Sebutan Orang Tua dari Buyut dan Urutannya dalam Keluarga

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebutan orang tua dari buyut mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Akan tetapi hal ini cukup dikenal dalam budaya dan tradisi kehidupan Jawa.
Dalam budaya dan tradisi Jawa, urutan dan penamaan garis keturunan sangatlah detail hingga beberapa generasi ke atas. Memahami istilah-istilah ini bukan hanya soal mengenal silsilah, tapi juga bagian dari melestarikan budaya dan menghormati leluhur.
Sebutan Orang Tua dari Buyut adalah Canggah
Dalam budaya Jawa, silsilah keluarga dikenal memiliki penyebutan khusus untuk setiap tingkat generasi, baik ke atas (leluhur) maupun ke bawah (keturunan). Ini bukan hanya soal mengenal hubungan keluarga, tapi juga menunjukkan penghormatan terhadap leluhur serta pemahaman akan jati diri.
Semakin tinggi posisi seseorang dalam silsilah, maka semakin besar pula penghormatan yang diberikan. Mengetahui urutan silsilah keluarga akan mengajarkan untuk lebih menghargai dan menghormati orang tua serta leluhur.
Berdasarkan buku Baboning Pepak Basa Jawa, Budi Anwari, (2020), sebutan untuk orang tua dari buyut adalah canggah. Jadi urutannya dalam keluarga adalah sebagai berikut:
Anak
Orang tua (Ayah/Ibu)
Kakek/Nenek (orang tua dari ayah/ibu)
Buyut (ayah/ibu dari kakek/nenek)
Canggah (ayah/ibu dari buyut)
Wareng (ayah/ibu dari canggah)
Udheg-udheg (ayah/ibu dari wareng)
Gantung siwur (ayah/ibu dari udheg-udheg)
Lintang kemukus (ayah/ibu dari gantung siwur)
Lintang kiyamat (ayah/ibu dari lintang kemukus, biasanya disebut sebagai leluhur sangat jauh atau nenek moyang)
Istilah-istilah ini sudah jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari, akan tetapi masih dilestarikan dalam pembahasan budaya dan tradisi Jawa. Setiap tingkatan memiliki makna simbolik yang mendalam, terkait umur, zaman, serta hubungan spiritual dengan leluhur.
Dalam kehidupan masyarakat Jawa, hubungan kekerabatan sangat dihormati. Salah menyebut seseorang atau tidak tahu posisi mereka dalam silsilah bisa dianggap kurang sopan. Dengan memahami sebutan silsilah, masyarakat Jawa bisa menjaga etika dan tata krama dalam pergaulan.
Baca Juga: Aksara Jawa Lengkap beserta Penjelasannya
Pada silsilah masyarakat Jawa, sebutan orang tua dari buyut adalah canggah. Walaupun mungkin terlihat kuno atau jarang dipakai sehari-hari, istilah dalam silsilah keluarga Jawa sebenarnya punya makna besar yang masih relevan sampai sekarang. (DNR)
