Konten dari Pengguna

Pupuh Sinom Bali: Pengertian dan Contohnya Lengkap

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pupuh Sinom Bali. Sumber foto : pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pupuh Sinom Bali. Sumber foto : pexels.com

Dalam kesenian sastra Bali terdapat 10 jenis pupuh yang populer yakni pupuh Sinom, Ginada, Ginanti, Dangdang, Semarandana, Pangkur, Maskumambang, Mijil, Pucung, dan Durma.

Ada dua kelompok pupuh yaitu yang disebut Sekar Ageung dan Sekar Alit., dan pupuh sinom termasuk dalam golongan Sekar Ageung. Pupuh sinom bisa disebut sebagai salah satu aturan atau patokan yang biasa digunakan dalam beberapa puisi Sunda seperti guguritan dan wawacan.

Pupuh atau geguritan adalah sastra kuno yang memiliki karakteristik sastra lama/klasik yang anonim, yakni tanpa nama pengarang serta penulis. Hal ini karena pada masanya seorang penulis dibuat untuk tidak ingin menonjol dan karyanya dianggap kepunyaan bersama.

Kata geguritan dalam Kamus Bali-Indonesia, Depdikdas Prop. Bali, 1991, berasal dari kata “gurit berarti gubah, karang, sadur”. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diterangkan bahwa geguritan berasal dari kata gurit yang berarti sajak atau syair.

Pengertian Pupuh Sinom Bali dan Contohnya

Dalam Sekar Ageung, pupuh sinom merupakan bagian dari pupuh yang disebut KSAD yaitu singkatan dari kinanti, sinom, asmarandana dan dangdanggula. Aturan yang ada dalam pupuh disebut guru wilangan dan guru lagu.

Guru wilangan adalah jumlah suku kata yang ada dalam setiap baris pupuh. Guru lagu adalah suara (huruf vokal) terakhir yang ada dalam setiap baris pupuh. Guru wilangan dan guru lagu pupuh sinom adalah 8-a, 8-i, 8-a, 8-i, 7-i, 8-u, 7-a, 8-i, 12-a.

Pupuh sinom biasanya dinikmati dengan membaca itu tidak bisa disamakan dengan membaca karya sastra yang tergolong prosa. Mayoritas dari jenis-jenis geguritan memang harus dinikmati dengan membaca sambil melagukan sehingga kenikmatan yang didapat semakin menembus hati.

Sumber foto : Pexels.com

Contoh Pupuh Sinom

1. Durung puput bebawosan

Matur dane Gusti patih

Singgih ratu suryan titiang

Yukti wawu titiang eling

Yan tan ratu makelingin

Janten titiang ndatan weruh

Kotamaning sang meyadnya

Nika lungsur titiang mangkin

Ledang ratu

Mapica ring sikian titian

2. Ledang Ida miragiang

Idep cening luwih jati

Jani bapa manuturang

Apang cening tatas uning

Nyupat lara kaping siki

Ngardinin jagat rahayu

Ping telune mangda tatas

Yaning mantuk tan mewali

Sapuniku

Phalaning menangun yadnya

Pupuh sinom memiliki beberapa fungsi, antara lain sebagai nyanyian atau tembang yang dinyanyikan dalam upacara keagamaan yang isinya menyesuaikan dengan jeni supacara. Fungsi berikutnya adalah sebagai pengungkap ajaran kebaikan dan kebenaran, amanat, nasihat, gambaran tentang karma, dan sejarah. (DNR)