Profil PM Jepang Shigeru Ishiba yang Mengundurkan Diri dari Jabatan

Penulis kumparan
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba mengumumkan mundur dalam konferensi pers pada 7 September 2025. Profil PM Jepang Shigeru Ishiba yang mengundurkan diri menjadi sorotan publik karena terkait dinamika politik nasional.
Keputusan itu muncul setelah penandatanganan nota kesepahaman investasi Jepang-AS dan negosiasi tarif. Situasi politik yang penuh tekanan dianggapnya sebagai alasan mendasar pengunduran diri dari jabatan.
Melalui Panduan Lengkap Freelancer, Micho W Putra (2025) menjelaskan profil dibuat untuk memberikan kesan agar seseorang terlihat kredibel. Kredibilitas ini yang nantinya akan mendatangkan kepercayaan terhadap dirinya.
Profil PM Jepang Shigeru Ishiba yang Mengundurkan Diri: Latar Belakang dan Karier Politiknya
Profil PM Jepang Shigeru Ishiba yang mengundurkan diri dimulai dari tempat dan tanggal lahirnya, yakni di Tokyo pada 4 Februari 1957 sebelum pindah ke Prefektur Tottori. Ayahnya, Jiro Ishiba, adalah politisi yang pernah menjabat Menteri Dalam Negeri Jepang.
Pendidikan dasar dan menengah ditempuh di Tottori, kemudian melanjutkan ke SMA Keio hingga Universitas Keio. Setelah lulus pada 1979, Ishiba bekerja empat tahun di Mitsui Bank sebelum masuk dunia politik.
1. Awal Mula Karier Politik
Kariernya dimulai setelah kematian sang ayah dengan dorongan mentor politik Tanaka Kakuei. Ishiba terpilih menjadi anggota DPR pada 1986, lalu mengemban beragam posisi menteri penting.
Meski pernah keluar dari LDP tahun 1993, Ishiba kembali lagi pada 1997. Pada 2015 membentuk faksi Suigetsukai, namun kurang berkembang karena dianggap minim jejaring internal.
2. Menjadi Perdana Menteri
Ishiba menjabat perdana menteri ke-102 pada 1 Oktober 2024 menggantikan Fumio Kishida. Ishiba membubarkan parlemen dan menggelar pemilu cepat, meski LDP kehilangan mayoritas besar kursi.
Pemerintahannya dikenal dengan anggaran terbesar dalam sejarah Jepang dan fokus jaminan sosial. Ishiba juga mendorong pengakuan hukum pasangan sesama jenis meski menolak legalisasi pernikahan penuh.
3. Krisis Politik dan Pengunduran Diri
Kebijakan terhadap Amerika Serikat memicu kritik karena dianggap terlalu lunak menghadapi tarif. Skandal distribusi voucher serta konflik diplomatik internasional menambah penurunan tingkat kepuasan publik.
Setelah kekalahan LDP dalam pemilu majelis tinggi Juli 2025, popularitas Ishiba semakin merosot. Dukungan publik hanya mencapai 23 persen sehingga posisinya makin terdesak oleh senior partai.
Baca juga: Siapa Pangeran Hisahito? Ini Profilnya yang Menarik
Profil PM Jepang Shigeru Ishiba yang mengundurkan diri ini mencerminkan tantangan berat kepemimpinan modern. Pengunduran dirinya menjadi pelajaran tentang kompleksitas politik serta pentingnya menjaga stabilitas pemerintahan. (HAN)
