Teks Narasi Bahasa Jawa: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contohnya

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam suatu teks, kita bisa mendapatkan informasi, pemberitahuan, kabar, atau berita tentang sesuatu. Berdasarkan isinya, teks dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu teks deskripsi, teks narasi, teks argumentasi, teks persuasi, dan teks eksposisi. Nah, artikel kali ini akan membahas lebih spesifik tentang pengertian dan contoh teks narasi bahasa Jawa.
Apa itu teks narasi? Dikutip dari buku Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SD/MI Kelas IV yang ditulis oleh Tim Tuntas Karya Guru Tatang (2017: 56), teks narasi adalah bentuk tulisan yang menceritakan kejadian berdasarkan urutan waktu. Teks narasi dibangun oleh sebuah alur cerita dan biasanya memiliki unsur-unsur tokoh, latar, dan konflik di dalamnya.
Dikutip dari buku LIBAS AKM untuk SD/MI 2021 yang ditulis oleh Fitri Lianingsih (2020: 39), struktur teks narasi dapat dibagi menjadi empat, yaitu:
Orientasi: menggambarkan tentang tokoh dan karakter, latar, dan alur dari cerita tersebut.
Komplikasi: berisi tentang pengenalan konflik atau masalah yang terjadi dalam cerita tersebut.
Resolusi: berisi tentang bagaimana akhir atau ending dari cerita.
Koda: petuah atau nilai-nilai moral yang terkandung dalam teks narasi tersebut dan diharapkan dapat diambil hikmahnya oleh pembaca.
Contoh Teks Narasi Bahasa Jawa
Berikut adalah contoh teks narasi bahasa Jawa yang dikutip dari jurnal berjudul Unsur-unsur Paragraf Narasi dalam Bahasa Jawa yang ditulis oleh Sri Nardiati (2015: 110):
Wong-wong padha megeng napas. Pak Amat Usup nggrayang otot ketege, kabeh wis padha siyaga ambiyantu. Lurah Darmin ora bisa ngucap, mapane lungguh ana penere sirah. Harjita kaya tugu. Mripate Supini melek maneh tumenga kaya ana sing dipandeng lan lambene umak-umik kaya lagi ana sing diucapake, wusana banjur les ... merem. (Semua orang menahan nafas. Pak Amat Usup meraba urat nadinya, semua sudah siaga membantu. Lurah Darmin tidak dapat mengucap, tempat duduknya tepat lurus dengan kepala. Harjita diam bagai tugu. Mata Supini terbuka lagi menengadah seperti ada yang dipandang dan bibirnya komat-kamit seperti ada yang diucapkan, akhirnya terus ... terpejam).
Partadikrama kekah nampik, Sumardi boten purun ngawon, malah ing wekasanipun lajeng adora-cara, ngaken bilih arta sampun katampekaken dhateng Abdulsukur sadaya. Partadikrama ... sangsaya judheg. (Partadikrama tetap menolak, Sumardi tidak mau mengalah, malahan pada akhirnya berbohong, mengaku kalau uang sudah diterimakan kepada Abdulsukur semua. Partadikrama ...semakin sedih).
Semoga bermanfaat! (CHL)
