Konten dari Pengguna

Puisi Hari Kemerdekaan Indonesia: Karawang Bekasi oleh Chairil Anwar

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi puisi. Sumber: unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi puisi. Sumber: unsplash.com

Chairil Anwar lahir di Medan 26 Juli 1922. Chairil Anwar adalah salah satu penyair legendaris di Indonesia. Kita mengenal sajak-sajaknya saat kita masih di bangku sekolah. sajaknya sering dijadikan bahasan topik puisi dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Karya-karya Chairil Anwar juga sering dibacakan di depan umum, baik dalam perlombaan baca puisi atau dalam acara peringatan kemerdekaan.

Berdasarkan buku Chairil Anwar, Penyair Legendaris oleh Neni Suhaeni (Nuansa Cendekia, 2020:35-36), Chairil Anwar seringkali disebut sebagai pelopor angkatan 45 dalam sastra Indonesia. Selain itu, ia juga dinobatkan sebagai pelopor puisi modern Indonesia. Karya-karya Chairil Anwar tidak hanya dibaca di Indonesia namun juga diterjemahkan ke berbagai bahsa asing.

Hal ini membuktikan, Chairil Anwar bukan hanya penyair legendaris di negara salnya namun juga sudah diakui dunia. Meskipun hidupnya tergolong singkat dan meninggal dalam usia muda, Chairil Anwar tetap meninggalkan jejak yang sangat berarti bagi dunia sastra dan kepenyairan di Indonesia.

Puisi Karawang Bekasi oleh Chairil Anwar

Salah satu puisi karya Chairil Anwar yang sering dibacakan dan dibahas menjelang peringatan Kemerdekaan adalah Karawang Bekasi. Berikut ini adalah puisi Krawang-Bekasi karya Chairil Anwar:

Krawang-Bekasi

oleh Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi

tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi,

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

terbayang kami maju dan mendegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinsing yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan

arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi kami adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi ada yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan

kemenangan dan harapan

atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno

menjaga Bung Hatta

menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat

Berikan kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami

yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi. (IND)