Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia Sebelum Masa Kemerdekaan

Penulis kumparan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia adalah negara dengan aneka ragam budaya. Setiap daerah mempunyai budaya dan bahasa masing-masing. Meskipun berbeda-beda dengan banyak ragam bahasa daerah, bahasa nasional yang digunakan tetap bahasa Indonesia. Setiap bangsa memiliki bahasa yang berbeda-beda dengan ciri khas dan sejarah masing-masing. Begitu pula dengan bahasa Indonesia.
Perkembangan bahasa Indonesia juga melewati sejarah panjang sebelum bahasa Indonesia lahir dan menjadi bahasa persatuan. berikut ini kita akan menyimak pemaparan mengenai sejarah perkembangan bahasa Indonesia sebelum kemerdekaan yang bersumber dari buku Pembelajaran Bahasa Indonesia oleh Tadzkirah, S.Pd.,M.Pd. (2019: hlm 1-8).
Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca di Nusantara.
Sejarah bahasa Indonesia erat kaitannya dengan bahasa Melayu. Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari Bahasa Melayu yang sejak dahulu digunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, namun juga hampir di seluruh Asia Tenggara.
Bahasa Melayu merupakan bahasa penghubung antar etnis di seluruh Nusantara. Selain itu, bahasa Melayu juga menjadi bahasa transaksi atau bahasa perantara antara berbagai suku di Nusantara dengan pedagang asing dalam lingkup perdagangan internasional di kepulauan Nusantara.
Bahasa Melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara, serta semakin berkembang dan bertambah kokoh keberadaannya karena mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antar pulau, antar suku dan antar kerajaan.
Pada abad ke 15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bentuk resmi Bahasa Melayu karena dipakai oleh Kesultanan Malaka yang kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa dan Semenanjung Malaya.
Pada akhir abad ke 19 pemerintah kolonial Hindia Belanda melihat bahwa bahasa Melayu tinggi dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi. Pada periode mulai terbentuk ‘bahasa Indonesia’ yang secara perlahan terpisah dari bahasa Melayu Riau-Johor.
Bahasa Melayu di Indonesia kemudian banyak digunakan sebagai lingua franca, namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Bahasa ibu masih menggunakan bahasa daerah yang jumlahnya mencapai 360 bahasa.
Perkembangan Bahasa Indonesia pada Masa pergerakan Nasional.
Berikut ini adalah peristiwa-peristiwa penting yang mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia pada masa awal abad ke 20.
Budi Oetomo
Pada tahun 1908, Budi Oetomo adalah organisasi yang bersifat kenasionalan pertama dan tempat hidupnya kaum terpelajar. Mereka dengan sadar menuntut syarat-syarat masuk ke sekolah Belanda diperingan. Pada awal abad ke 20, bahasa Belanda merupakan syarat utama melanjutkan pendidikan barat.
Sarekat Islam
Sarekat Islam berdiri pada tahun 1912. Awalnya organisasi ini bergerak dalam bidang perdagangan, namun bergerak dalam bidang sosial, dan politik juga. Sejak berdirinya, Sarekat Islam bersifat non-kooperatif dengan pemerintah Belanda dalam bidang politik. Mereka tidak pernah mempergunakan bahasa Belanda namun menggunakan bahasa Indonesia.
Balai Pustaka
Balai Pustaka adalah penerbit yang didirikan pada tahun 1908 dan dipimpin oleh Dr. G.A.J Hazue. Pada mulanya badan ini bernama Commisie Voor de Volkslectuur. Pada 1917 namanya berubah menjadi Balai Pustaka Selain menerbitkan buku, Balai Pustaka juga menerbitkan majalah.
Kaitan Balai Pustaka dengan perkembangan Bahasa Indonesia antara lain:
Memberikan kesempatan kepada para pengarang Indonesia untuk menulis ceritanya dalam bahasa melayu
Memberikan kesempatan kepada rakyat Indonesia untuk membaca hasil karya bangsanya sendiri dalam bahasa Melayu.
Menciptakan hubungan antara sastrawan dengan masyarakat sebab melalui karangannya sastrawan melukiskan hal-hal yang dialami bangsanya dan hal-hal yang menjadi cita-cita bangsanya.
Balai Pustaka juga memperkaya dan memperbaiki bahasa melayu karena di antara syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh karangan yang akan diterbitkan Balai Pustaka adalah tulisan atau karangan dalam bahasa Melayu yang tersusun dengan baik dan terpelihara.
Salah satu karya sastra terkenal yang diterbitkan oleh Balai Pustaka adalah Sitti Nurbaya karya Marah Rusli.
Sumpah Pemuda
Kongres Pemuda pertama pada tahun 1926 bertujuan mempersatukan berbagai organisasi pemuda pada masa itu. Pada tahun 1928, tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, organisasi pemuda mengadakan kongres pemuda di Jakarta yang menghasilkan Sumpah Pemuda yang berisi:
Kami putra putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami putra putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
Kami putra putri Indonesia mengaku menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia
Dengan sumpah pemuda itu, bahasa Indonesia dikukuhkan sebagai bahasa nasional. Kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945, bahasa Indonesia menjadi bahasa negara dan diatur dalam UUD 1945, Bab XV, Pasal 36.
Informasi mengenai sejarah perkembangan bahasa Indonesia pada masa sebelum kemerdekaan, untuk menambah wawasan Anda mengenai sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Sebagai warga negara yang baik, mari bersama-sama kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. (IND)
