Bacaan Surat Al-Muthaffifin beserta Arti dan Tafsirnya

·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Surat Al-Muthaffifin merupakan surat yang ke 83 dalam Al-Quran dan tergolong di dalam surat makiyah karena diturunkan di Kota Mekah. Arti dari Al-Muthaffifin adalah orang-orang curang, dan diambil dari ayat pertama pada surat ini.

Bacaan Surat Al-Muthaffifin dan Artinya
Berikut adalah bacaan surat Al-Muthaffifin yang dikutip dari Al-Quran online Kementrian Agama Republik Indonesia (https://quran.kemenag.go.id/)
وَيْلٌلِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ
wailul lil-muṭaffifīn
Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!
الَّذِيْنَاِذَااكْتَالُوْاعَلَىالنَّاسِيَسْتَوْفُوْنَۖ
allażīna iżaktālụ 'alan-nāsi yastaufụn
(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan,
وَاِذَاكَالُوْهُمْاَوْوَّزَنُوْهُمْيُخْسِرُوْنَۗ
wa iżā kālụhum aw wazanụhum yukhsirụn
dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.
اَلَايَظُنُّاُولٰۤىِٕكَاَنَّهُمْمَّبْعُوْثُوْنَۙ
alā yaẓunnu ulā`ika annahum mab'ụṡụn
Tidakkah mereka itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,
لِيَوْمٍعَظِيْمٍۙ
liyaumin 'aẓīm
pada suatu hari yang besar,
يَّوْمَيَقُوْمُالنَّاسُلِرَبِّالْعٰلَمِيْنَۗ
yauma yaqụmun-nāsu lirabbil-'ālamīn
(yaitu) pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap Tuhan seluruh alam.
كَلَّآاِنَّكِتٰبَالْفُجَّارِلَفِيْسِجِّيْنٍۗ
kallā inna kitābal-fujjāri lafī sijjīn
Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjin.
وَمَآاَدْرٰىكَمَاسِجِّيْنٌۗ
wa mā adrāka mā sijjīn
Dan tahukah engkau apakah Sijjin itu?
كِتٰبٌمَّرْقُوْمٌۗ
kitābum marqụm
(Yaitu) Kitab yang berisi catatan (amal).
وَيْلٌيَّوْمَىِٕذٍلِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ
wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn
Celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan!
الَّذِيْنَيُكَذِّبُوْنَبِيَوْمِالدِّيْنِۗ
allażīna yukażżibụna biyaumid-dīn
(yaitu) orang-orang yang mendustakannya (hari pembalasan).
وَمَايُكَذِّبُبِهٖٓاِلَّاكُلُّمُعْتَدٍاَثِيْمٍۙ
wa mā yukażżibu bihī illā kullu mu'tadin aṡīm
Dan tidak ada yang mendustakannya (hari pembalasan) kecuali setiap orang yang melampaui batas dan berdosa,
اِذَاتُتْلٰىعَلَيْهِاٰيٰتُنَاقَالَاَسَاطِيْرُالْاَوَّلِيْنَۗ
iżā tutlā 'alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn
yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “Itu adalah dongeng orang-orang dahulu.”
كَلَّابَلْ ۜرَانَعَلٰىقُلُوْبِهِمْمَّاكَانُوْايَكْسِبُوْنَ
kallā bal rāna 'alā qulụbihim mā kānụ yaksibụn
Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.
كَلَّآاِنَّهُمْعَنْرَّبِّهِمْيَوْمَىِٕذٍلَّمَحْجُوْبُوْنَۗ
kallā innahum 'ar rabbihim yauma`iżil lamaḥjụbụn
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya.
ثُمَّاِنَّهُمْلَصَالُواالْجَحِيْمِۗ
ṡumma innahum laṣālul-jaḥīm
Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.
ثُمَّيُقَالُهٰذَاالَّذِيْكُنْتُمْبِهٖتُكَذِّبُوْنَۗ
ṡumma yuqālu hāżallażī kuntum bihī tukażżibụn
Kemudian, dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang dahulu kamu dustakan.”
كَلَّآاِنَّكِتٰبَالْاَبْرَارِلَفِيْعِلِّيِّيْنَۗ
kallā inna kitābal-abrāri lafī 'illiyyīn
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ’Illiyyin.
وَمَآاَدْرٰىكَمَاعِلِّيُّوْنَۗ
wa mā adrāka mā 'illiyyụn
Dan tahukah engkau apakah ’Illiyyin itu?
كِتٰبٌمَّرْقُوْمٌۙ
kitābum marqụm
(Yaitu) Kitab yang berisi catatan (amal),
يَّشْهَدُهُالْمُقَرَّبُوْنَۗ
yasy-haduhul-muqarrabụn
yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah).
اِنَّالْاَبْرَارَلَفِيْنَعِيْمٍۙ
innal-abrāra lafī na'īm
Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan,
عَلَىالْاَرَاۤىِٕكِيَنْظُرُوْنَۙ
'alal-arā`iki yanẓurụn
mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan.
تَعْرِفُفِيْوُجُوْهِهِمْنَضْرَةَالنَّعِيْمِۚ
ta'rifu fī wujụhihim naḍratan na'īm
Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan.
يُسْقَوْنَمِنْرَّحِيْقٍمَّخْتُوْمٍۙ
yusqauna mir raḥīqim makhtụm
Mereka diberi minum dari khamar murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih dilak (disegel),
خِتٰمُهٗمِسْكٌ ۗوَفِيْذٰلِكَفَلْيَتَنَافَسِالْمُتَنَافِسُوْنَۗ
khitāmuhụ misk, wa fī żālika falyatanāfasil-mutanāfisụn
laknya dari kasturi. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.
وَمِزَاجُهٗمِنْتَسْنِيْمٍۙ
wa mizājuhụ min tasnīm
Dan campurannya dari tasnim,
عَيْنًايَّشْرَبُبِهَاالْمُقَرَّبُوْنَۗ
'ainay yasyrabu bihal-muqarrabụn
(yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang dekat (kepada Allah).
اِنَّالَّذِيْنَاَجْرَمُوْاكَانُوْامِنَالَّذِيْنَاٰمَنُوْايَضْحَكُوْنَۖ
innallażīna ajramụ kānụ minallażīna āmanụ yaḍ-ḥakụn
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman.
وَاِذَامَرُّوْابِهِمْيَتَغَامَزُوْنَۖ
wa iżā marrụ bihim yatagāmazụn
Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya,
وَاِذَاانْقَلَبُوْٓااِلٰٓىاَهْلِهِمُانْقَلَبُوْافَكِهِيْنَۖ
wa iżangqalabū ilā ahlihimungqalabụ fakihīn
dan apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria.
وَاِذَارَاَوْهُمْقَالُوْٓااِنَّهٰٓؤُلَاۤءِلَضَاۤلُّوْنَۙ
wa iżā ra`auhum qālū inna hā`ulā`i laḍāllụn
Dan apabila mereka melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,”
وَمَآاُرْسِلُوْاعَلَيْهِمْحٰفِظِيْنَۗ
wa mā ursilụ 'alaihim ḥāfiẓīn
padahal (orang-orang yang berdosa itu), mereka tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin).
فَالْيَوْمَالَّذِيْنَاٰمَنُوْامِنَالْكُفَّارِيَضْحَكُوْنَۙ
fal-yaumallażīna āmanụ minal-kuffāri yaḍ-ḥakụn
Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman yang menertawakan orang-orang kafir,
عَلَىالْاَرَاۤىِٕكِيَنْظُرُوْنَۗ
'alal-arā`iki yanẓurụn
mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan.
هَلْثُوِّبَالْكُفَّارُمَاكَانُوْايَفْعَلُوْنَ
hal ṡuwwibal-kuffāru mā kānụ yaf'alụn
Apakah orang-orang kafir itu diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang telah mereka perbuat?
Tafsir Surat Al-Muthaffifin
Dikutip dari buku Tafsir An-Nur Jilid 04, Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy (2004 :517) ada beberapa penafsiran mengenai surat ini yang disampaikan oleh beberapa ulama. Diawal surat menyinggung mengenai salah satu keburukan manusia yang serng dianggap biasa dan tidak diperhatikanyaitu perkara mengurangi timbangan dari yang seharusnya, padahal hal tersebut adalah perkara yang tidak di sukai oleh Allah SWT. Dimana dalam surat ini dijelaskan mengani akibat dari orang-orang yang curang.
Itulah pembahasan mengenai bacaan surat Al-Muthaffifin lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya. (WWN)
