Sejarah Singkat Islam Masuk ke Indonesia

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Meskipun begitu, Islam bukan agama asli nenek moyang kita. Ceritakan dengan singkat bagaimana Islam masuk ke Indonesia!
Ada beberapa teori mengenai siapa yang pertama kali membawa Islam masuk ke Indonesia. Apa saja teorinya? Simak penjelasannya berikut ini.
Baca juga: Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia dan 5 Kerajaan Islam di Dalam Negeri
Teori Tentang Masuknya Islam ke Indonesia
Dikutip dari Sejarah Islam Nusantara oleh Aizid (2016), dalam literatur sejarah, tercatat tiga teori tentang masuknya Islam ke Nusantara yaitu, teori Gujarat, teori Makkah, dan teori Persia. Selain itu, ada satu teori terbaru yaitu teori Tiongkok.
Teori Gujarat
Teori pertama adalah teori Gujarat. Teori ini menyatakan bahwa Islam dibawa oleh para pedagang Gujarat yang berdagang ke Nusantara pada abad ke-13 M. Teori ini dikemukakan oleh para tokoh Barat: Pijnappel, G.W.J. Drewes, dan dikembangkan oleh Snouck Hurgronje.
Hurgronje memiliki tiga alasan untuk memperkuat teori ini:
Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia.
Hubungan dagang Indonesia dengan India sudah lama terjalin melalui jalur Indonesia-Cambay-Timur Tengah-Eropa.
Ditemukannya inskripsi tertua tentang Islam yang terdapat di Sumatra pada tahun 1297. Inskripsi tersebut memberikan gambaran tentang hubungan antara Sumatra dengan Gujarat. Inskripsi yang dimaksud adalah batu nisan Sultan Samudra Pasai.
Teori Makkah
Teori kedua adalah teori Makkah. Teori ini merupakan sanggahan teori Gujarat. Menurut teori ini, Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 dibawa oleh para pedagang Arab. Pendapat ini didukung oleh mayoritas sejarawan, salah satunya adalah Buya Hamka.
Mayoritas sejarawan berpendapat bahwa yang membawa Islam ke Indonesia adalah para pedagang Arab, khususnya kaum Alawiyyin dari Hadramaut. Beberapa sejarawan Barat juga mendukung teori Makkah. Beberapa landasan teori Makkah adalah:
Buya Hamka menyatakan pada abad ke-7 (sekitar tahun 674), di Pantai Barat Sumatra sudah ada perkampungan Islam (Arab).
Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran Mazhab Syafi’i, sedangkan pengaruh Mazhab Syafi’i terbesar di masa itu adalah Mesir dan Makkah. Gujarat/India adalah penganut Mazhab Hanafi. Pendukung teori Makkah berkesimpulan tidak mungkin Islam dibawa oleh pedagang Gujarat.
Terkait dengan gelar bagi para raja Samudra Pasai. Raja Samudra Pasai menggunakan gelar “al-Malik”. Gelar tersebut berasal dari Mesir.
Teori Persia
Teori Persia memiliki pendapat yang sama dengan teori Gujarat mengenai waktu masuknya Islam ke Nusantara (pada abad ke-13). Namun, teori ini berpendapat yang membawa Islam ke Indonesia adalah orang Persia (Iran).
Teori ini didukung oleh Umar Amir Husen dan Hoesein Djajadiningrat. Landasan argumentasi pendukung teori Persia adalah:
Adanya peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad. Peringatan 10 Muharram ini sangat dijunjung oleh orang Syi’ah/Islam Iran.
Adanya kesamaan ajaran sufi yang dianut oleh Syekh Siti Jenar dengan sufi dari Iran, Al-Hallaj.
Adanya penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda-tanda bunyi harakat.
Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik pada tahun 1419.
Ada perkampungan Leren/Leran di Gresik.
Teori Tiongkok
Teori ini berpendapat Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh perantau Tionghoa. Salah satu argumen dasar teori ini adalah fakta bahwa orang Tionghoa sudah ada di kepulauan Nusantara sejak abad pertama Hijriah.
Sekian sejarah singkat bagaimana Islam masuk ke Indonesia. Semua teori memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. (KRIS)
