Konten dari Pengguna

Pengertian Tradisi Rebo Wekasan yang Berkembang di Masyarakat Jawa

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi Rebo Wekasan di Gresik, Jawa Timur. Sumber: https://disparbud.gresikkab.go.id/
zoom-in-whitePerbesar
Tradisi Rebo Wekasan di Gresik, Jawa Timur. Sumber: https://disparbud.gresikkab.go.id/

Di tanah Jawa, terdapat berbagai tradisi yang dilaksanakan untuk menghindari berbagai mara bahaya dan bencana, salah satunya adalah tradisi Rebo Wekasan. Tradisi Rebo Wekasan sudah berlangsung sejak lama. Selain itu pelaksanaan dari tradisi Rebo Wekasan juga terdapat di berbagai penjuru dunia dengan kegiatan masing-masing. Apakah yang dimaksud dengan tradisi Rebo Wekasan?

Pengertian Tradisi Rebo Wekasan

Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir pada bulan Safar, atau dalam kalender Jawa disebut bulan Sapar, dikenal akan banyaknya bahaya yang datang pada hari tersebut. Sebagaimana yang ditulis dalam buku berjudul Pendidikan Islam Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah karangan Subaidi (2018: 141), tradisi Rebo Wekasan merupakan tradisi yang dilaksanakan pada Rabu akhir bulan Safar agar dijauhkan dari segala bencana.

Dalam pelaksanaan tradisi Rebo Wekasan terdapat berbagai ritual yang dilakukan masyarakat Jawa, di antaranya berdoa bersama, mempersembahkan hasil bumi ke tempat-tempat yang dianggap keramat, dan juga makan bersama.

Tradisi Rebo Wekasan di Bantul, Yogyakarta. Sumber: https://argodadi.bantulkab.go.id/

Tradisi Rebo Wekasan ini berdasarkan beberapa kitab yang menjelaskan bahwa, pada hari Rabu akhir bulan Safar Allah SWT menurunkan sebanyak 320.000 bencana. Sehingga pada hari tersebut dianggap sebagai hari yang sangat berat.

Namun perlu diketahui bahwa anggapan tentang hari Rabu terakhir bulan Safar adalah bulan yang penuh dengan bencana tidaklah benar. Seperti yang dijelaskan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati itu rohnya menjadi burung yang terbang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari hadist tersebut menjelaskan bahwa bulan Safar sama seperti bulan-bulan lainnya. Adanya penyakit menular maupun bencana hanya Allah SWT yang tahu.

Hari Rabu terakhir pada bulan Safar bukanlah hari di mana bencana datang, namun hari tersebut sama seperti hari-hari lainnya. Adapun kegiatan-kegiatan seperti berdoa dan berdzikir kepada Allah SWT sepatutnya tidak hanya dilaksanakan pada hari tersebut, namun dilaksanakan setiap harinya, karena tidak ada yang tahu kapan bencana datang kecuali dari ketetapan Allah. (MZM)