Konten dari Pengguna

Sebutan Para Pedagang Arab untuk Kerajaan Sriwijaya

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi alasan para pedagang arab menyebut zabag zabay atau sribusa untuk kerajaan Sriwijaya, sumber foto Jacopo Maia on Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi alasan para pedagang arab menyebut zabag zabay atau sribusa untuk kerajaan Sriwijaya, sumber foto Jacopo Maia on Unsplash

Wilayah Indonesia pada zaman dahulu berdiri kerajaan-kerajaan yang memiliki masa kejayaan masing-masing. Salah satu kerajaan yang memiliki wilayah kekuasaan cukup luas dan disegani oleh bangsa dari luar Indonesia adalah Kerajaan Sriwijaya yang pusat pemerintahannya berada di pulau Sumatra.

Ada beberapa catatan yang mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya terkenal dikalangan pada pedagang dari Arab. Bahkan para pedagang Arab memiliki sebutan khusus untuk Kerajaan Sriwijaya. Para pedagang arab menyebut zabag zabay atau sribusa untuk kerajaan Sriwijaya. Pada kesempatan ini akan diulas mengenai Kerajaan Sriwijaya.

Sebutan Para Pedagang Arab untuk Kerajaan Sriwijaya

Ilustrasi alasan para pedagang arab menyebut zabag zabay atau sribusa untuk kerajaan Sriwijaya, sumber foto Devi Puspita Amartha Yahya on Unsplash

Dikutip dari buku Sejarah karya Ignaz Kingkin dkk, (Grasindo) dijelaskan bahwa Kerajaan Sriwijaya mulai muncul pada awal abad ke-7 M, Kerajaan Funan di daerah Indocina mengalami keruntuhan akibat perang saudara. Posisinya sebagai kerajaan maritim yang menguasai Asia Tenggara diambil alih Kerajaan Sriwijaya. Pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya terletak di Palembang. Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan pada abad ke-8 dan ke-9M saat diperintah Raja Balaputradewa.

Prasasti Nalanda menyebutkan bahwa Balaputradewa merupakan cucu Raja Jawa Sri Wirawairimathana yang berasal dari Dinasti Syailendra. Ayahnya Samaratungga yang kawin dengan Dewi Tara. Saat Dinasti Syailendra terdesak oleh Dinasti Sanjaya, Balaputradewa melarikan diri untuk selanjutnya memaklumkan diri sebagai Raja Sriwijaya. Balaputradewa menurut perkiraan mulai memerintah tahun 850 M.

Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan di selat Malaka. Penduduk Sriwijaya mayoritas hidup dari sektor perdagangan. Letak yang strategis berhadapan dengan Selat Malaka dan Selat Sunda, memberi peluang Sriwijaya untuk maju pesat di jalur perdagangan. Ramainya perdagangan India dengan Cina melalui Selat Malaka sangat menguntungkan Sriwijaya. Para pedagang dari kedua negara tersebut senantiasa singgah di pelabuhan Sriwijaya.

Sebutan zabag, zabay, atau sribusa untuk Kerajaan Sriwijaya dari para pedagang Arab dijumpai dalam beberapa berita Arab. Dalam berita Arab yang dimaksud, dituliskan bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan yang sangat besar juga kaya. Memang pada masa pemerintahan Balaputradewa. Sriwijaya mengalami kemajuan yang sangat pesat. Tak hanya menguasai lautan, mereka juga berhasil melakukan ekspansi wilayah di daratan sampai ke Filipina juga Brunei Darussalam.

Jadi itu adalah alasan mengapa para pedagang Arab menyebut zabag zabay atau sribusa untuk Kerajaan Sriwijaya. (WWN)