Sejarah Gubernur Jenderal dan Program Kerja Selama Menjabat di Hindia Belanda

Konten dari Pengguna
1 Desember 2022 18:36
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Gubernur Jenderal yang menjabat di Hindia Belanda. Foto: Unsplash/redcharlie
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gubernur Jenderal yang menjabat di Hindia Belanda. Foto: Unsplash/redcharlie
Sebelum merdeka, Indonesia dijajah oleh Belanda dalam kurun waktu yang lama. Pemerintah Belanda mengutus perwakilannya untuk memimpin Indonesia atau yang saat itu disebut Hindia Belanda disebut dengan Gubernur Jenderal. Berikut sejarah Gubernur Jenderal dan program kerja selama menjabat Hindia Belanda selama tahun 1610 hingga 1653.

Sejarah Gubernur Jenderal dan Program Kerja Selama Menjabat di Hindia Belanda

Ilustrasi Gubernur Jenderal dan program kerja di Hindia Belanda. Foto: Unsplash/Pradamas Gifarry
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gubernur Jenderal dan program kerja di Hindia Belanda. Foto: Unsplash/Pradamas Gifarry
Dikutip dari buku Hindia Belanda 1930 oleh Dr. J. Stroomberg (2018: 103), Gubernur Jenderal adalah seorang yang diangkat untuk menduduki pedagang utama. Gubernur Jenderal sendiri diangkat melalui pemilihan oleh Raad van Indie yang diajukan ke Heeren Seventien untuk mendapatkan persetujuan.
Banyak sekali orang yang ditunjuk menjadi Gubernur Jenderal di wilayah Hindia Belanda, yakni:

Pieter Both (1610-1614)

Pieter Both ditunjuk sebagai 'penguasa tertinggi' pada November 1609 dengan tugas utama untuk menciptakan monopoli perdagangan antara pulau pulau di Hindia Belanda hanya dengan Kerajaan Belanda, dan tidak dengan negara lain, terutama Inggris. Dan Pieter Both memulainya dengan mendirikan pos perdagangan di Banten dan Jakarta

Gerard Reynst (1614-1615)

Gerard Reynst adalah seorang saudagar yang mendirikan perusahaan yang bekerja sama dengan Nieuwe Brabantsche Compagnie. Perusahaan ini memiliki keterkaitan dengan VOC.
Meski begitu, Gerard Reynst hanya memimpin selama satu tahun karena meninggal akibat disenteri. Sehingga tidak diketahui bagaimana kepemimpinannya.

Laurens Reael (1615-1619)

Laurens Reael diangkat menjadi Gubernur Jenderal saat VOC masih berkedudukan di Ternate, Maluku Utara. Namun ia berselisih dengan direktur VOC saat itu dan adanya perlakuan kepada pedangan pesaing asal Inggris dan warga lokal Kepulauan Maluku, ia memutuskan untuk mengundurkan diri.

Jan Pieterszoon Coen (1619-1623) dan (1627-1629)

Saat menjadi Gubernur Jenderal, ia memindahkan kantor Kompeni ke Jakarta karena tak tahan orang Banten dan Inggris. Awalnya ia mau mengubah nama kota ini menjadi Nieuw Hoorn seperti kota kelahirannya, tetapi usul itu ditolak pimpinan VOC di Belanda.
Nama Batavia diberikan untuk menghormati Suku Batavia yang dianggap sebagai leluhur bangsa Belanda dan digunakan sampai tahun 1942. Penduduk Batavia memberi julukan Mur Jangkung pada J.P Coen, tetapi tidak jelas apa yang menyebabkan ia diberi julukan tersebut.
Pada Jabatan kedua, Jan Pieterszoon Coen berperang melawan Kesultanan Banten dan Mataram. Mataram di bawah kekuasaan Sultan Agung menyerang Batavia dua kali, yaitu pada tahun 1628 dan 1629. Kedua-duanya gagal.

Pieter de Carpentier (1623-1627)

Pieter de Carpentier melakukan banyak hal untuk menata kota baru ini seperti pendirian sekolah-sekolah, balai kota, dan panti asuhan pertama. Dia juga merancang cikal bakal struktur kegerejaan di Batavia.

Jacques Specx (1629-1632)

Pada awal kepemimpinannya, Batavia dikepung oleh sekitar 30.000 tentara Mataram. Pengepungan tersebut berakhir secara tiba-tiba pada bulan November pada tahun yang sama. Setelah pengepungan itu ia membangun kota Batavia kembali. Ia membangun parit di sekeliling kota untuk memaksimalkan perlindungan.
Dalam menanggulangi orang Mataram ia memperalat orang Tionghoa. Mereka diadu-domba olehnya dengan orang Jawa Mataram. Hal ini adalah salah satu bibit pertikaian antara orang pribumi dan orang keturunan Tionghoa di Indonesia hingga saat ini.

Hendrik Brouwer (1632-1636)

Pada awal 1632, dia menjadi bagian dari delegasi yang dikirim ke London untuk memperbaiki persetujuan antara Inggris dan VOC. Setelah itu ia kembali ke Hindia Belanda dan pada 18 April ia ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal menggantikan Jacques Specx.

Antonio van Diemen (1636-1645)

Dalam masa kepemimpinannya ini, ia berkomitmen untuk memperluas kekuasaan perusahaan dagang Hindia timur. Karena perannya pula ia dapat mendirikan kekuasaan Belanda di Ceylon melalui Trincomalee.
Ia dikenang karena perannya terhadap eksplorasinya ke Australia. Penjelajahan ini dimulai saat pemerintahannya di Batavia sudah berjalan 3 bulan. Tujuan pertamanya pergi ke sana adalah untuk melakukan pemetaan garis pantai. Namun usaha ini mengalami kegagalan ketika salah seorang komandan Belanda terbunuh oleh penduduk asli dan seluruh armada diperintahkan untuk kembali.

Cornelis van der Lijn (1646-1650)

Pada masa kepemimpinannya, ia memperkuat posisi VOC di Semenanjung Malaya dengan mendirikan pos di Perak. Van der Lijn juga dengan jeli melihat adanya peluang menguasai Jawa saat mengetahui bahwa Sultan Agung meninggal dunia.
Pada tahun 1646 kepemimpinan Mataram digantikan oleh Amangkurat I. Mengetahui bahwa pemimpin yang baru ini tidak sekeras Sultan Agung, maka pada tanggal 24 September 1646 dia mengajak Mataram berdamai dan diberi imbalan bahwa Mataram berhak berdagang di semua pelabuhan VOC kecuali Ambon, Ternate dan Banda. Juga dengan membawa surat pas dari VOC, Mataram diperbolehkan berdagang ke Malaka atau daerah yang lebih jauh di utara Hindia.
Kemudian untuk menjaga kestabilan VOC di pulau Jawa, van der Lijn membuat perjanjian perdamaian dengan Banten. Untuk memperkuat posisi VOC di Maluku, van der Lijn merebut Solor dari Portugis dan menduduki Hitu sepenuhnya setelah dapat membunuh Kakiali, pemimpin Hitu saat itu.

Carel Reyniersz (1651-1653)

Carel Reyniersz berencana menyingkirkan para kompetitor-nya, melakukan pembasmian terhadap perdagangan di luar VOC termasuk juga melakukan pengurangan kuota produksi cengkih dengan cara membakar dan menebang pohon-pohon cengkih usia produktif. Reyniersz meminta kebijakan ini dilakukan dengan tegas, termasuk dengan menumpas pemberontakan di Seram Barat, di mana penduduk setempat menolak untuk memusnahkan ladangnya.
Itulah daftar Gubernur Jenderal dan program kerja saat menjabat Hindia Belanda dari tahun 1610 sampai 1653. Ternyata negara kita memiliki sejarah yang begitu panjang akibat rempah-rempah yang ingin diambil oleh VOC.(MZM)