Tujuan Puasa Mutih 3 Hari dalam Tradisi Masyarakat Jawa

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puasa mutih merupakan salah satu tradisi yang ada di kalangan masyarakat Jawa kuno. Banyak sekali tujuan dilakukannya puasa mutih misalnya untuk rezeki, jodoh, bahkan hal-hal yang berhubungan dengan dunia gaib. Apa sebenarnya tujuan dari puasa mutih3 hari dalam tradisi masyarakat Jawa?
Pengertian Puasa Mutih
Puasa mutih adalah riatual puasa yang dilakukan dengan cara tidak makan dan minum, kecuali hanya makan nasi putih dan air putih seadanya saja. Puasa ini dikenal di kalangan orang-orang yang memiliki aliran terhadap kejawen dan tradisi tertentu. Puasa mutih terkenal di kalangan masyarakat Jawa.
Istilah mutih sberasal dari istilah Jawa yang memiliki artu memutihkan, secara filosofis maknanya adalah agar orang yang melaksanakan puasa mutih ini hatinya bisa menjadi putih, bersih jiwanya, dan mendapatkan keberkahan sebagaimana filosofis dari warna putih sendiri.
Dikutip dari buku Sunan Kalijaga New Edition, Achmad Chidjim (2013: 54) melakukan mutih dan nawa selama empat puluh hari, dan bangun di waktu subuh sambil membaca kidung yang disertai sabar dan syukur, merupakan landasan bagi tercapainya kehendak dan timbulnya daya dari Allah SWT. Mutih dan nawa ini sebaiknya dilakukan ketika dalam keadaan senggang. Justru ketika tidak dalam kesulitan hidup. Dalam Bahasa, hadis memanfaatkan kesempatan sebelum datangnya kesempitan. Inilah disebut laku tirakat dalam khazanah Islam Jawa.
Tujuan Puasa Mutih
Tujuan dari melakukan puasa mutih sendiri bermacam-macam, misalnya untuk meraih keberhasilan atau sedang menginginkan sesuatu misalnya jodoh atau rezeki. Dalam masyarakat Jawa kuno, puasa mutih juga bertujuan untuk menguasai ilmu-ilmu gaib. Puasa mutih sendiri tidak terikat waktu bisa hanya tiga hari saja atau bahkan sampai 40 hari.
Untuk tata cara puasa mutih biasanya dilaksanakan mulai pukul 18.00 hingga diakhiri pada 18.00 keesokan harinya. Sedangkan dalam sejumlah sumber juga disebutkan bahwa puasa mutih dapat dilakukan dengan du acara yaitu :
Masih diperbolehkan makan dan minum beberapa kali sehari sesuai waktu makan hanya jenis makanan berwarna putih saja.
Puasa mutih dilakukan dengan hanya satu kali makan saat berbuka puasa dan dilanjutkan hingga bangun tidur di hari kedua lalu kembali makan atau minum hanya jenis makanan berwarna putih saja.
Demikian pembahasan mengenai puasa mutih 3 hari dan tujuannya yang merupakan salah satu tradisi dalam masyarakat Jawa. (WWN)
