Konten dari Pengguna

Perbedaan Orator dan Audiensi dalam Seni Berkomunikasi

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perbedaan orator dan audiensi dalam seni berkomunikasi. Sumber: www.unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perbedaan orator dan audiensi dalam seni berkomunikasi. Sumber: www.unsplash.com

Kata komunikasi berasal dari bahasa latin “communico” yang dalam bahasa Inggris berarti “ to share”. Komunikasi dapat diartikan sebagai proses memberi dan menerima dari pihak yang satu kepada pihak lain. Seni berkomunikasi di era ini sering di kenal dengan kemampuan Public Speaking atau Retorika. Public Speaking adalah bakat tertinggi manusia, melalui bahasa sebagai insturumen untuk berkomunikasi dalam kehidupan. Dalam seni berkomunikasi Public Speaking sering muncul istilah orator dan audiensi. Apa perbedaan orator dan audiensi?

Berdasarkan buku yang berjudul Public Speaking karya Nieke Monika Kulsum, S.E., M.S Public Speaking adalah kemampuan berbicara di depan banyak orang, menyampaikan pesan yang dapat dimengerti dan dipercaya oleh publik pendengarnya.

Perbedaan Orator dan Audiensi dalam Seni Berkomunikasi

Seni bekomunikasi terbagi menjadi 2 yaitu ada yang satu arah dan ada yang dua arah. Komunikasi dua arah terjadi ketika komunikasi tersebut bersifat timbal balik dan melibatkan dua pihak, seperti dalam kegiatan diskusi, musyawarah, debat dan sebagainya. Sedangkan komunikasi satu arah adalah komunikasi yang berlangsung pada satu pihak saja, seperti ketika penyampaian berita melalui televisi, radio dan beberapa dalam setting pidato dan ceramah disuatu event yang mana pendengar tidak diberikan kesempatan untuk bertanya.

Perbedaan orator dan audiensi dalam seni berkomunikasi berkaitan dengan hal ini yang sering menjadi perdebatan. Berikut penjelasan untuk dapat membedakan kedua hal tersebut.

Orator dalam Seni Berkomunikasi

Ada beberapa setting dalam Public Speaking salah satunya adalah setting monologika dan dialogika. Pada kedua setting ini, orator adalah orang yang mahir berbicara di hadapan umum biasa adalah para tokoh yang diakui oleh orang sekitar.

Orator adalah pihak yang mendominasi dalam menyampaikan pesan, tidak ada tanggapan dari pihak kedua, bersifat satu arah dalam proses penyampaian, alur penyampaian tidak seimbang, karena penerima pesan hanya menjadi pendengar yang setia, mengharapkan proses penyampaian pesan yang rasional, empatik dan juga respektif, mengharapkan penyampaian pesan yang aktual, mengharapkan kemampuan akting sang orator, berorientasi menyampaikan informasi, berorientasi memenuhi kebutuhan informatif dan rekreatif, kecuali orator membuka kesempatan bagi sipenerima pesan untuk bertanya.

Orator harus memiliki keterampilan yang baik dalam berkomunikasi. Orator sebagai sumber informasi dan sebagai pemberi informasi harus dapat menyampaikan pesan dan makna komunikasi tersebut dengan jelas, padat dan tepat. Orator biasanya mampu mengubah emosi dan mood para pendengar mereka dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Tidak jarang seorang orator bisa menggerakkan masa melalui ucapan yang mereka keluarkan, hal ini terjadi karena mereka telah memiliki reputasi yang baik. Keberhasilan orator dapat dilihat dari sebera puas dan banyaknya informasi yang didapat dan berguna bagi pendengar.

Ada lima metode bagi orator agar dapat menggugah perhatian audiensi, yaitu:

  1. Introduksi pribadi. Dengan pembukaan yang menggunakan metode pengenalan diri ini, orator telah menarik perhatian para audiensi. Namun perlu dhati-hati dalam penggunaan metode ini apabila berbicara mengenai diri sendiri akan menjurus pada usaha untuk membenarkan diri sendiri, meminta maaf, atau menjurus pada kesombongan dan pembualan.

  2. Menyinggung peristiwa setempat. Ini merupakan suatu teknik yang mudah dan spontan, terutama digunakan pada saat-saat yang penting dan berarti.

  3. Menyampaikan topik pembicaraan Ini merupakan cara yang paling logis dan umum.Dengan metode ini pendengar akan ditarik perhatiannya pada topik yang akan di bahas. Dapat digunakan pada hampir setiap keadaan dan situasi yang berhasil memuaskan pendengar.

  4. Menyampaikan humor. Pembukaan yang mengandung humor sering digunakan pada peristiwaperistiwa yang santai dan bersahabat.

  5. Menyampaikan kalimat filosofis.

Ilustrasi perbedaan orator dan audiensi dalam seni berkomunikasi. Sumber: www.unsplash.com

Audiensi dalam Seni Berkomunikasi

Dalam KBBI pengertian audiensi adalah sebagai berikut,

Audiensi: (1) n pengunjung atau pendengar suatu ceramah dan sebagainya, (2) n kunjungan kehormatan. Dalam seni berkomunikasi audiensi yang bertindak sebagai pendengar atau penerima informasi. Dalam sebuah seminar, pidato, kampanye dan sebagainya audiens dianggap sebagai objek yang harus dapat memahami pesan yang disampaikan oleh orator. Audiensi adalah pihak yang terbatas dalam menyampaikan persepsinya kecuali orator memberikan kesempatan dalam waktu yang akan cukup singkat. Audiensi harus mampu menangkap makna dari pidato atau ceramah yang disampaikan dalam kegiatan yang sedang diikuti.

Dalam beberapa setting bentuk komunikasi audiensi ada beberapa:

  1. Sebagai pendengar informasi yang disampaikan orator.

  2. Melakukan komunikasi antar anggota audiens, yaitu komunikasi yang terjadi di dalam kelompok audiens ketika pembicara berbicara.

  3. Memberikan Feedback, yaitu umpan balik audiens pada pembicara.

  4. Memberikan pertanyaan pada orator ketika dibukanya sesi tanya jawab.

Kesimpulannya orator adalah seorang yang menyampaikan pidato atau ceramah, sedangkan audiensi adalah pendengar suatu ceramah atau pidato.(NDA)