Arti Asmaul Husna Al-Khaliq dan Al-Bari’ dan Kandungannya dalam Alquran

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di dalam agama Islam, ada 99 nama Allah yang perlu diketahui atau yang biasa disebut dengan asmaul husna. Di alam Kamus Kontemporer Arab Indonesia, Atabik Ali dan Zuhdi Muhdlor (2007: 127) mengartikan al- Asma al-Husna sebagai “nama-nama Allah yang berjumlah 99”. Makna ini berkaitan dengan beberapa ayat Alquran yang menjelaskan jika Allah memiliki beragam nama terbaik. Melalui nama-nama ini, terdapat nilai keagungan dan keesaan Allah, juga merupakan seruan umat Islam ketika berdoa atau mengharap kepada-Nya.
Salah satu Asmaul Husna yang terdapat dalam Alquran berhubungan dengan sifat-Nya sebagai dzat pencipta sesuatu, yakni Al-Khaliq dan Al-Bari’. Simak arti, makna, dan penjelasannya dalam bahasan di bawah ini!
Arti dan Kandungan Asmaul Husna Al-Khaliq
Secara bahasa, Al-Khaliq berasal dari kata khalaqa yang berarti menentukan atau memperhalus sesuatu. Makna ini kemudian meluas, yakni diartikan menciptakan dari ketiadaan, melahirkan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya, serta membuat dan mengatur sesuatu. Kata khalaqa memiliki konotasi kehebatan dan kebesaran Allah dalam membuat dan mengatur ciptaannya.
Jadi secara singkat, Al-Khaliq dimaknai sebagai awal penciptaan sesuatu, termasuk pengaturan hukum atas ciptaannya. Allah berfirman dalam Surat Al-Furqan,
Dan dirinya telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia pula yang menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”. (Q.S. Al-Furqan: 2)
Allah SWT sesungguhnya menciptakan segala sesuatu dengan tujuan dan bentuk sebaik-baiknya, sesuai dengan firmannya
Allah-lah yang membuat segala sesuatu yang Ia ciptakan dengan sebaik-baiknya, dan yang memulai segala penciptaan dari tanah”. (Q.S. Al-Sajadah: 7)
Karena Allah Taala, setetes air mani yang hina dapat berubah menjadi mata, telinga, tangan, kulit, menjadi manusia hidup seutuhnya. Ini adalah bukti kekuasaan-Nya. Sehebat apapun manusia, ia tak akan mampu menciptakan sehelai rambut pun, nadi di bawah kulit, dan organ dalam tubuh manusia dengan darah yang mengalir dengan tersistem.
Salah satu pengamalan atas sifat Al-Khaliq adalah dengan memikirkan secara seksama dan terorganisir sebelum membuat sesuatu. Karya yang kita buat harus diperhitungkan, dari mulai bahan, bentuk, ukuran, hingga tujuan dan manfaatnya. Tidak lain dan tidak bukan agar apa yang kita kerjakan tidak berakhir mubazir dan sia-sia.
Arti dan Kandungan Asmaul Husna Al-Bari’
Al-Bari berasal dari kata ba-ra-a’ yang berarti mencipta, atau menjauhkan sesuatu dari sesuatu yang lain. Imam Al-Ghazali mengatakan jika Al-Bari merupakan padanan kata Al-Khalaq. Meski begitu, tetap terdapat perbedaannya. Keduanya bermakna penciptaan sesuatu dari tiada menjadi ada, namun Al-Bari tidak menetapkan ukurannya, sementara Al-Khalaq termasuk menetapkan sistem dan ukuran yang ada dalam ciptaan.
Allah menyebut kata Al-Bari’ sebanyak tiga kali dalam Alquran. Dua kali dalam Surat Al-Baqarah, dan sekali dalam Surat Al-Hasyr.
Ia-lah Allah yang menciptakan, mengadakan, membentuk rupa, dan memiliki nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Ia lah dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Hasyr: 24)
Kandungan yang dapat diamalkan dari sifat Allah Al-Bari berkaitan dengan makna membentuk sesuatu yang tak ada menjadi ada. Dalam menciptakan karya, apapun itu, kita dituntut untuk menciptakan inovasi yang bermanfaat. Artinya karya kita bebas dari unsur-unsur plagiarisme. Sesungguhnya kejayaan Islam atas penciptaan sesuatu telah dibuktikan pada zaman klasik, ketika peradaban muslimin jauh di atas negara-negara di Eropa.
Arti lain dari Al-Bari’ adalah menata atau mengorganisir. Seorang arsitek yang memiliki pekerjaan menata kota dan bangunan sebenarnya telah mengamalkan asmaul husna ini. Juga seorang protokoler atau penata acara yang memastikan seluruh undangan duduk di tempatnya masing-masing, mengikuti acara dengan khidmat sesuai apa yang direncanakan. Contoh lain yang paling dekat dengan kita adalah pekerjaan seorang ibu yang menata rumah, keperluan rumah tangga, dan kebutuhan suami dan anak-anaknya sedemikian rupa agar kehidupan mereka berjalan secara tertata. (AA)
