Konten dari Pengguna

Bacaan Sujud Sahwi yang Benar dan Tata Cara Pelaksanaannya dalam Sholat

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bacaan sujud sahwi. Foto: Pexels.com/Michael Burrows
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bacaan sujud sahwi. Foto: Pexels.com/Michael Burrows

Bacaan sujud sahwi merupakan bagian penting dalam salat yang membantu menutup kelalaian, kekeliruan, atau keraguan gerakan sehingga ibadah tetap sah dan diterima Allah.

Shalat yang dijalankan dengan penuh khusyu’ tetap bisa terganggu karena lupa jumlah rakaat, ragu gerakan, atau terganggu fokus oleh pikiran dan gangguan sekitar.

Memahami tata cara sujud sahwi, beserta bacaan yang benar sesuai sunnah Rasulullah SAW, menjadi solusi agar shalat tetap sempurna meski terjadi kekeliruan kecil.

Bacaan Sujud Sahwi

Ilustrasi bacaan sujud sahwi. Foto: Pexels.com/Michael Burrows

Dikutip dari perpustakaan.uad.ac.id, berikut adalah bacaan sujud sahwi yang benar sesuai tuntunan Rasulullah saw. Bacaan ini berbeda dengan yang selama ini banyak beredar secara keliru.

Bacaan dari sujud sahwi yang sesuai sunnah adalah seperti bacaan ketika sujud biasa dalam shalat:

Arab:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

Latin:

Subhanaka Allahumma rabbana wa bihamdika Allahumma ighfir li

Artinya:

“Maha suci Engkau ya Allah, wahai Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu ya Allah, ampunilah aku.”

Bacaan ini menunjukkan pengakuan akan kesucian Allah SWT dan permohonan ampunan atas kelalaian dalam salat. Banyak versi lain beredar, salah satunya:

Arab:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو

Latin:

Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw

Artinya:

“Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa.”

Bacaan ini bermaksud memuji Allah sebagai Zat yang Maha Sempurna dan tidak pernah lupa. Niatnya baik sebagai bentuk pengakuan atas kesempurnaan Allah.

Namun, bacaan ini tidak memiliki dasar dari hadis sahih dan tidak diajarkan oleh Rasulullah saw sebagai bacaan sujud sahwi. Oleh sebab itu, meski maknanya mulia, bacaan ini tidak sah secara syar’i untuk menggantikan sujud sahwi.

Tata Cara Sujud Sahwi yang Sesuai Tuntunan

Ilustrasi bacaan sujud sahwi. Foto: Pexels.com/Michael Burrows

Sujud sahwi dilaksanakan dengan dua kali sujud di akhir salat, baik sebelum maupun sesudah salam. Sebelum sujud dilakukan, ucapkan takbir Allahu akbar, lalu sujud seperti sujud biasa.

Sebelum menunduk untuk sujud pertama, ucapkan takbir Allahu akbar. Lalu sujud seperti sujud biasa dalam salat, dengan menempatkan dahi dan kedua tangan di lantai, tetap fokus dalam doa.

Setelah selesai sujud pertama, kembali ucapkan takbir sebelum melakukan sujud kedua. Setiap pergantian posisi selama sujud sahwi dimulai dengan takbir, cukup dengan ucapan tanpa mengangkat tangan seperti takbiratul ihram.

Jika kekurangan rakaat menjadi penyebab, genapkan jumlah rakaat terlebih dahulu, kemudian lakukan sujud sahwi. Apabila meninggalkan tasyahud awal, cukup diganti dengan sujud sahwi tanpa mengulangi tasyahud yang terlupa.

Hadis dari Abu Sa’id al-Khudriy dan Ibnu Mas’ud menegaskan bahwa bila salat ragu, kelebihan, atau kekurangan rakaat terjadi, sujud sahwi dua kali sebelum atau sesudah salam sudah cukup.

Contoh tata cara pelaksanaan:

Arab:

فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

Latin:

Fa-shalla rak‘ataini wa sallama thumma kabbara thumma sajada thumma kabbara farafa‘a thumma kabbara wa sajada thumma kabbara wa rafa‘a

Artinya:

“Lalu beliau salat dua rakaat lagi, kemudian salam. Setelah itu beliau bertakbir dan sujud, lalu bertakbir dan bangkit, kemudian bertakbir kembali dan sujud kedua kali, lalu bertakbir dan bangkit.”

Sujud sahwi dilakukan untuk menutup kekurangan dalam salat dan menegaskan kesempurnaan ibadah. Pelaksanaannya harus khusyuk, meski dalam kondisi lupa atau ragu.

Bacaan sujud sahwi yang sahih menegaskan pentingnya mengikuti sunnah Rasulullah saw agar shalat tetap sempurna dan diterima Allah Swt. (Suci)

Baca Juga: Perbedaan Kitab dan Suhuf dalam Ajaran Agama Islam