Konten dari Pengguna

Tulisan Matur Nuwun yang Benar dalam Percakapan Sehari-hari

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ungkapan Terima Kasih. (Foto: https://pixabay.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ungkapan Terima Kasih. (Foto: https://pixabay.com/id/)

Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan oleh penduduk bersuku Jawa di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan sebagian Jawa Barat. Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa yang besar di wilayah Republik Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah penutur bahasa Jawa yang banyak tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Adapun bahasa Jawa mudah ditemukan di sekitar lingkungan kita, misalnya tulisan matur nuwun di selebaran iklan atau di pamflet rumah makan.

Dikutip dari jurnal yang berjudul Variasi Tindak Tutur Ekspresif Lintas Bahasa (Jawa dan Mandailing) yang ditulis oleh Della Nathania, dkk (2016: 247), bahasa Jawa memiliki keunikan tersendiri, yaitu memiliki undhak-undhuk basa atau etiket dalam berbahasa Jawa. Terdapat tiga bentuk variasi dalam ucapan maupun tulisan bahasa Jawa, yaitu ngoko (kasar), madya (biasa), dan krama (halus). Ngoko digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang sudah akrab atau sederajat, krama digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau lebih tinggi, dan madya digunakan untuk berkomunikasi dengan mitra bicara yang status sosialnya lebih rendah dari pembicara.

Nah, artikel kali ini akan membahas lebih spesifik mengenai tulisan matur nuwun dalam bahasa Jawa dan penggunaannya yang benar dalam percakapan sehari-hari.

Matur Nuwun dalam Bahasa Jawa

Ilustrasi Ungkapan Terima Kasih. (Foto: https://pixabay.com/id/)

Dikutip dari buku Pola Komunikasi Masyarakat Hierarkis yang ditulis oleh Majid Wajdi (2021: 255), matur nuwun masuk dalam kategori Krama (H) yang berarti terima kasih. Adapun verba matur memiliki arti ‘berbicara/mengatakan’, yang mana verba ini memiliki makna inferior berbicara kepada superior. Dengan ungkapan lain, verba matur digunakan oleh bawahan etika berbicara kepada atasan. Ucapan matur nuwun dapat dikategorikan sebagai krama ngoko yang sering digunakan oleh yang lebih muda terhadap orang tua atau yang dihormati dalam masyarakat Jawa.

Agar lebih jelas, berikut contoh penggunaan tulisan matur nuwun dalam percakapan sehari-hari:

  1. Kulo ngaturaken matur nuwun sampun angsal nginep. (Saya mengucapkan terimakasih sudah diperbolehkan bermalam)

  2. Matur nuwun sanget nggih. (Terima kasih banyak ya!)

  3. Matur sembah nuwun Gusti. (Terima kasih banyak, ya Tuhan)

Semoga informasi ini bermanfaat! (CHL)