Konten dari Pengguna

Sejarah Peristiwa G30S/PKI 1965 yang Menewaskan 7 Pahlawan Revolusi

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Flickr.com - Apa iyu G30S/PKI?
zoom-in-whitePerbesar
Flickr.com - Apa iyu G30S/PKI?

Memasuki bulan September, seluruh rakyat Indonesia pasti akan teringat dengan sebuah peristiwa yang tercatat sebagai kisah yang kelam dalam sejarah Indonesia, yaitu peristiwa yang dikenal dengan nama G30S/PKI.

Apa itu G30S/PKI? G30S/PKI adalah peristiwa tragis yang terjadi pada 30 September hingga 1 Oktober 1965 di Jakarta dan Yogyakarta ketika enam perwira tinggi dan satu perwira menengah TNI Angkatan Darat Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta.

Memahami Apa itu G30S/PKI

G30S adalah gerakan yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno dan mengubah Indonesia menjadi negara komunis. Gerakan ini dipimpin oleh DN Aidit yang saat itu merupakan ketua dari Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pada 1 Oktober 1965 dini hari, Letkol Untung yang merupakan anggota Cakrabirawa (pasukan pengawal Istana) memimpin pasukan yang dianggap loyal pada PKI. Gerakan ini mengincar perwira tinggi TNI AD Indonesia. Tiga dari enam orang yang menjadi target langsung dibunuh di kediamannya. Sedangkan sisanya diculik dan dibawa menuju Lubang Buaya.

Jenazah ketujuh perwira TNI AD itu ditemukan selang beberapa hari kemudian. Adapun keenam perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang menjadi korban dalam peristiwa ini adalah:

  • Letnan Jendral Anumerta Ahmad Yani

  • Mayor Jendral Raden Soeprapto

  • Mayor Jendral Mas Tirtodarmo Haryono

  • Mayor Jendral Siswondo Parman

  • Brigadir Jendral Donald Isaac Panjaitan

  • Brigadir Jendral Sutoyo Siswodiharjo

Panglima TNI AH Nasution yang menjadi target utama ternyata malah berhasil meloloskan diri. Tapi, putrinya Ade Irma Nasution tewas tertembak di kediamannya. Selain itu, ajudannya, Lettu Pierre Andreas Tendean diculik terlebih dahulu sebelum akhirnya tewas ditembak di Lubang Buaya.

Flickr.com

Keenam jenderal di atas beserta Lettu Pierre Tendean kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi. Sejak berlakunya UU Nomor 20 tahun 2009, gelar ini juga diakui sebagai Pahlawan Nasional.

Setelah terjadinya peristiwa G30S/PKI rakyat menuntut Presiden Soekarno untuk membubarkan PKI. Soekarno memerintahkan Mayor Jenderal Soeharto untuk membersihkan semua unsur pemerintahan dari pengaruh PKI. Soeharto bergerak cepat. PKI dinyatakan sebagai penggerak kudeta dan para tokohnya diburu dan ditangkap, termasuk DN Aidit yang sempat kabur ke Jawa Tengah tapi kemudian berhasil ditangkap.

Banyak anggota organisasi yang dianggap sebagai simpatisan atau terkait dengan PKI juga ditangkap. Organisasi-organisasi tersebut antara lain Lekra, CGMI, Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia, Gerakan Wanita Indonesia dan lain-lain.

Pada tahun 1984, film propaganda tentang peristiwa ini yang berjudul Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI dirilis. Mengingat latar belakang produksinya, banyak yang menduga bahwa film tersebut ditujukan sebagai propaganda politik. Apalagi di era Presiden Soeharto, film tersebut dijadikan sebagai tontonan wajib anak sekolah yang selalu ditayangkan di TVRI tiap tanggal 30 September malam.

Setelah lengsernya Soeharto, banyak tulisan dan buku yang membahas mengenai sejarah sebenarnya apa itu G30S/PKI, termasuk salah satunya adalah buku Soeharto Penggerak atau Penumpas G30S/PKI yang terbit di tahun 1998. (DNR)