Konten dari Pengguna

5 Teknologi Canggih NASA yang Banyak Negara Belum Punya

Berita Unik

Berita Unik

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Unik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Logo NASA. Foto: NASA
zoom-in-whitePerbesar
Logo NASA. Foto: NASA

Banyak negara bermimpi untuk memiliki teknologi tercanggih di dunia. Sayangnya, hanya segelintir negara yang mampu memiliki teknologi mutakhir karena berbagai alasan.

Tapi ternyata, salah satu badan di bawah pemerintahan Amerika Serikat telah miliki banyak teknologi canggih yang hingga hari ini masih diimpikan negara lain. Bahkan kebanyakan teknologi ini dikembangkan secara mandiri di AS.

Badan tersebut adalah National Aeronautics and Space Administration atau NASA. Badan antariksa AS tersebut telah banyak mengembangkan teknologi paling canggih di dunia untuk keperluan penelitian dan misi luar angkasa.

Apa saja kira-kira teknologi canggih yang diinginkan oleh banyak negara namun hanya NASA yang mampu mengembangkan hingga hari ini? Berikut daftarnya!

1. Roket Luar Angkasa Raksasa

Lima Space Shuttle atau roket berukuran raksasa milik NASA. Foto: NASA

Sebagai pemimpin dalam banyak misi luar angkasa, tentu NASA telah mengembangkan roket sejak puluhan tahun lalu. Namun seperti diketahui, Space Shuttle miliki NASA telah lama tak beroperasi.

Sejak berhentinya Space Shuttle pada tahun 2011, roket baru telah dipersiapkan. Pada tahun 2018, Space Launch System (SLS) mulai dikembangkan NASA.

Roket ini sendiri diprediksi dapat membawa 70 metrik ton perlengkapan ke orbit. Bisa dibayangkan betapa besarnya ukuran roket ini agar mampu mengangkut beban tersebut.

Kendaraan ini sendiri diperkirakan akan menjadi kendaraan terbesar yang pernah dibuat manusia dengan tinggi 116 m. Dengan kendaraan ini diharapkan perjalanan ke Mars akan lebih memungkinkan lagi dengan jarak yang sangat jauh dari Bumi.

2. Tenaga Pendorong Bertenaga Surya

Ilustrasi teknologi pendorong bertenaga surya. Foto: NASA/JPL

Jika teknologi tenaga surya sudah banyak digunakan di berbagai alternatif kehidupan kita di Bumi, hal yang sama juga digunakan oleh NASA untuk tenaga pendorong mereka ketika berada di luar angkasa.

Teknologi ini bahkan berkembang lebih luas ke berbagai objek yang memicu kemajuan lainnya. Penggunaan hidrogen dan oksigen cair sebagai bahan bakar mungkin akan berkurang sangat efisien jika teknologi ini mungkin diciptakan.

Apalagi jika kita mengingat akan adanya misi perjalanan jauh ke luar angkasa seperti planet Mars. Tangki bahan bakar yang dibutuhkan akan sangat besar sehingga tenaga surya merupakan alternatif yang tepat.

Pengujian teknologi pendorong bertenaga surya. Foto: NASA

Solar Electric Propulsion (SEP) begitulah sebutannya. Teknologi ini bekerja dengan melepaskan ion ke belakang dengan bantuan elektron dan gas xenon.

Berbeda dengan tenaga bahan bakar yang mampu memberikan dorongan dengan akselerasi tinggi, kecepatan SEP bertambah perlahan karena proses transformasi tenaga surya ke dorongan ion tidak sebentar. Namun, dorongannya diperkirakan bisa mencapai maksimal 321.000 km/jam.

3. Habitat Tinggal di Luar Angkasa

Deep Space Habitat. Foto: Sarah Loff via Wikimedia Commons

Setelah sampai di luar angkasa, hal yang dipikirkan adalah tempat tinggal. NASA ternyata sudah cukup baik mempersiapkan hal ini agar para astronaut tetap memiliki tempat tinggal yang layak.

Teknologi ini dikembangkan dengan nama Deep Space Habitat. Teknologi tersebut berbentuk modular yang harus dirakit dan mampu menampung hingga 40 orang dengan waktu tinggal 60-500 hari.

Bagian terbesar tempat ini adalah ruang untuk peralatan serta ruangan misi dan operasi di mana tempat dilakukannya penelitian, kontrol dan perbaikan alat. Sisanya, adalah ruang aktivitas untuk grup maupun individu.

4. Pakaian Luar Angkasa untuk Astronaut

Ilustrasi pakaian astronaut di luar angkasa. Foto: NASA

Baju astronaut biasanya kaku dan tidak fleksibel untuk bergerak. NASA pun bergerak untuk menciptakan pakaian luar angkasa yang nyaman untuk para astronaut.

di luar angkasa astronaut tidak akan hanya duduk diam di kemudi dan tempat tinggal namun membutuhkan ruang gerak yang cukup banyak. Dengan kondisi yang berbeda di tiap medannya, pakaian luar angkasa yang fleksibel dan kuat tentu sangat dibutuhkan.

Pakaian astronaut yang saat ini sedang dirancang dibuat dari bahan yang tipis dan mampu menahan radiasi di luar angkasa. Teknologi utama seperti augmented reality, bio-monitor dan self-healing material menjadi dasar pertimbangan NASA mengembangkan teknologi ini.

5. Komunikasi Menggunakan Laser

Percobaan komunikasi dengan laser di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Foto: NASA/JPL

Jarak dari planet Mars ke Bumi adalah sekitar 55 juta km (setara 36.000 kali pulang-pergi Jakarta ke Surabaya). Jarak yang cukup jauh ini menjadikan komunikasi menjadi sangat penting.

Hingga saat ini, kecepatan pengiriman data antara dua planet tersebut masih pada angka 250 kbps saja. Angka ini tentunya sangat tidak praktis untuk digunakan jika misi luar angkasa ke planet Mars semakin banyak.

Oleh karena itu, NASA melakukan pengujian komunikasi via laser pada tahun 2013. Penelitian ini dilakukan dengan nama Lunar Atmosphere and Dust Environment Explorer (LADEE).

Hasilnya, NASA berhasil mendapatkan kecepatan data mencapai 77 MB per detik dari target 1 GB per detik.Walaupun hasilnya masih sangat jauh dari target namun sampai saat ini penelitian masih dilakukan guna memperlancar alur komunikasi yang lebih baik.

(EDR)