Persamaan Kebijakan Belanda dan Portugis dalam Bidang Ekonomi di Nusantara

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belanda dan Portugis adalah dua bangsa yang pernah menjajah Indonesia. Kedua bangsa ini memiliki persamaan kebijakan di bidang ekonomi. Persamaan kebijakan Belanda dan Portugis dalam bidang ekonomi di Nusantara, yaitu sistem monopoli perdagangan.
Sistem monopoli yang dilakukan oleh kedua bangsa ini sama-sama membuat rakyat sengsara. Bagaimanapun juga, ada perbedaan penerapan di antara kedua sistem tersebut menurut sejarah.
Sejarah Persamaan Kebijakan Belanda dan Portugis dalam Bidang Ekonomi di Nusantara
Seperti yang telah dibahas di atas, persamaan kebijakan Belanda dan Portugis dalam bidang ekonomi di Nusantara, yaitu sistem monopoli perdagangan. Berikut penjelasan selengkapnya.
1. Sistem Monopoli Perdagangan oleh Bangsa Belanda
Monopoli perdagangan oleh Belanda telah dimulai sejak para pedagang dari bangsa tersebut berdatangan sesudah Cornelis de Houtman mendarat dan merebutkan perdagangan rempah. Bagaimanapun juga, hal tersebut baru berubah menjadi penjajahan saat VOC didirikan
Menurut buku Ke Timur Haluan Menuju, Hikmat Budiman (2019: 21-22), Belanda mendirikan the Dutch East India Company atau VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie) pada tahun 1602 dan mampu beroperasi hingga hampir dua abad.
VOC menetapkan berbagai kebijakan untuk mendukung sistem monopoli perdagangan di Indonesia. Salah satunya adalah rakyat Indonesia wajib untuk membayar pajak berbentuk hasil bumi. Sistem ini membuat VOC mampu menguasai hampir seluruh daerah di Indonesia.
Baca juga: Jawaban Soal Jelaskan Tujuan Didirikannya VOC
2. Sistem Monopoli Perdagangan oleh Bangsa Portugis
Bangsa Portugis datang ke Indonesia pada tahun 1509 untuk menguasai perdagangan rempah-rempah. Sistem monopoli pun mulai dilakukan dengan pengiriman dua armada oleh Alfonso de Albuquerque.
Salah satu armada tersebut pergi ke Maluku untuk mencari cengkeh. Di sana, armada ini menjalin kesepakatan dengan Sultan Aby Lais agar rakyat Maluku menyediakan cengkeh untuk bangsa Portugis. Imbalannya adalah pembangunan benteng di Ternate.
Bagaimanapun juga, kesepakatan tersebut diakhiri Sultan Baabullah . Hal ini disebabkan oleh terjadinya konflik secara terus menerus karena Portugis ingin memonopoli perdagangan.
Kesimpulannya, persamaan kebijakan Belanda dan Portugis dalam bidang ekonomi di Nusantara, yaitu sistem monopoli perdagangan. Namun, cara yang dilakukan kedua bangsa tersebut berbeda. (LOV)
