Konten dari Pengguna

Sejarah Sunan Kudus dengan Toleransi Umat Beragama

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Sunan Kudus, Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Sejarah Sunan Kudus, Foto: Unsplash.

Sunan Kudus adalah salah satu Wali Songo yang ada di Indonesia. salah satu pemilik peran penyebar agama Islam. Sunan Kudus juga dikenal salah satu Wali Songo yang masyhur karena sifat toleransinya. Demi saling menghormati antar umat beragama karena mayoritas masyarakat Kudus beragama Hindu, beliau mendewakan sapi. Di awal masa dakwahnya, Sunan Kudus pernah melarang umat Islam menyembelih sapi. Sejarah Sunan Kudus sangat menarik untuk dibahas. Simak sejarah Sunan Kudus yang terkenal dengan toleransi antar umat beragama yang perlu dipelajari.

Sejarah Sunan Kudus

Sejarah Sunan Kudus, Foto: Unsplash.

Dikutip dalam buku Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter Bangsa karya Nur Said (2010: 22), Sunan Kudus lahir di Kudus pada tahun 1400 Masehi. Sunan Kudus hidup di era kerajaan Hindu-Jawa sedang runtuh dan agama Islam baru mulai menyebar di daerah Jawa. Sunan Kudus adalah anak dari Habib Utsman Haji atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Ngudung. Ayahnya ini merupakan seorang menantu dari Sunan Ampel. Sedangkan ibunya bernama Syarifah Ruhul atau Dewi Ruhil yang merupakan adik dari Sunan Bonang.

Menurut silsilah dari keluarga Sunan Kudus, beliau merupakan keturunan ke-10 lewat jalur Husein, yaitu putera dari pernikahan puteri Nabi Muhammad yakni Siti Fatimah dengan Sayyidina Ali Ra.

Dilansir dari laman nu.or.id, Sunan Kudus terkenal dengan toleransinya dengan umat beragama yang bagus. Di Papua, warga Islam dan Kristen sama-sama merayakan kenduri sebagai bentuk rasa syukur. Biasanya mereka membakar babi sebagai makanannya, tetapi kini diganti dengan sapi.

Sejarah Sunan Kudus, Foto: Unsplash.

Dalam perjalanan hidupnya, Sunan Kudus banyak berguru kepada Sunan Kalijaga. Cara berdakwahnya pun sejalan dengan pendekatan dakwah Sunan Kalijaga yang menekankan kearifan lokal dengan mengapresiasi terhadap budaya setempat. Beberapa nilai toleransi yang diperlihatkan oleh Sunan Kudus terhadap pengikutnya yakni dengan melarang menyembelih sapi kepada para pengikutnya. Bukan saja melarang untuk menyembelih, sapi yang notabene halal bagi kaum muslim juga ditempatkan di halaman masjid kala itu.

Langkah Sunan Kudus tersebut tentu mengundang rasa simpatik masyarakat yang waktu itu menganggap sapi sebagai hewan suci. Mereka kemudian berduyun-duyun mendatangi Sunan Kudus untuk bertanya banyak hal lain dari ajaran yang dibawa oleh beliau. Lama-kelamaan, bermula dari situ, masyarakat semakin banyak yang mendatangi masjid sekaligus mendengarkan petuah-petuah Sunan Kudus. Islam tumbuh dengan cepat. Mungkin akan menjadi lain ceritanya jika Sunan Kudus melawan arus mayoritas dengan menyembelih sapi.

Selain berdakwah lewat sapi, bentuk toleransi sekaligus akulturasi Sunan Kudus juga bisa dilihat pada pancuran atau padasan yang berjumlah delapan yang sekarang difungsikan sebagai tempat berwudlu. Tiap-tiap pancurannya dihiasi dengan relief arca sebagai ornamen penambah estetika. Jumlah delapan pada pancuran mengadopsi dari ajaran Budha yakni Asta Sanghika Marga atau Delapan Jalan Utama yang menjadi pegangan masyarakat saat itu dalam kehidupannya.

Demikianlah sejarah singkat mengenai Sunan Kudus yang tekenal dengan toleransinya antar umat beragama. Pada jaman dahulu warga Kudus mayoritas masih beragama Hindu, dimana sapi menjadi hewan yang disucikan. Sunan Kudus mampu menyebarkan agama Islam melalui hewan tenak sapi kepada masyarakat Kudus, dan ditiru oleh daerah lainnya hingga saat ini untuk menghormati agama yang lain.(UMI)