Puasa Sunah Bulan Muharram: Tasua dan Asyura

Penulis kumparan
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan Muharram merupakan awal pembuka atau tahun baru dalam kalender Hijriyah. Bulan Muharram diyakini merupakan salah satu bulan istimewa yang dianjurkan untuk melakukan beberapa amalan sunah salah satunya adalah puasa. Pada bulan Muharram tepatnya tanggal 9 dan 10 dianjurkan untuk melaksanakan puasa tasua dan asyuro.
Berikut adalah penjelasan mengenai amalan puasa sunah bulan Muharram, yaitu puasa tasua dan puasa asyura.
Dikutip dari buku Dahsyatnya Puasa Sunah, Amirulloh Syarbini, Lis Nue’aeni Afgani (2010: 94), Raasulullah SAW pertama kali hijrah ke Madinah pada bulan Muharram sehingga dijadikan awal penanggalan tahun Hijriyah dalam Islam. Allah SWT sangat memuliakan bulan Muharram sampai disebut dengan bulan Allah atau Syahrullah. Pada bulan ini dilarang adanya peperangan dan disunnahkan pada bulan mulia ini untuk mengerjakan puasa sunnah seperri sabda Rasulullah SAW:
“Sebaik-baiknya puasa setelah bulan Ramadhan adalah pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Puasa Sunah Bulan Muharram
Puasa tasua merupakan puasa yang dikerjakan pada tanggal 9 setiap bulan Muharram, untuk mendampingi puasa asyura pada tanggal 10 Muharram. Mengapa harus didampingi dengan puasa tasua karena pada hari tersebut atau pada 10 Muharram, orang-orang Yahudi juga melakukan puasa. Agar membedakan dengan mereka maka didamping puasa tasua.
Puasa Asyura
Puasa asyura dilakukan pada tanggal 10 Muharram atau juga biasa disebut dengan Hari Asyura. Pada hari itu terjadi peristiwa penting yaitu Nabi Adam as diciptakan, Nabi Ibrahim dilahirkan, Nabi Ayyub disembuhkan dan beberapa peristiwa besar lainnya.
Rasulullah SAW pada Hari Asyuro berpuasa selama 2 hari yaitu tanggal 9 dan 10 untuk membedakan dengan orang Yahudi.
Rasulullah SAW pernah bertanya mengapa seorang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram lantas mereka menjawab:
“Allah telah melepaskan Musa dan umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir'aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa pada hari itu, dalam rangka bersyukur kepada Allah'. Nabi bersabda, 'Aku lebih berhak terhadap Musa dari mereka'. Maka Nabi pun berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabatnya agar berpuasa juga.”
Demikian pembahasan mengenai puasa sunah bulan Muharram, dimana ada puasa tasua dan puasa asyuro yang membuat beda dengan yang dilakukan oleh kaum Yahudi. (WWN)
