Konten dari Pengguna

Renungan Malam Islami Menyentuh Hati untuk Meningkatkan Iman

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Renungan malam islami yang dibaca untuk meningkatkan keimanan. Foto: dok. https://pixabay.com/
zoom-in-whitePerbesar
Renungan malam islami yang dibaca untuk meningkatkan keimanan. Foto: dok. https://pixabay.com/

Setiap muslim pasti menginginkan dirinya menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Hal ini dapat kita raih secara bertahap dengan melakukan renungan malam islami yang menyentuh hati. Dengan melakukan renungan kita dapat meningkatkan keimanan dan mengoreksi diri kita dengan lebih baik.

Bacaan Renungan Malam Islami Menyentuh Hati untuk Membantu Meningkatkan Iman Seorang Muslim

Melakukan renungan sebagai cara muhasabah diri merupakan perbuatan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki pribadi seorang Muslim. Renungan biasanya dilakukan dengan membaca materi atau bahan bacaan yang mengandung hikmah.

Salah satu bacaan yang dapat dijadikan bahan renungan malam islami menyentuh hati dapat Anda temukan dalam kutipan buku berjudul Kumpulan Kisah Teladan Islami: Seri Kisah Inspiratif : Kumpulan Kisah Teladan Islami yang disusun oleh Putra Danayu Publisher (2015:4) yang berjudul Ayah, Anak dan Burung Gagak berikut ini:

Renungan malam islami yang dibaca untuk meningkatkan keimanan. Foto: dok. https://pixabay.com/

Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda itu?” “Burung gagak”, jawab si anak. Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama.

Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit kuat, “Itu burung gagak, Ayah!” Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, “BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.

Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah, “Itu gagak, Ayah.” Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama.

Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah. “Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya katakan? Itu burung gagak, burung gagak, Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama. “Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah. Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.

Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apa itu?” Dan aku menjawab, “Burung gagak.” Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. “Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”

Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara, “Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah hilang kesabaran serta marah.” Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.

Bahan Renungan: Jagalah hati dan perasaan kedua orang tuamu, hormatilah mereka. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil. Kita sudah banyak mempelajari tuntunan Islam apalagi berkenaan dengan berbakti kepada kedua orangtua. Tapi berapa banyak yang sudah dimengerti oleh kita apalagi diamalkan? Ingat! ingat! Banyak ilmu bukanlah kunci masuk surganya Allah. Sebarkan ke teman anda jika menurut anda catatan ini bermanfaat.

Materi bacaan renungan malam islami menyentuh hati tersebut dapat Anda jadikan sebagai salah satu bahan bacaan untuk membantu melakukan muhasabah diri dalam keseharian Anda. Semoga bermanfaat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan Anda. (DAP)