Teknik Pola Lantai Tari Perang dari Nias

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki ciri khas adat-istiadat tersendiri bagi setiap wilayah kedaerahannya. Tak terkecuali dengan Nias, daerah ini memiliki tarian adat bernama seni tari Perang. Tentunya ada teknik pola lantai tersendiri dalam taro perang. Bacalah pembahasan berikut untuk mengetahui gambaran teknik pola lantai Tari Perang Nias.
Mengutip buku Bank Soal Seni Budaya dan Prakarya SD/MI kelas 4,5,6 karya Uly Amalia dkk (49:2022), bentuk pola lantai karya tari sebaiknya disesuaikan dengan jumlah penari, tempat pertunjukan dan gerak tari.
Baca juga: Menari Perang, Simbol Masyarakat Nias Selatan Menangkan ERAMAS
Pola lantai Tari Perang dari Pulau Nias
Bagaimana pola lantai Tari Perang dari Nias, Indonesia? Penjelasan lengkapnya dapat disimak dalam ulasan berikut.
Tari perang menggunakan bentuk pola lantai lingkaran besar karena jumlah penari yang banyak. Tarian yang berasal dari Nias Selatan ini, membentuk pola lingkaran yang sesuai dengan tempat pertunjukan. Biasanya pertunjukan tari perang dilalukan di lapangan. Bentuk pola lingkaran tersebut juga sesuai dengan gerak tari berlari berputar yang ada pada tari tersebut.
Gerakan tari perang
Berikut adalah gambaran gerakan tari perang pada umumnya:
Gerakan mengayunkan pedang dan tombak.
Gerakan melingkar.
Gerakan kaki maju mundur.
Peran dalam tari perang
Dalam tari perang, setiap penari akan memiliki peran masing-masing yang diantaranya sebagai berikut:
Peran komando atau pemimpin yang akan memimpin strategi perang.
Pemandu hoho yang berperan sebagai pemandu syair yang menyanyikan ungkapan semangat perjuangan atau spirit patriotisme.
Peran sondoro dalam tarian perang sangat penting terutama dalam mengobarkan dan membangkitkan spirit spartan yang menggambarkan semangat daya juang, pantang menyerah, dan sikap kepahlawanan tanpa rasa takut hingga titik darah penghabisan.
Peran prajurit perang atau bohalima.
Dalam hal ini, keberhasilan seorang pemandu hoho dalam membacakan Hoho Faluaya (syair penyemangat) dibuktikan dari respons para bohalima yang meriah.
Sejarah singkat Tari Perang
Usut punya usut, dahulu di Pulau Nias sering terjadi peperangan terkait perebutan lahan kekuasaan kampung. Pemimpin atau petinggi kampung Nias yang disebut dengan Si ’Ulu berinisiatif untuk mengumpulkan para pemuda Nias untuk berlatih peperangan, agar mereka dapat mempertahankan kampung dan daerah kekuasaan dari serangan musuh.
Namun saat ini, tari perang tidak diperuntukkan lagi untuk momentum berperang melainkan hanya bertugas untuk melakukan acara adat saja, seperti upacara perayaan hari-hari tertentu, penikahan dan sebagainya.
Demikian ulasan tentang bagaimana teknik pola lantai Tari Perang Nias. Semoga dengan mempelajari tarian adat dapat memperkaya wawasan nusantara dan cinta terhadap Bangsa Indonesia. (ANG)
