Konten dari Pengguna

Urutan Prosesi Upacara Adat Ujungan untuk Meminta Hujan

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi urutan proses upacara adat ujungan, sumber foto Stillness InMotion on Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi urutan proses upacara adat ujungan, sumber foto Stillness InMotion on Unsplash

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kebudayaan yang beragam, bahkan sampai saat ini upacara adat dengan tujuan tertentu masih banyak dilakukan oleh masyarakat. Salah satunya adalah upacara adat ujungan yang bertujuan untuk meminta hujan. Kemarau yang panjang memang sangat menyiksa karena semua menjadi serba sulit terutama bagi para petani.

Oleh karena itu masyarakat melakukan upacara adat ujungan, salah satu wilayah yang masih sering melaksanakan upacara ujungan adalah warga Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Artikel ini akan mengulas mengenai urutan proses upacara adat ujungan yang tujuan utamanya adalah meminta turunnya hujan pada Tuhan.

Urutan Prosesi Upacara Adat Ujungan untuk Meminta Hujan

Ilustrasi urutan proses upacara adat ujungan, sumber foto Polina Kuzovkova on Unsplash

Dikutip dari Buku Relasi Agama dan Tradisi Lokal karya Nor Hasan dan Edi Susanto, (2021) tradisi ujungan merupakan bentuk kesenian yang berkaitan langsung dengan kekuatan supranatural daerah di Banyumas Jawa Tengah, Ujungan merupakan bentuk seni pertunjukan yang tersaji melalui adu manusia di lapangan terbuka dengan bersenjatakan rotan.

Lebih dari itu, bagi masyarakat Gumelem Kulon, ujungan tidak hanya sekedar seni pertunjukan, melainkan lebih sebagai bentuk upacara ritual yang berkaitan dengan warga setempat.

Untuk urutan proses upacara adat ujungan dilakukan oleh dua orang pria yang masing-masing membawa senjata sebatang pohon rotan dengan panjang sekitar 60 sentimeter, dalam mana rotan digunakan untuk memukul lawannya dengan sasaran mulai dari pusar ke bawah. Pertandingan dipimpin oleh seorang wasit yang disebut dengan wlandang Satu ronde pertarungan disebut dengan satu pajon.

Dalam satu pajon inilah para peserta Ujungan bertarung dengan lawannya hingga ada salah satunya dinyatakan kalah. Masyarakat setempat percaya dan berkeyakinan bahwa semakin banyak darah yang keluar di arena pertarungan maka hujan akan semakin cepat turun.

Oleh Karena itu, tiap-tiap peraga ujungan dalam pertarungannya tidak sekedar mempertaruhkan kekuatan fisik dan harga diri, akan tetapi, ia juga melengkapi dirinya dengan kekuatan gaib (supernatural) agar dapat mengalahkan lawannya. Karena itu, sebelum melakukan ujungan, para peserta terlebih dahulu melakukan ritual atau tirakat dengan cara laku lahir batin dengan banyak mengurangi makan dan mengurangi tidur, seperti tirakat, ngrowot, puasa, ngebleng dan mutih.

Demikian adalah pembahasan mengenai urutan prosesi upacara adat ujungan yang memiliki tujuan utama untuk meminta hujan saat kemarau panjang. (WWN)