Cara Pesawat Tetap Terbang di Udara Meski Kedua Mesinnya Mati

Tulisan dari Berita Unik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah pesawat yang membawa 293 orang penumpan dan 13 kru dilaporkan mengalami mati mesin di atas Samudra Atlantik. Kasus ini terjadi pada pesawat Air Transat Flight 236 tujuan kota Lisbon, Portugal, pada tahun 2001 lalu.
Dilaporkan Telegraph, pesawat tersebut mengalami kebocoran bahan bakar sesaat setelah lepas landas dari Toronto, Kanada. Kapten Robert Piche pun mengumumkan kondisi darurat dan mendarat darurat di Kepulauan Azores.
Pesawat Airbus A330 tersebut dilaporkan mengudara tanpa satu mesin pun yang menyala selama 19 menit. Pesawat berhasil terbang sejauh 120 kilometer hingga akhirnya berhasil mendarat.
Hebatnya, Piche dan ko-pilot, Dirk de Jager, berhasil mendaratkan pesawat dengan aman hingga tidak ada korban jiwa. Keduanya memang memiliki pengalaman hingga lebih dari 20 ribu jam terbang.
Bagaimana Pesawat Tetap Terbang Meski Tanpa Mesin?
“Mungkin hal ini akan mengejutkan Anda, tapi sangat biasa bagi jet untuk turun dalam kondisi, yang para pilot sebut 'flight idle' dengan mesin yang perlahan kembali ke kondisi tanpa dorongan,” kata Patrick Smith, pilot dan penulis buku Cockpit Confidential, dikutip dari Telegraph.
“Mesin masih beroperasi dan memberikan tenaga pada sistem-sistem krusial, namun tidak memberikan dorongan. Jadi tanpa Anda sadari, Anda sering terbang tanpa dorongan mesin. Hal ini terjadi nyaris pada setiap penerbangan,” tambahnya.
Smith menjelaskan, situasi tersebut mirip dengan kondisi mobil menuruni sebuah turunan dalam keadaan mati mesin dan tanpa rem tangan.
Setiap pesawat memiliki rasio terbang yang berbeda, artinya mereka akan kehilangan ketinggiannya dalam tingkat yang berbeda-beda. Hal ini mempengaruhi seberapa jauh pesawat bisa terbang tanpa dorongan mesin.
Contohnya, jika sebuah pesawat memiliki rasio angkat dan tarikan 10:1, maka untuk setiap 10 mil (16 kilometer) pesawat kehilangan ketinggian satu mil (1,6 kilometer).
Pesawat biasanya terbang di ketinggian 36 ribu kaki atau sekitar 10 kilometer, jadi pesawat yang kehilangan kedua mesinnya masih bisa terbang sejauh sekitar 112 kilometer sebelum sampai ke permukaan tanah.
Smith berkata, kemungkinan pesawat kehilangan kedua mesinnya saat terbang sangat kecil.
“Salah satu penyebabnya adalah kehabisan bahan bakar, abu vulkanik, dan tabrakan dengan burung. Di beberapa kejadian tersebut, kru telah berhasil terbang tanpa dorongan hingga berhasil mendarat tanpa cedera maupun korban jiwa,” tulis Smith.
Pada tahun 2017 lalu, pesawat penumpang terbesar di dunia, Airbus A380 milik Air France pernah mengalami kejadian hampir. Pesawat terpaksa melakukan pendaratan darurat di Kanada.
Namun, kejadian paling terkenal dengan matinya mesin pesawat modern adalah “Miracle on the Hudson” pada Januari 2009. Kala itu, Kapten Chesley “Sully” Sullenberger mendaratkan Airbus A320 secara darurat di Sungai Hudson, New York, setelah kedua mesinnya mati akibat ditabrak angsa.
“Apa yang dilakukan Sully dan ko-pilot Jeffrey Skiles tidak mudah, dan belum ada garansi hal itu bisa berhasil,” puji Smith kepada Sully.
“Tapi mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, apa yang mereka dilatih untuk lakukan, dan apa yang mungkin dilakukan kru lain di situasi yang sama,” tambah dia.
Menurut Smith, pesawat terbang juga dirancang untuk bisa mendarat hanya dengan satu mesin saja.
“Pesawat yang lebih besar memiliki mesin yang lebih kuat dan alat pengangkat yang membuat mereka bisa lepas landas dan mendarat dalam kecepatan rendah,” kata Smith.
(EDR)
