Puisi Hari Buruh 1 Mei Penuh Makna

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tanggal 1 Mei seluruh masyarakat Indonesia memperingati Hari Buruh atau May Day. Hari Buruh menjadi momen penting untuk mengenang dan menghargai perjuangan para pekerja. Salah satu cara merayakannya bisa dengan membaca puisi Hari Buruh.
Puisi merupakan gambaran atau ungkapan isi hati penulisnya. Para pembacanya juga bisa ikut hanyut dalam tulisan yang ingin disampaikan penulisnya.
Puisi Hari Buruh
Peristiwa Haymarket yang terjadi pada 4 Mei 1886 di Chicago, Amerika Serikat, menjadi pemicu penting dalam sejarah Hari Buruh Internasional.
Di Indonesia, Hari Buruh sendiri pertama kali diperingati pada 1920 oleh Serikat Buruh Kung Tang Hwee di bawah masa kolonial Hindia Belanda.
Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk memperingati Hari Buruh, salah satunya melalui puisi. Dikutip dari buku Puisi-Puisi Kaum Buruh karya Sandi Ahsa (2021: 9), berikut adalah puisi Hari Buruh 1 Mei.
Puisi 1
Berkelana Bersama Amplop Coklat Tua
Halaman koran di Sabtu pagi
Diantara pisang goreng dan kopi
Kolom iklan lowongan kerja dibuka
Mata yang terus membaca
Di kertas folio tergores jejak tinta
Surat lamaran kerja
Daftar riwayat hidup
Kepada jari yang lelah aku tidak merasa iba
Ke kantor pos, puluhan amplop coklat tua itu dibawa
Sebagian ikut berkelana
Naik angkot dan bus
Menelusuri jalan, pabrik dan perkantoran
Banyak yang tidak mujur nasibnya
Tragis, miris
Lebih banyak yang terjebak di pos jaga
Tidak pernah dibuka
Mereka akan berakhir di gudang-gudang
Menumpuk buntu tanpa kepastian
Puisi 2
Isyarat
Peringatan Jika rakyat pergi Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat bersembunyi Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat berani mengeluh Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!
Puisi 3
Buruh
Di batas desa
pagi-pagi
dijemput truk
dihitung seperti pesakitan
diangkut ke pabrik
begitu seterusnya
Mesin terus berputar
pabrik harus berproduksi
pulang malam
badan loyo
nasi dingin
Bagaimana kalau anak sakit
bagaimana obat
bagaimana dokter
bagaimana rumah sakit
bagaimana uang
bagaimana gaji
bagaimana pabrik? mogok?
pecat! mesin tak boleh berhenti
maka mengalirlah tenaga murah
mbak Ayu kakang dari desa
Baca Juga: Apakah Hari Buruh Tanggal Merah? Ini Penjelasannya
Itulah deratan puisi Hari Buruh yang bisa dibagikan di media sosial. Puisi ini bisa diresapi untuk mengenang dan menghargai para pekerja. (Umi)
