Konten dari Pengguna

Sisi-Sisi dari Segitiga Restitusi dan Contohnya

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 Ilustrasi Apa Saja Sisi-Sisi dari Segitiga Restitusi. Sumber: Foto Unsplash/National Cancer Institute
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Apa Saja Sisi-Sisi dari Segitiga Restitusi. Sumber: Foto Unsplash/National Cancer Institute

Apa saja sisi-sisi dari segitiga restitusi? Segitiga restitusi merupakan salah satu materi yang sering dibahas dalam modul pembelajaran yang mengkaji tentang disiplin diri.

Berdasarkan buku Diferensiasi: Memahami Pelajar untuk Belajar Bermakna dan Menyenangkan, Najelaa Shihab, (2021:83), restitusi adalah kerangka kerja untuk mengenalkan disiplin diri pada anak-anak maupun orang dewasa.

Apa Saja Sisi-Sisi dari Segitiga Restitusi?

Ilustrasi Apa Saja Sisi-Sisi dari Segitiga Restitusi. Sumber: Foto Unsplash/CDC

Apa saja sisi-sisi dari segitiga restitusi beserta contohnya yang mudah dipahami? Berikut adalah sisi-sisi dari segitiga restitusi beserta contohnya mengutip dari buku Jejak Para Penggerak, Guru Penggerak Angkatan 7 Kabupaten Bandung Barat.

1. Menstabilkan Identitas (Stabilize the Identity)

Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. Anak yang melanggar peraturan karena sedang mencari perhatian adalah anak yang sedang mengalami kegagalan.

Anak tersebut mencoba untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, tetapi ada benturan. Jika mengkritiknya maka akan tetap membuatnya dalam posisi gagal. Adapun contoh kalimat yang dapat digunakan untuk mereflektif anak tersebut adalah, sebagai berikut:

  • Berbuat salah itu tidak apa-apa.

  • Tidak ada manusia yang sempurna.

  • Banyak orang juga pernah melakukan kesalahan seperti itu.

  • Yakinlah bisa menyelesaikan ini.

2. Validasi Tindakan yang Salah

Setiap tindakan dilakukan dengan suatu tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Jika memahami kebutuhan dasar apa yang mendasari sebuah tindakan, maka dapat menemukan cara-cara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Menurut Teori Kontrol semua tindakan manusia, baik atau buruk, pasti memiliki maksud atau tujuan tertentu. Seorang guru yang memahami teori kontrol pasti akan mengubah pandangannya dari teori stimulus response ke cara berpikir proaktif yang mengenali tujuan dari setiap tindakan. Contoh kalimat yang bisa digunakan adalah:

  • Padahal kamu bisa melakukan yang lebih buruk dari ini ya?

  • Kamu pasti punya alasan mengapa melakukan hall itu.

  • Kamu patut bangga pada dirimu sendiri karena kamu telah melindungi sesuatu yang penting buatmu.

  • Kamu boleh mempertahankan sikap itu, tapi kamu harus menambahkan sikap yang baru.

3. Menanyakan Keyakinan (Seek the Belief)

Teori kontrol menyatakan bahwa pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika identitas sukses telah tercapai dan tingkah laku yang salah telah divalidasi, maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan.

Contoh pertanyaan di bawah ini menghubungkan keyakinan anak dengan keyakinan kelas atau keluarga.

  • Apa yang kita percaya sebagai kelas atau keluarga?

  • Apa nilai-nilai umum yang kita telah sepakati?

  • Apa bayangan kita tentang kelas yang ideal?

  • Kamu mau jadi orang yang seperti apa

Baca juga: 5 Cara Mengisi Kemerdekaan Indonesia dengan Hal Positif

Itulah sisi-sisi dari segitiga restitusi beserta contohnya yang mudah dipahami. Penting untuk melakukan penguatan terhadap perilaku yang baik dalam memberikan pendidikan. (Adm)