Konten dari Pengguna

Profil Cardinal Zuppi, Prelatus Gereja Katolik Italia

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Profil Cardinal Zuppi, Foto: Unsplash/shengxiao wu.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Profil Cardinal Zuppi, Foto: Unsplash/shengxiao wu.

Profil Cardinal Zuppi menarik perhatian publik setelah viral di media sosial sebagai kandidat calon paus. Sosoknya dikenal luas bukan hanya karena kiprahnya di dalam Gereja Katolik, tetapi juga perannya dalam isu-isu kemanusiaan dan perdamaian.

Dengan gaya kepemimpinan yang rendah hati dan sikapnya yang dekat dengan umat, Zuppi dianggap sebagai figur yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai tradisi gereja.

Profil Cardinal Zuppi: Kandidat Calon Paus yang Sedang Jadi Sorotan Dunia

Ilustrasi Profil Cardinal Zuppi, Foto: Unsplash/wwing.

Profil Cardinal Zuppi menjadi sorotan publik setelah diusulkan menjadi salah satu kandidast calon paus. Cardinal Matteo Maria Zuppi, bintang yang naik dengan cepat dalam jajaran episkopat Italia, seorang prelatus Italia yang sangat berada pada sayap politik kiri gereja.

Dikutip dari laman press.vatican.va, Cardinal Matteo Maria Zuppi, Uskup Agung Bologna, Italia, lahir di Roma pada 11 Oktober 1955, sebagai anak kelima dari enam bersaudara.

Pada tahun 1973, saat masih menjadi siswa di Liceo Virgilio, ia bertemu dengan Andrea Riccardi, pendiri Komunitas Sant’Egidio.

Dari sanalah ia mulai mengunjungi komunitas tersebut dan ikut berkolaborasi dalam berbagai kegiatan pelayanan bagi kaum yang terpinggirkan.

Mulai dari sekolah rakyat untuk anak-anak miskin di daerah kumuh Roma, hingga inisiatif untuk para lansia yang hidup sendiri dan tidak mandiri, untuk para imigran dan tunawisma, penderita sakit keras dan kaum nomaden, penyandang disabilitas dan pecandu narkoba, para narapidana, serta korban konflik.

Ia juga turut terlibat dalam kegiatan ekumenis untuk persatuan umat Kristen dan dalam dialog antaragama yang kemudian berkembang dalam pertemuan di Assisi.

Pada usia 22 tahun, setelah menyelesaikan studi Sastra dan Filsafat di Universitas Roma “La Sapienza” dengan tesis mengenai sejarah Kekristenan, ia masuk seminari Keuskupan Suburbikaria Palestrina.

Ia juga mengikuti pendidikan persiapan imamat di Universitas Kepausan Lateran, tempat ia meraih gelar sarjana Teologi. Lalu, ia ditahbiskan sebagai imam untuk Keuskupan Palestrina pada 9 Mei 1981 di Katedral Sant’Agapito Martire oleh Uskup Renato Spallanzani.

Segera setelah itu, ia diangkat menjadi vikaris paroki di Basilika Romawi Santa Maria in Trastevere, mendampingi Pastor Paroki Monsignor Vincenzo Paglia.

Ketika Monsignor Paglia terpilih menjadi uskup pada tahun 2000, sudah sewajarnya jika “Don Matteo,” sebutan akrabnya hingga kini, mengambil alih peran sebagai pastor paroki, jabatan yang ia emban selama sepuluh tahun.

Setelah diinkardinasi ke dalam Keuskupan Roma pada 15 November 1988, ia juga menjabat sebagai Rektor Gereja Santa Croce alla Lungara dari 1983 hingga 2012 serta anggota dewan imam keuskupan dari 1995 hingga 2012.

Selama periode kedua jabatannya sebagai pastor paroki di Trastevere, yaitu antara 2005 hingga 2010, ia juga menjadi Prefek Prefektur Ketiga Roma.

Selain itu, dari tahun 2000 hingga 2012 ia bertugas sebagai Asisten Gerejawi Umum Komunitas Sant’Egidio, setelah sebelumnya terlibat sebagai mediator bersama Andrea Riccardi dalam proses perdamaian di Mozambik, yang berhasil mengakhiri lebih dari tujuh belas tahun perang saudara yang berdarah.

Baca Juga: Profil Ria Saptarika, Anggota DPD RI Mantan Wakil Walikota Batam

Itulah profil Cardinal Zuppi, prelatus gereja Katolik Italia, yang pernah diusulkan untuk menjadi calon paus. (Umi)