Proses Oogenesis: Pembentukan Sel pada Wanita

·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Unik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Proses oogenesis merupakan proses pembentukan ovum di dalam ovarium. Oogenesis terjadi pada sistem reproduksi wanita. Sedangkan pada pria, hal itu disebut dengan spermatogenesis.
Wanita mengalami proses oogenesis ini sejak sebelum lahir, yaitu sekitar delapan hingga 20 minggu setelah janin mulai berkembang.
Sel-sel tersebut nantinya berkembang menjadi ovum yang akan matang dan berlipat ganda.
Namun, proses oogenesis akan berhenti sementara pada saat masa kanak-kanak. Kemudian, berlanjut ketika wanita mulai mengalami menstruasi atau masuk masa pubertas.
Proses Oogenesis pada Wanita
Dikutip dari Modul Biologi terbitan Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS, dan DIKMEN, proses oogenesis Biologi memiliki beberapa tahapan.
Pada ovarium, terdapat sel indung telur atau disebut juga oogonium yang sifatnya diploid (2n = 23 pasang kromosom).
Saat terjadi pembelahan mitosis, oogonium akan menggadakan dirinya dan membentuk oosit primer.
Saat wanita mulai menginjak masa pubertas, oosit primer tersebut akan melanjutkan proses oogenesis dan masuk ke fase pembelahan meiosis I. Jadi, fase pembelahan meiosis I terjadi pada saat wanita mulai pubertas.
Pada fase pembelahan meiosis I, oosit primer membelah diri menjadi dua sel yang ukurannya berbeda dan masing-masing bersifat haploid.
Sel yang ukurannya lebih besar diberi nama oosit sekunder. Sementara itu, sel yang lebih kecil dinamakan dengan badan kutup primer.
Selanjutnya, oosit sekunder ini akan berlanjut ke fase meiosis II. Fase meiosis II terjadi saat fertilisasi. Fertilisasi adalah proses pembuahan pada sel telur oleh sperma.
Jika tidak terjadi fertilisasi, maka oosit sekunder akan mati atau degenerasi. Namun, jika ada fertilisasi maka fase meiosis II, maka akan berlanjut.
Fase meiosis II adalah fase di mana oosit sekunder akan membelah diri menjadi dua sel yang berbeda ukurannya. Sel yang ukurannya lebih besar disebut dengan ootid. Lalu, sel yang lebih kecil adalah badan kutub sekunder.
Pada saat yang bersamaan, badan kutup primer juga membelah menjadi II. Sehingga, pada fase meiosis II ini akan menghasilkan satu ootid dan tiga badan kutub sekunder.
Selanjutnya, ootid akan berkembang menjadi ovum atau sel telur yang matang dan tiga badan kutup akan mengalami kematian atau disebut dengan polosit.
Hormon yang Berperan dalam Proses Tahapan Oogenesis
Pada proses terjadinya oogenesis, tentunya tentunya tak terlepas dari peran hormon di dalam tubuh. Hormon tersebut dihasilkan oleh hipofisis (kelenjar pituitari) atau ovarium itu sendiri.
Mengutip dari Buku Ajar Reproduksi Perkembangan Hewan, ada tiga hormon utama yang membantu skema proses oogenesis, yaitu:
FSH/ Follicle Srimulating Hormone: hormon yang merangsang proses ovulasi dan memicu folikel untuk membentuk estrogen. Sehingga, hal itu akan memicu folikel untuk berkembang. Folikel adal sel-sel yang membungkus ovum.
LH/ Lituneizing Hormone: hormon yang menghasilkan hormon progesteron dan merangsang terjadinya ovulasi.
GnRH/ Gonadotropin Releasing Hormone: hormon yang memiliki peran dalam stimulasi hipofisis, sehingga hormon FSH dan LH sekresi.
Itulah tahapan dari proses oogenesis yang terjadi pada wanita. Nantinya, proses tersebut akan membentuk keturunan manusia selanjutnya.
(NSF)
