3 Rumah Adat Jawa Timur dan Filosofinya

ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keunikan rumah adat Jawa Timur tidak hanya terlihat dari bentuk fisiknya, tetapi juga dari makna filosofis yang terkandung di setiap detail bangunannya.
Jawa Timur memiliki kekayaan arsitektur tradisional yang mencerminkan nilai-nilai budaya, spiritual, dan kearifan lokal.
Tiga rumah adat yang terkenal di Jawa Timur adalah Joglo Situbondo, Limasan, dan Dhurung Bawean. Masing-masing rumah adat tersebut memiliki ciri khas dan filosofi yang berbeda.
Keunikan dan Makna Rumah Adat Jawa Timur
Mengutip dari situs disparekrafbudpora.gresikkab.go.id dan uinjambi.ac.id, berikut ini adalah beberapa rumah adat Jawa Timur dan filosofinya yang menarik.
1. Joglo Situbondo
Joglo Situbondo memiliki ciri khas atap tajug berbentuk limas mengerucut yang melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan.
Empat tiang utama atau soko guru menjadi simbol keseimbangan alam semesta, sedangkan ornamen ukiran motif batik berfungsi sebagai penangkal energi negatif.
Pembagian ruangan, seperti pendopo untuk tamu dan senthong sebagai ruang sakral, juga mencerminkan keteraturan hidup masyarakatnya.
2. Rumah Limasan
Rumah Limasan tampil lebih sederhana dengan atap limas dan emper rendah yang membuat tamu menunduk saat masuk. Ini juga menandakan hormat kepada pemilik rumah.
Bangunan ini melambangkan kesetaraan sosial, kesederhanaan, dan keseimbangan antara kehidupan material dan spiritual.
Rumah ini biasanya terbuat dari material kayu, bambu, dan anyaman yang menjadi wujud adaptasi terhadap lingkungan sekaligus pelestarian sumber daya alam.
3. Dhurung Bawean
Dhurung Bawean memiliki bentuk panggung terbuka tanpa dinding yang berfungsi sebagai lumbung padi di bagian atas dan ruang berkumpul di bagian bawah.
Atapnya terbuat dari daun nipah yang mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan alam. Rumah adat ini memiliki multifungsi yang menggambarkan keterbukaan masyarakat Bawean, rasa syukur atas rezeki, serta semangat kebersamaan.
Ketiga rumah adat Jawa Timur ini mengandung nilai yang sama yaitu keseimbangan, harmoni sosial, kedekatan dengan alam, serta spiritualitas yang terwujud dalam arsitektur.
Meski menghadapi tantangan modernisasi, upaya pelestarian terus dilakukan. Warisan budaya ini bukan sekadar bangunan, melainkan simbol kehidupan yang selaras dengan alam, menjaga hubungan antarmanusia, dan mengingatkan pada keterikatan spiritual.
Melestarikan rumah adat Jawa Timur berarti merawat jati diri dan nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. (Echi)
Baca juga: Batas Wilayah Indonesia secara Geografis dan sesuai Ketentuan Hukum
