Bacaan Hizib Bahr dan Cara Mengamalkannya

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda mendengar bacaan hizib bahr? Penamaan kata bahr (laut) dijelaskan Sayyid Mukhlif Yahya al-‘Ali al-Hudzaifi al-Husaini dalam "kitab al-Kunuz an-Nuraniyah" (halaman 167) karena hizib ini pernah dibiarkan terombang ambing di lautan. Selain itu dalam hizib ini juga terdapat kata al-bahr. Hizib bahr sering pula disebut sebagai Hizib ash-shagir.
Hizib ini disusun oleh pendiri tarekat Syadziliyah, Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili. Ia lahir pada tahun 593 H di negeri Maghreb, dan wafat pada 656 H. Asy-Syadzili adalah seorang ulama sufi besar. Atas ajaran beliau, muncul nama-nama pembesar tasawuf seperti Abu al-‘Abbas al-Mursi dan Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari. Simak sejarah dan fadilah hizib buatan Asy-Syadzili pada penjelasan di bawah ini.
Sejarah Hizib Bahr
Saat itu syaikh Asy-Syadzili berniat melakukan perjalanan haji ke tanah suci. Perjalanan tersebut harus melewati laut merah. Ia kemudian menumpang perahu yang dimiliki seorang beragama Nasrani. Malang, angin saat itu tidak cocok untuk digunakan melaut. Keadaan ini berlangsung selama berhari-hari sehingga perjalanan terpaksa tertunda.
Hingga akhirnya, syaikh Asy-Syadzili bertemu dengan Rasulullah SAW. Ketika berjumpa, nabi mengajarkan bacaan hizib bahri secara lisan kepada syaikh. Hizib yang ia terima kemudian ia bacakan sebelum kapal berlayar. Angin perlahan mulai berhembus, dan perahu akhirnya bisa berjalan. Karena hal ini, pemilik perahu yang beragam Nasrani akhirnya masuk Islam.
Fadilah Mengamalkan Bacaan Hizib Bahr
Dikutip dari situs Islam.nu.or.id, beberapa adab yang sebaiknya dilakukan ketika membaca hizib ini diantaranya yaitu:
Memulai dengan adab dan niat yang baik, layaknya membaca dzikir lain.
Hanya meminta pertolongan dan petunjuk kepada Allah SWT.
Awali dengan tawassul dengan bacaan Al Fatihah untuk pembuat hizib, Imam Abi Hasan asy-Syadzili.
Bila kita memiliki hajat atau keinginan tertentu, pikirkan hajat tersebut dalam angan terutama saat membaca kata al-bahr dalam hizib.
Ketika membaca ayat “haa miim” yang jumlahnya tujuh, hadapkan wajah ke enam arah (depan, belakang, kanan, kiri, atas, dan bawah).
Ketika membaca ayat “Kaaf haa yaa ‘ain shaad kifaayatunaa”, tangan kanan menggenggam satu per satu jari tangan kiri. Dimulai dari jari kelingking ketika membaca “kaaf” dan diakhiri ibu jari ketika membaca “shaad”. Terus genggam jari tangan kiri hingga menyelesaikan bacaan “haa miim ‘ain siin qhaaf”. Setelah itu buka genggaman dimulai dari ibu jari, diakhiri dengan kelingking.
Dijelaskan Sayyid al-Husaini, hizib bahr memiliki beragam keistimewaan bagi yang rutin membacanya, yaitu:
Dapat mengusir rasa takut dan khawatir.
Bisa menghilangkan penyakit dan kesedihan.
Terjaga dari mara bahaya dan hama.
Menjadi sebab dikabulkannya doa.
Dapat menjauhkan dari godaan jin, setan, dan manusia.
Dapat memantapkan keimanan kepada Allah SWT.
Menggetarkan hati orang yang hendak berbuat jahat. (AA)
