Konten dari Pengguna

Sejarah Huruf Jawa Hanacaraka dan Contoh Penggunaannya

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Huruf Jawa Hanacaraka, sumber gambar: https://www.unsplash.com/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Huruf Jawa Hanacaraka, sumber gambar: https://www.unsplash.com/

Huruf Jawa Hanacaraka merupakan aksara yang berkembang di tanah Jawa dan dulunya dimanfaatkan untuk menulis informasi.

Aksara Jawa adalah salah satu jenis aksara turunan Brahmi di Indonesia. Sejarah dari aksara ini bisa ditelusuri karena banyaknya peninggalan tertulis maupun dalam bentuk benda. Hal ini memungkinkan adanya penelitian epigrafis yang lebih mendetail.

Sejarah Huruf Jawa Hanacaraka

Mengutip buku Aji Saka: Asal Mula Aksara Jawa (2015), aksara Hanacaraka diciptakan oleh Aji Saka yang merupakan penguasa Kerajaan Medang Kamulan. Aji Saka memiliki dua abdi setia bernama Dora dan Sembada.

Ilustrasi Huruf Jawa Hanacaraka, sumber gambar: https://www.unsplash.com/

Suatu ketika, Aji Saka memerintah Dora untuk menemui Sembada dan membawakan pusakanya. Kemudian, Dara mendatangi Sembada dan menyampaikan perintah tuannya.

Namun, Sembada menolak karena menurut perintah Aji Saka sebelumnya, tidak ada yang boleh membawa pusaka tersebut selain Aji Saka sendiri.

Hal ini menyebabkan dua abdi Aji Saka saling curiga bahwa masing-masing memiliki maksud untuk mencuri pusaka tersebut.

Sembada dan Dora akhirnya bertarung sampai tidak ada yang bernyawa. Saat Aji Saka menyusul, ia mendapati kedua abdinya meninggal karena kesalahpahaman.

Di depan jasad dua abdinya tersebut, Aji Saka membuat puisi yang kemudian dikenal sebagai Hanacaraka atau aksara Jawa.

Aksara Jawa Hanacaraka

Sepanjang sejarah, aksara Jawa ditulis dalam berbagai bentuk mulai dari batu hingga lempengan logam. Aksara Jawa mulai ditulis di atas kertas pada abad ke-13.

Hal ini berhubungan dengan penyebaran ajaran Islam yang budaya tulisnya didukung dengan penggunaan kertas dan format buku kodeks. Dari sini, aksara Jawa Kawi mulai berubah ke arah yang lebih modern. Pada abad ke-15, aksara Jawa digunakan oleh masyarakat Jawa untuk penulisan sehari-hari.

Aksara Jawa terdiri dari 20 huruf dasar yang membentuk suatu puisi empat bait, contoh tersebut yaitu sebagai berikut:

ha na ca ra ka

da ta sa wa la

pa dha ja ya nya

ma ga ba tha nga

Dalam aksara Jawa juga terdapat 20 huruf pasangan yang fungsinya menutup bunyi vokal. Huruf tersebut terdiri dari 8 huruf utama (aksara murda, ada yang tidak berpasangan), 8 pasangan huruf utama, dan 5 aksara swara (huruf vokal depan).

Itulah pembayaran tentang sejarah huruf Jawa Hanacaraka yang penting diketahui. Hingga kini, aksara Jawa masih terus dipelajari untuk melestarikannya agar tidak punah.

(DLA)