Konten dari Pengguna

Puisi Hari Buruh 1 Mei Penuh Makna

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Puisi Hari Buruh, Foto: Unsplash/FreshSplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Puisi Hari Buruh, Foto: Unsplash/FreshSplash.

Setiap tanggal 1 Mei seluruh masyarakat Indonesia memperingati Hari Buruh atau May Day. Hari Buruh menjadi momen penting untuk mengenang dan menghargai perjuangan para pekerja. Salah satu cara merayakannya bisa dengan membaca puisi Hari Buruh.

Puisi merupakan gambaran atau ungkapan isi hati penulisnya. Para pembacanya juga bisa ikut hanyut dalam tulisan yang ingin disampaikan penulisnya.

Puisi Hari Buruh

Ilustrasi Puisi Hari Buruh, Foto: Unsplash/DragonImages.

Peristiwa Haymarket yang terjadi pada 4 Mei 1886 di Chicago, Amerika Serikat, menjadi pemicu penting dalam sejarah Hari Buruh Internasional.

Di Indonesia, Hari Buruh sendiri pertama kali diperingati pada 1920 oleh Serikat Buruh Kung Tang Hwee di bawah masa kolonial Hindia Belanda.

Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk memperingati Hari Buruh, salah satunya melalui puisi. Dikutip dari buku Puisi-Puisi Kaum Buruh karya Sandi Ahsa (2021: 9), berikut adalah puisi Hari Buruh 1 Mei.

Puisi 1

Berkelana Bersama Amplop Coklat Tua

Halaman koran di Sabtu pagi

Diantara pisang goreng dan kopi

Kolom iklan lowongan kerja dibuka

Mata yang terus membaca

Di kertas folio tergores jejak tinta

Surat lamaran kerja

Daftar riwayat hidup

Kepada jari yang lelah aku tidak merasa iba

Ke kantor pos, puluhan amplop coklat tua itu dibawa

Sebagian ikut berkelana

Naik angkot dan bus

Menelusuri jalan, pabrik dan perkantoran

Banyak yang tidak mujur nasibnya

Tragis, miris

Lebih banyak yang terjebak di pos jaga

Tidak pernah dibuka

Mereka akan berakhir di gudang-gudang

Menumpuk buntu tanpa kepastian

Puisi 2

Isyarat

Peringatan Jika rakyat pergi Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh Itu artinya sudah gawat

Dan bila omongan penguasa Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!

Puisi 3

Buruh

Di batas desa

pagi-pagi

dijemput truk

dihitung seperti pesakitan

diangkut ke pabrik

begitu seterusnya

Mesin terus berputar

pabrik harus berproduksi

pulang malam

badan loyo

nasi dingin

Bagaimana kalau anak sakit

bagaimana obat

bagaimana dokter

bagaimana rumah sakit

bagaimana uang

bagaimana gaji

bagaimana pabrik? mogok?

pecat! mesin tak boleh berhenti

maka mengalirlah tenaga murah

mbak Ayu kakang dari desa

Baca Juga: Apakah Hari Buruh Tanggal Merah? Ini Penjelasannya

Itulah deratan puisi Hari Buruh yang bisa dibagikan di media sosial. Puisi ini bisa diresapi untuk mengenang dan menghargai para pekerja. (Umi)