Peradaban Zaman yang Didukung oleh Homo Soloensis dan Homo Wajakensis

Penulis kumparan
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam setiap periode zaman Prasejarah terdapat jenis-jenis manusia purba yang berbeda. Homo soloensis dan Homo wajakensis merupakan pendukung peradaban zaman Paleolitikum. Simak ulasannya melalui tulisan berikut ini.
Baca juga: Mengenal Zaman Aluvium, Ketika Manusia Purba Homo Sapiens Muncul.
Manusia Purba Homo Soloensis dan Homo Wajakensis Merupakan Pendukung Peradaban Zaman Paleolitikum
Homo soloensis dan Homo wajakensis merupakan pendukung peradaban zaman Praaksara. Diambil dari buku Top One SBMPTN SOSHUM 2019 yang disusun oleh Forum Tentor Indonesia (2018:177), zaman Praaksara adalah masa ketika manusia belum mengenal tulisan.
Berdasarkan alat-alat kehidupannya, zaman Praaksara terbagi menjadi dua, yaitu zaman Batu dan zaman Logam. Yang termasuk dalam golongan zaman Batu adalah zaman Paleolitikum.
Pada zaman Paleolitikum (zaman Batu Tua), kehidupan manusia purba masih sangat primitif dan sederhana. Dicirikan dengan kehidupan yang berpindah-pindah tempat (nomaden) dan mengumpulkan makanan yang bisa diperoleh dari alam (food gathering). Di Indonesia, kebudayaan Paleolitikum ditemukan di Pacitan dan Ngandong.
Manusia purba yang hidup di zaman Paleolitikum antara lain Homo wajakensis dan Homo soloensis. Berdasarkan buku Sejarah 1 yang disusun oleh Sardiman (2007:80), berikut adalah ciri-ciri manusia purba dalam kelompok Homo.
Memiliki muka dan hidung yang lebar.
Tinggi badan kurang lebih 130-210 cm dengan berat badan sekitar 30-150 kg.
Isi tengkorak berkisar 1000-2000 cc.
Tulang dahi dan bagian belakang tengkorak sudah membulat dan tinggi.
Alat pengunyah, rahang, gigi, dan otot tengkuk sudah mengecil.
Muka tidak begitu menonjol ke depan.
Berjalan dan berdiri dengan tegak secara sempurna.
Mereka sudah membuat alat-alat dari batu atau tulang.
Di Indonesia, ada beberapa tempat penemuan kelompok Homo yang penyebutannya disesuaikan dengan tempat ditemukannya. Contohnya kelompok Homo yang ditemukan di Wajak tahun 1889, dinamakan Homo wajakensis (Manusia Wajak) dan diperkirakan sebagai nenek moyang dari ras Australoid, yaitu penduduk asli Australia.
Contoh lain adalah kelompok Homo yang ditemukan di dekat Solo yang dinamakan Homo soloensis (Manusia Solo). Homo soloensis memiliki pola hidup, peralatan, dan hasil kebudayaan yang sudah lebih sempurna.
Homo soloensis dan Homo wajakensis merupakan pendukung peradaban zaman Paleolitikum. Penamaannya disesuaikan dengan wilayah penemuan kedua jenis manusia purba tersebut. (DK)
