Konten dari Pengguna

Puisi Bahasa Jawa Tentang Guru dan Tata Cara Penyusunannya

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi puisi. Foto. dok. stockcam (Unsplash.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi puisi. Foto. dok. stockcam (Unsplash.com)

Puisi bahasa Jawa tentang guru merupakan salah satu materi yang dipelajari untuk mengenal keragaman karya sastra Jawa. Untuk memahaminya lebih dalam, berikut ini adalah contoh puisi bahasa Jawa tentang guru lengkap dengan cara menyusunnya yang benar.

Puisi bahasa Jawa tentang Guru Lengkap dengan Tata Cara Penyusunannya

Puisi merupakan jenis karya sastra yang dibuat sebagai media ekspresi penyair. Maka dari itu, puisi dibuat dengan susunan bahasa dan kata khusus guna menyampaikan pesan kepada pembaca.

Ilustrasi puisi tentang guru. Foto. dok. Elisaveta Ivanova (Unsplash.com)

Penjelasan lengkap mengenai puisi yang tertulis dalam buku berjudul Seni Mengenal Puisi yang disusun oleh Agnes Pitaloka dan Amelia Sundari (2020:9) yang memaparkan bahwa puisi secara umum merupakan suatu karya yang berasal dari ungkapan atau curahan hati penyair.

Tak hanya itu, puisi juga dapat diartikan sebagai bentuk ekspresi diri yang menggambarkan keresahan, imajinasi, kritik, pemikiran, pengalaman, kesenangan ataupun nasehat seseorang. Puisi umumnya tersusun atas bahasa yang indah dan padat makna. Di Indonesia, puisi tak hanya ditulis dalam bahasa Indonesia, namun juga dalam bahasa daerah. Salah satunya bahasa Jawa.

Puisi yang ditulis dengan bahasa Jawa disebut dengan nama geguritan. Pengertian geguritan dipaparkan secara rinci dalam buku berjudul Pujangga Hujan: Teori dan Apresiasi Puisi yang disusun oleh Roy Sari Milda, ‎Tim Antologi Puisi Hujan (2019: 29) bahwa geguritan yang berasal dari bahasa Jawa Tengahan, kata dasar: gurit, berarti "tatahan", "coretan" ini merupakan bentuk yang berkembang di kalangan penutur bahasa Jawa dan Bali.

Lebih lanjut, dalam buku tersebut menjelaskan bahwa geguritan berkembang dari tembang, sehingga dikenal beberapa geguritan yang berbeda. Pengertian geguritan di Jawa berkembang menjadi sinonim dengan puisi bebas, yaitu puisi yang tidak mengikatkan diri pada aturan metrum, sajak, serta lagu.

Ilustrasi menulis puisi tentang guru. Foto. dok. brazzo (Unsplash.com)

Tak hanya itu, geguritan juga dikenal sebagai sastra klasik. Sebagai suatu karya sastra klasik, geguritan yang terdiri dari pupuh-pupuh, terikat oleh padalingsa dan membentuk suatu jalinan cerita sehingga geguritan tersebut dikatakan sebagai puisi naratif.

Puisi disusun sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan penyair pada pembaca, umumnya terdiri dari pembuka, isi dan penutup. Untuk lebih memahami bagaimana susunan puisi bahasa Jawa, mari kita simak contoh puisi bahasa jawa tentang guru berikut ini.

Guruku Oborku

Kadya ron garing

Kumleyang kabur kanginan

Ing jagat peteng lelimengan.

Krasa luwih abot

Anggonku ngadhepi dina-dina ing ngarep

Mlakuku ora mantep.

Kagubet ribet lan ruwet

Adoh saka cahyamu

Pedhut ing sakindering pandulu

Panjenengan.

Guruku, sihku, oborku

Kancanana sukmaku sinau bab katresnan sajroning ati.

Pemaparan mengenai puisi bahasa Jawa tentang guru ini dapat Anda jadikan sebagai panduan untuk menyusun puisi dengan baik agar pesan yang tertulis di dalamnya sampai ke penulis dengan baik. (DAP)