Tahapan Pertama Prosesi Palang Pintu dalam Budaya Betawi

Penulis kumparan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Betawi adalah salah satu suku di Indonesia yang kebanyakan penduduknya menempati wilayah Jakarta dan sekitarnya. Jika berbicara tentang budaya suku Betawi, Palang Pintu merupakan salah satu tradisi yang sangat terkenal dengan keunikannya. Dalam melaksanakan tradisi pernikahan yang satu ini, terdapat beberapa tahapan yang perlu dipenuhi. Misalnya saja, Tahapan pertama prosesi palang pintu adalah salawat dustur. Untuk mengetahui secara lengkap tentang prosesi Palang Pintu, simak penjelasan di bawah ini.
Tahapan Pertama Prosesi Palang Pintu dalam Budaya Betawi
Tradisi Palang Pintu merupakan sebuah tradisi mahligai pintu pernikahan adat Betawi yang berisi atraksi pencak silat, balas pantun, hingga pembacaan salawat sebagai bentuk ujian yang harus dilalui mempelai pria ketika membuka pintu restu dari mempelai perempuan.
Dalam bahasa Betawi, palang memiliki arti penghalang agar orang atau sesuatu tidak bisa masuk atau lewat. Dengan kata lain, tradisi Palang Pintu memiliki maksud dari pihak laki-laki membuka pintu restu dari mempelai perempuan. Sedangkan pintu yang dijaga oleh jawara melambangkan mempelai laki-laki harus ditaklukkan.
Pelaksanaan Tradisi Palang Pintu
Windoro Adi dalam bukunya berjudul Batavia, 1740 (2010:304), pelaksanaan dari tradisi palang pintu yakni:
Acara palang pintu dimulai saat rombongan calon pengantin laki-laki disambut rombongan calon pengantin perempuan di depan pagar rumah. Kedua pihak saling menyapa dengan pantun. Selanjutnya beriangsung "adu jago" antara beberapa pemain pukul (pesilat) calon pengantin pria dengan para pemaen pukul calon pengantin perempuan.
Pada akhir acara, para pemain pukul calon pengantin perempuan kalah oleh para pemaen puku atau calon pengantin pria. Rombongan calon pengantin pria lalu dipersilakan masuk rumah orangtua calon pengantin perempuan.
Tradisi palang pintu melambangkan besarnya perlindungan orangtua terhadap putrinya sebelum dipisahka oleh pernikahan. Di sisi calon penganti pria, palang pintu melambangka tekad keras dan kesungguhannya hendak membangun bahtera rumah tangga bersama gadis pilihan hatinya.
Gerakan maen pukul yang dilakukan pada acara palang pintu adalah gerakan maen pukul Cingkrik, bela diri asli Rawa Belong.
Mengutip skripsi Lita Jamallia dengan judul Tradisi Buka Palang Pintu Pada Pernikahan Masyarakat Betawi, tahapan dari prosesi buka palang pintu yakni:
Tahapan Pertama
Pada tahapan pertama pengantin laki-laki dibacakan solawat dustur dan solawat marhaban yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai perantara ke Allah, dan solawat tersebut juga diiringi dengan rebana ketimpring, tujuan dari solawat tersebut agar selamat, dan diberikan kelancaran dalam acara pernikahan.
Sebenarnya rebana yang digunakan adalah rebana ketimpring (rebana kecil-kecil) yang paling sah dan asli. Tetapi ada juga yang memakai marawis. Serta pemasangan petasan bertujuan untuk memeriahkan dan memberitahu bahwa calon pengantin laki-laki akan datang ke kediaman mempelai wanita.
Tahapan Kedua
Pada tahap kedua, sesampainya calon pengantin laki-laki ke tempat mempelai wanita, ada perwakilan yang membuka awal pembicaraan dengan mengucapkan salam Assalammualaikum yang bermakna mendoakan keselamatan dan kedamaian serta bermakna jika ingin ingin bertamu harus permisi dengan tuan rumah dan salam tersebut juga dijawab oleh perwakilan dari pihak mempelai wanita.
Tahapan Ketiga
Pada tahapan ketiga adalah saling melempar pantun. Pantun yang digunakan adalah pantun jenaka dengan bahasa yang sopan dan untuk mencairkan suasana ketegangan mempelai laki-laki sebelum akad nikah. Pantun mempunyai makna sebagai simbol bahwa masyarakat Betawi mempunyai selera humor yang tinggi. Dialog Pantun yang digunakan berisi seputar maksud dan tujuan kedatangan pihak laki-laki.
Tahapan Keempat
Pada tahapan keempat adalah harus dipenuhinya syarat membuka palang pintu dengan beradu ilmu silat menunjukkan jurus pukulan. Silat bukan berarti untuk berkelahi melainkan untuk bela diri. Orang Betawi di Tanjung Barat sering menyebutnya dengan “main pukul” yang mempunyai makna agar dapat melindungi keluarga dan anak-anaknya, membersihkan hati serta menjauhkan diri dari kesombongan. Jurus silat yang digunakan beraneka macam karena silat yang digunakan hanya sebagai simbol dan seni pertunjukkan saja.
Tahapan Kelima
Tahapan kelima adalah pembacaan sikeh. Dalam bahasa Betawi, pembacaan sikeh adalah pembacaan yalil tetapi untuk bahasa memperindah bacaan Al-Quran disebut sikeh. Pembacaan sikeh mempunyai makna bahwa orang Betawi selain harus bisa silat, sebagai umat Islam, umat Nabi Muhammad SAW harus bisa mengaji itu yang dianjurkan oleh Allah dan bukan hanya Islam KTP saja. Setelah selesai pembacaan sikeh, pihak mempelai laki-laki dan tamu rombongan dipersilahkan masuk untuk melakukan acara akad nikah.
Itu dia tahapan dari Palang Pintu sebagai tradisi pernikahan dalam budaya Betawi. Setelah mengetahui tradisi yang satu ini, apakah Anda tertarik untuk menggunakannya pada acara pernikahan?(MZM)
