Sejarah Kebudayaan Islam, Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah

Penulis kumparan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah kebudayaan Islam merupakan salah satu ilmu yang patut dipelajari. Sebab, di dalamnya akan mempelajari mengenai hasil karya, rasa, dan cipta umat Islam di masa lalu, baik dalam bentuk sosial, budaya, ekonomi, politik, pemerintahan, dan tata kehidupan lainnya. Nah, dalam artikel berikut akan memaparkan sejarah kebudayaan Islam Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah.
Sejarah Bani Umayyah
Dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI karya Drs. Imam Subehi, MA. (2015), Dinasti Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdul Syams bin Abdul Manaf bin Qusay bin Kilab.
Muawiyah merupakan sahabat nabi yang memiliki peranan yang sangat penting, terutama dalam bidang politik. Misalnya saja, pada masa khalifah Abu Bakar yang mempercayainya menjadi gubernur wilayah Syam. Kepemimpinan tersebut berlangsung hingga khalifah Usman bin Affan.
Ketika Usman bin Affan meninggal karena terbunuh, Muawiyah menuntut khalifah Ali bin Abi Thalib mengusut tuntas siapa saja yang terlibat dalam kasus pembunuhan Usman.
Atas hal tersebut, Muawiyah tidak mau mengakui Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Ali menganggap Muawiyah sebagai pemberontak karena tidak mengakui kekhalifahannya dan atas dasar itulah Ali memerangi Muawiyah dan terjadilah peperangan.
Kekuatan Dinasti Bani Umayyah dimulai pada masa kekuasaan Muawiyah setelah Ali bin Abi Thalib terbunuh. Padahal seharusnya tabuh kepemimpinan akan diberikan kepada Hasan bin Ali. Namun ia menolaknya dan menyetujui kepemimpinan diberikan kepada Muawiyah dengan syarat:
Muawiyah tidak menaruh dendam terhadap penduduk Madinah, Hijaz, dan Irak;
Muawiyah harus membayar utang-utangnya (kepada Hasan dan Husain dengan sejumlah uang dari pajak);
Setelah Muawiyah, pemilihan atau pengangkatan khalifah harus diserahkan kembali kepadanya dan musyawarah kaum muslimin.
Setelah disetujui perjanjian tersebut, maka secara resmi Muawiyah menjadi khalifah mengambil alih daerah Mesir dari gubernur yang diangkat Ali bin Abi Thalib.
Muawiyah resmi menjadi pemimpin Dinasti Bani Umayyah, ia memindahkan ibukota dari Madinah ke Damaskus.
Setelah meninggalnya Muawiyah, tabuh kepemimpinan Bani Umayyah bukan atas pilihan umat Muslim, namun kepada Yazid yang merupakan anak dari Muawiyah. Hal ini menyebabkan pemberontakan.
Dalam berjalannya waktu, Dinasti Bani Umayyah mulai mengalami kemunduran. Hal ini dikarenakan pada pemimpinnya yang gemar berfoya-foya dan kesukaan atas sistem kerajaan hingga menimbulkan pemberontakan. Pemberontakan tersebut menghasilkan gerakan Abbasiyah yang dipimpin oleh Abu Abbas as-Saffah.
Sejarah Bani Abbasiyah
Kekalifahan Abbasiyah merupakan kelanjutan dari Kekalifahan sebelumnya Bani Umayyah, di mana pendiri dari Bani Abbasiyah adalah Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas Rahimahullah. Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Daulah Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M).
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode:
Periode Pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama. Dimulai dari pengangkatan (Khalid Bin Barmak) sebagai pengganti dari Abu Muslim Al Khurasani menjadi Wazir dan keluarganya pun mengisi posisi-posisi penting dalam Pemerintahan Abbasiyyah.
Periode Kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki pertama.
Periode Ketiga (334 H/945 M - 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
Periode Keempat (447 H/1055 M - 590 H/l194 M), masa kekuasaan daulah Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah al-Kubra/Seljuk agung).
Periode Kelima (590 H/1194 M - 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol.
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.
Demikianlah informasi mengenai sejarah kebudayaan Islam tentang Bani Umayyah dan bani Abbasiyah. Semoga informasi di atas dapat menambah wawasan Anda mengenai sejarah Islam yang sangat panjang.(MZM)
