Konten dari Pengguna

Teks Kultum Ramadhan untuk Memotivasi Umat Muslim

Berita Terkini
Penulis kumparan
28 April 2021 17:04 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Teks Kultum. Foto: dok. https://unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Teks Kultum. Foto: dok. https://unsplash.com
ADVERTISEMENT
Kultum Ramadhan merupakan salah satu sarana yang banyak digunakan umat Islam untuk meningkatkan pemahaman agama dan juga keimanan di bulan Ramadhan. Kultum Ramadhan ini dapat berisi tentang hukum yang berlaku di agama Islam hingga nasihat agama untuk memotivasi umat Islam agar dapat memaksimalkan diri dalam beribadah. Berikut ini adalah salah satu contoh teks kultum Ramadhan yang dapat Anda pahami untuk memotivasi diri.
ADVERTISEMENT

Teks Kultum Ramadhan

Kultum Ramadhan biasanya banyak diperdengarkan di berbagai media, mulai majelis ta’lim di setiap Masjid hingga kultum yang disiarkan dalam media elektronik. Materi kultum Ramadhan ini beragam, materi yang berisi motivasi untuk memperbanyak ibadah menjadi materi kultum Ramadhan yang paling banyak dikaji. Berikut ini adalah salah satu teks kultum Ramadhan yang dapat Anda resapi untuk memotivasi Anda dalam beribadah yang dikutip dari buku berjudul Islam Rahmat Bagi Alam Semesta yang disusun oleh Tim Penceramah JIC (2005:31-33).
Sebagai bulan yang suci dan luhur, banyak istilah yang melekat pada bulan Ramadan. Nama-nama lain bulan Ramadan, di antaranya: pertama, Sayyid al-syuhur (bulan yang agung). Ramadan disebut juga bulan yang agung karena pada bulan itu Allah SWT menurunkan Alquran, sedangkan Alquran adalah petunjuk hidup bagi manusia.
ADVERTISEMENT
Kedua, Syahr al mubarak (bulan yang penuh dengan keberkahan), karena pada bulan itu amal ibadah dinilai lebih tinggi oleh Allah SWT dibanding bulan yang lain.
Ketiga, Syahr al-rahmah, bulan dicurahkannya rahmat bagi yang ingin mendapatkannya. Keempat, Syahr al-maghfirah (bulan yang penuh dengan ampunan). Bulan Ramadan adalah momen yang tepat untuk mengingat kekhilafan dan kekeliruan. Terakhir, Syahr al-‘adzimah (bulan yang agung).
Pada bulan Ramadan terdapat malam lailatul qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Gegap gempita menyambut bulan Ramadan telah terjadi jauh hari sebelum bulan itu tiba. Suasana religius menjadi semakin meriah saat detik-detik waktu memasuki Ramadan.
Manusia menjadi taat beribadah dan masjid dipenuhi oleh para jamaah. Sayangnya, gambaran ketaatan itu hanya terjadi sesaat, hanya di bulan Ramadan saja. Kita tidak akan mendapati lagi nuansa ketaatan itu di bulan-bulan lainnya. Padahal Islam menginginkan setiap muslim untuk berjiwa rabbani.
ADVERTISEMENT
Jiwa yang tali hubungannya dengan Allah SWT sangat kuat dengan ibadah yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus. Bukan menjadi manusia yang berjiwa ramadhani atau beribadah musiman, hanya pada bulan Ramadan.
Beribadah. Foto: dok. https://pexels.com
Yang dimaksud manusia rabbani adalah bukan manusia tanpa dosa, yang terbebas dari kekhilafan dan kekeliruan. Manusia rabbani adalah manusia yang suka bertaubat, merasa menyesal jika berbuat salah dan segera kembali kepada Allah SWT jika berbuat dosa. Lalu dengan cara apa Islam menanam kan jiwa yang rabbani?
Islam menanamkan jiwa yang rabbani dengan jalan ibadah. Salah satunya adalah puasa. Ibadah puasa adalah sebuah bentuk pendidikan dan pelatihan bagi manusia yang ingin membangun kadar kejujuran dan ketakwaan.
Selama menunaikan ibadah puasa, seorang muslim tidak diperkenankan mengikuti kemauan syahwatnya: makan, minum, bersenggama, dari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.
ADVERTISEMENT
Di sinilah kejujuran dan keimanan seorang muslim diuji. Ibadah-ibadah yang diperintahkan agama, baik yang wajib maupun yang sunah, tidak sekedar dimaksudkan untuk menjadikan seorang muslim dekat dengan Penciptanya di saat dia melakukan ibadah tersebut, setelah itu hilang ikatannya dengan Allah SWT, kembali lagi menjadi cinta pada dunia dan mengikuti hawa nafsunya.
Akan tetapi ibadah-ibadah itu di arahkan agar tetap berhubungan dengan Allah SWT pada setiap saat dari kehidupannya. Dr. Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Karakteristik Islam; Kajian Analitik mengatakan bahwa Islam tidak rela jika ada se orang muslim yang hanya rabbani pada bulan suci Ramadan, jika Ramadan telah berakhir maka berakhir pula ibadah maupun ketaatannya kepada Allah SWT. Seolah-olah mengultus kan Ramadan dan bukan menyembah Tuhannya Ramadan.
ADVERTISEMENT
Karenanya para ulama generasi al-salafus shalih berkata, “Jadilah Anda rabbani dan jangan jadi ramadhani (beribadah musiman, hanya pada bulan Ramadan). Islam tidak menginginkan itu semua terjadi atas diri seorang muslim. Yang diinginkan Islam adalah terjalinnya hubungan yang terus-menerus dengan Allah SWT: di masjid, rumah, tempat kerja, pada bulan suci Ramadan, Syawal dan bulan-bulan yang lain.
Hubungan yang luhur itu harus tetap terjalin dalam iklim atau suasana haji yang begitu sakral (suci) di Mekah, Madinah, dan sepulang ke tanah air, di setiap saat dan tempat. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Bertakwalah kepada Allah SWT di mana saja kalian berada! Susul lah perbuatan yang tidak baik dengan perbuatan yang baik. Perbuatan baik itu akan menghapuskan perbuatan yang tidak baik. Dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik.” Sesungguhnya Allah SWT menyenangi amal yang berkelanjutan, terus-menerus.
ADVERTISEMENT
Kita berlindung kepada Allah SWT agar tidak menjadi bagian dari generasi ramadhani dan berdoa agar dijadikan oleh Allah SWT sebagai generasi rabbani.
(Zainuddin Hamka)
Teks kultum Ramadhan tersebut dapat Anda pahami dan resapi untuk dapat memperoleh manfaat dan hikmah dari nasihat agama yang dipaparkan dalam kultum tersebut. Semoga bermanfaat. (DA)