Konten dari Pengguna

Sifat Wajib Mustahil dan Jaiz bagi Rasul: Pengertian dan Maknanya

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sifat Wajib Mustahil dan Jaiz bagi Rasul, Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sifat Wajib Mustahil dan Jaiz bagi Rasul, Foto: Pexels

Para rasul utusan Allah manusia-manusia yang diutus Allah Swt. ke bumi untuk menyampaikan risalah ilahi supaya manusia bisa tercerahkan dan mengikuti jalan yang lurus. Karena itulah, berbeda dengan manusia pada umumnya, ada sifat wajib mustahil dan jaiz bagi rasul.

Pengertian Sifat Wajib Mustahil dan Jaiz bagi Rasul

Sifat Wajib Mustahil dan Jaiz bagi Rasul, Foto: Pexels

Dilansir dari Buku Pintar Akidah Islam, Syeikh Ibrahim Al-Bajuri, (2015:47), pengertian sifat jaiz adalah sifat yang boleh ada pada diri para rasul.

Sifat jaiz pada rasul hanya ada 1, yaitu: al-'aradhul basyariyah, yang berarti sifat-sifat yang sama dengan manusia pada umumnya.

Sifat-sifat itu adalah kebutuhan untuk makan dan minum serta beristri, merasakan haus, sakit, lapar, sedih, dan senang, dan lain sebagainya. Namun, sifat-sifat yang sangat manusiawi ini tidak sedikit pun mengurangi atau menurunkan derajat seorang rasul.

Sementara sifat wajib mustahil adalah sifat yang tidak mungkin dimiliki oleh rasul mana pun, karena mereka adalah orang pilihan yang terjaga, terpelihara, dan terhindar dari dosa. Adapun sifat wajib mustahil para rasul sebagai berikut:

  • Kidzib alias Berdusta

Rasul tidak mungkin berbohong, karena rasul hanya menyampaikan kebenaran, baik di dalam perkataan maupun perbuatan.

Ini sesuai dengan Firman Allah Swt. di dalam Al-Qur'an:

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمۡ وَمَا غَوٰى, وَمَا يَنۡطِقُ عَنِ الۡهَوٰىؕ, اِنۡ هُوَ اِلَّا وَحۡىٌ يُّوۡحٰىۙ‏

Maa dalla saahibukum wa maa ghawaa; Wa maa yanthiqu 'anilhawaaa; In huwa illaa Wahyunii yuuhaa.

Artinya:

"Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru; Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur'an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)". (QS. An-Najm: 2-4)

  • Khianat alias Tidak Menepati Janji

Rasul juga tidak mungkin berkhianat terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah Swt, sebagaimana ada tertulis di dalam Al-Quran:

اِتَّبِعۡ مَاۤ اُوۡحِىَ اِلَيۡكَ مِنۡ رَّبِّكَ‌‌ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ‌ۚ وَاَعۡرِضۡ عَنِ الۡمُشۡرِكِيۡنَ

Ittabi' maaa uuhiya ilaika mir Rabbika laaa ilaaha illaa Huwa wa a'rid 'anil mushrikiin.

Artinya:

"Ikutilah apa yang telah diwahyukan Tuhanmu kepadamu (Muhammad); tidak ada tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik". (QS. Al-An'am: 106)

  • Al-Kitman alias Menyembunyikan Rahasia

Rasul tentunya tidak mungkin menyembunyikan kebenaran yang diperintahkan oleh Allah Swt., karena ada tertulis:

اِنَّ الَّذِيۡنَ يَكۡتُمُوۡنَ مَآ اَنۡزَلَ اللّٰهُ مِنَ الۡکِتٰبِ وَ يَشۡتَرُوۡنَ بِهٖ ثَمَنًا قَلِيۡلًا ۙ اُولٰٓٮِٕكَ مَا يَاۡكُلُوۡنَ فِىۡ بُطُوۡنِهِمۡ اِلَّا النَّارَ وَلَا يُکَلِّمُهُمُ اللّٰهُ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ وَلَا يُزَکِّيۡهِمۡ ۖۚ وَلَهُمۡ عَذَابٌ اَ لِيۡمٌ

Innal laziina yaktumuuna maaa anzalal laahu minal kitaabi wa yashtaruuna bihii samanan qaliilan ulaaa'ika maa yaakuluuna fii butuunihim illan Naara wa laa yukallimu humul laahu Yawmal Qiyaamati wa laa yuzakkiihim wa lahum 'azaabun aliim.

Artinya:

"Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka hanya menelan api neraka ke dalam perutnya, dan Allah tidak akan menyapa mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih". (QS. Al-Baqarah: 174)

  • Al-Baladah alias Bodoh

Rasul juga tidak mungkin bodoh, sebagaimana termaktub di dalam firman Allah Swt. ini:

خُذِ الۡعَفۡوَ وَاۡمُرۡ بِالۡعُرۡفِ وَاَعۡرِضۡ عَنِ الۡجٰهِلِيۡنَ

Khuzil 'afwa waamur bil'urfi waa'rid 'anil jaahiliin.

Artinya:

"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh". (QS. Al-A'raf: 199).

Walaupun di dalam menjalankan perintah Allah Swt., para rasul sering mengalami kesulitan dan tantangan yang berat, tetapi mereka tidak pernah mundur dan tetap setia pada sifat wajib mustahil dan jaiz bagi rasul.(BRP)