bumi dengan rendah hati yaitu mereka berjalan dengan tenang, penuh dengan ketawadhu’an, tidak congkak dan sombong”.

(MZM)