Tekno & Sains
·
8 Desember 2020 13:04

Benarkah Turbulensi Bisa Bikin Pesawat Jatuh?

Konten ini diproduksi oleh Berita Unik
Benarkah Turbulensi Bisa Bikin Pesawat Jatuh? (289697)
searchPerbesar
Ilustrasi Turbulensi Pesawat Foto: Shutter Stock
Bagi sebagian orang, perjalanan naik pesawat terbang terkadang menimbulkan banyak kekhawatiran. Seorang yang merasa hal tersebut terkadang bisa merasa tegang setengah mati, apalagi saat pesawat mengalami gangguan seperti turbulensi di udara.
ADVERTISEMENT
Turbulensi ini mirip seperti kita naik mobil melintasi jalanan berlubang. Bedanya, saat turbulensi, pesawat mengalami kontak dengan pusaran udara ketika sedang terbang.
Pusaran udara bisa terbentuk karena pertemuan antara udara hangat dan dingin. Bisa juga gara-gara badai, arus kuat jet stream atau karena lokasi. Pesawat bisa mengalami turbulensi ketika melewati pegunungan atau kehadiran awan cumulonimbus.
Saat menabrak pusaran ini, pesawat bisa mengalami perubahan tinggi atau kemiringan secara tiba-tiba. Akibatnya, pesawat terasa seperti terayun-ayun.
"Kebanyakan penumpang berpikir bahwa pesawat tiba-tiba jatuh hingga ribuan kaki. Tapi, kita hanya menemukan terjadinya perubahan sebanyak 10 atau 20 kaki pada altimeter," ujar Patrick Smith, pilot pesawat komersial, seperti dilansir IFL Science.
"Kalau kita melihat dari sudut pandang saintifik, turbulensi adalah angin saja. Sering kali, kami, para pilot, tidak begitu memikirkannya," sambung dia.
Benarkah Turbulensi Bisa Bikin Pesawat Jatuh? (289698)
searchPerbesar
Ilustrasi penumpang pria mengeluh sakit kepala saat berada di dalam pesawat Foto: Shutter Stock
Pada 2017, University of Reading melakukan riset terkait turbulensi. Mereka menemukan bahwa jumlah turbulensi berbahaya akan meningkat secara drastis setelah tahun 2050.
ADVERTISEMENT
Menurut riset, ini adalah akibat perubahan iklim. Perubahan iklim itu menyebabkan temperatur global jadi meningkat. Hal itu memperbesar risiko terjadinya ketidakstabilan angin di ketinggian tinggi yang membuat semakin kuat dan seringnya terbentuk pusaran udara penyebab turbulensi.
Turbulensi terkadang tidak bisa dihindari. Tapi, pilot biasanya bisa menduga di mana pusaran udara ini berada dengan mempelajari ramalan cuaca dan data angin.
Sekarang, kebanyakan pesawat modern punya algoritma untuk mengetahui zona yang banyak pusaran udara penyebab turbulensi. Ini membantu para pilot untuk menghindari daerah-daerah tersebut.

Turbulensi pernah sebabkan pesawat jatuh

Turbulensi pernah menjadi pemeran utama atas jatuhnya sebuah pesawat. Contohnya saat tahun 1966 ketika sebuah pesawat menabrak Gunung Fuji di Jepang. Kecelakaan ini menewaskan semua penumpang pesawat itu.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, kejadian semacam ini terbilang langka. Selain itu, biasanya ada faktor lain yang turut serta menyebabkan kecelakaan, seperti kesalahan desain pesawat atau kesalahan manusia.
Jika kamu naik pesawat, tidak perlu khawatir berlebihan. Sebab, perjalanan udara masih merupakan salah satu moda transportasi paling aman. Untuk setiap satu miliar mil perjalanan pesawat komersial, hanya ada 0,07 kecelakaan fatal.
Menurut data statistik Federal Aviation Administration Amerika Serikat, setiap tahunnya tidak lebih dari 100 orang mengalami cedera akibat turbulensi. Bahkan, pada kebanyakan tahun tercatat cedera akibat turbulensi tidak lebih dari angka 30. Melihat ada 4 miliar penumpang pesawat setiap tahunnya, angka itu bisa dibilang cukup menenangkan.
Wajar jika turbulensi bisa membuat penumpang begitu stres. Hal terbaik yang orang bisa lakukan untuk menghindari cedera akibat turbulensi adalah dengan menyimpan bagasi dengan baik dan memastikan sabuk pengaman terpasang dengan baik.
ADVERTISEMENT
Sekadar saran, buat kamu yang benar-benar takut turbulensi, sebaiknya menghindari duduk di bagian belakang pesawat. Karena di bagian belakang pesawat, turbulensi semakin sering dirasakan.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020