Sosok yang Mengasuh Rosulullah SAW setelah Kakek Nabi Wafat

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah ayah dan ibu Nabi wafat, yang melanjutkan mengasuhNya adalah sang kakek yang bernama Abdul Mutholib. Rosulullah shalallahu alaihi wasallam lahir pada tahun gajah, yakni ketika pasukan gajah yang akan menghancurkan Ka'bah. Namun atas kuasa Allah SWT, pasukan gajah dihancurkan dengan burung ababil yang membawa kerikil dari neraka. Meski terlahir pada tahun tersebut, Rosulullah shallallahu alaihi wasallam lahir tanpa seorang ayah. Bahkan, ibunya meninggal ketika berusia 6 tahun.
Akan tetapi, kakeknya hanya mengasuhnya hanya dua tahun saja. Setelah meninggalnya Abdul Mutholib, sosok yang mengasuh Rosulullah sholallahu alaihi wasallam setelah wafatnya kakeknya adalah Abu Thalib. Siapakah dia?
Sosok yang Mengasuh Rosulullah SAW setelah Kakek Nabi Wafat
Abdul Munaf bin Abdul Muthalib atau yang dikenal dengan Abu Thalib adalah seorang pemimpin Bani Hasyim setelah meninggalnya ayahnya. Ia diminta mengasuh Rosulullah SAW dan mendukung dalam berdakwah.
Mengutip dari buku Orang Kafir Dalam Keluarga Nabi SAW oleh Ahmad Sarwat, Lc., MA (2019:8), Abu Thalib diminta untuk menjadi ayah angkat yang merupakan kakak dari Abdullah, ayah kandung Rasululllah SAW. Ia menikah dengan Fatimah binti Asad dan memiliki empat anak laki-laki dan dua orang anak perempuan, yakni:
Thalib bin Abu Thalib
Ja'far bin Abu Thalib
Ali bin Abu Thalib
Aqil bin Abu Thalib
Ummu Hani Fakhtihah binti Abu Thalib
Jumanah binti Abu Thalib
Dalam melasanakan dakwahnya, Rosulullah SAW tidak henti-hentinya mendapat gangguan dari kaum Quraisy. Seseorang yang selalu membelanya adalah Abu Thalib. Ia menyatakan secara terang-terangan dalam pertemuan para petinggi Quraisy bahwa ia mendukung sepenuhnya dan membela dakwah Rosulullah SAW.
Bahkan, para petinggi kaum Quraisy seperti Abu Lahab dan Abu Jahal menemui dan membujuk Abu Thalib agar membujuk Rosulullah SAW berhenti menyebarkan agama Islam. Jika menolaknya, kaum Quraisy akan membunuh Rosulullah SAW.
"Wahai Abu Thalib, banyak orang tidak senang dengan ucapan Muhammad yang mengaku menjadi nabi dan memusuhi tuhan kita. Jika hal ini terus dibiarkan, aku khawatir Muhammad akan dibunuh karena sikapnya yang menyakiti orang banyak," kata Abu Jahal sambil marah kepada Muhammad.
Kepada Abu Jahal dan Abu Lahab serta rombongan petinggi Quraisy, Abu Thalib menjawab, "Tentang pengakuan Muhammad yang menjadi nabi itu tidak perlu dipermasalahkan karena dia tidak pernah memaksa kita untuk mempercayainya. Ia (Muhammad) juga tidak marah kalau kita tidak menjadi pengikutnya. Contohnya aku sendiri masih tetap memeluk agama nenek moyang kita. Muhammad tidak pernah memaksaku untuk memeluk Islam," kata Abu Thalib.
Abu Thalib mengurus bahkan mendampingi Rosulullah SAW hingga berusia 40 tahun. Saat ia meninggal dunia, ia diminta untuk mengucapkan syahadat. Akan tetapi hingga akhir hayatnya, ia tidak pernah mengucapkannnya.
Sebagai keutamaan dari mengasuh Rosulullah SAW hingga membelanya dalam dakwah, di akhirat nanti ia akan menjadi seorang kafir yang mendapatkan siksaan paling mudah. Selain itu, di akhirat nanti ia akan berada di permukaan neraka.
Sebagaimana yang ditanyakan Abbas, bahwa Rosulullah SAW bersabda,
“Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka.” (HR. Ahmad 1774 dan Bukhari 3883)
Demikianlah informasi singkat profil dari Abu Thalib, paman Rosulullah SAW yang mengasuh dan membela keponakan dalam mendakwahkan Islam.(MZM)
