Bagaimana Masyarakat Terdidik dan Peduli Dapat Memerdekakan Indonesia?

·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 bukanlah hasil dari perjuangan fisik semata, tetapi juga lahir dari kesadaran dan peran masyarakat terdidik yang peduli terhadap bangsa.
Menurut Jurnal Investasi Pendidikan yang ditulis oleh H. Dadang Suhardan, masyarakat terdidik adalah mereka yang mampu menyelesaikan masalah dalam kehidupan, mengikuti perkembangan peradaban, dan dapat menempatkan dirinya di segala kondisi.
Namun, bagaimana masyarakat terdidik dan peduli terhadap bangsa dapat memerdekakan Indonesia? Simak uraian di bawah ini untuk mengetahui jawaban selengkapnya.
Bagaimana Masyarakat Terdidik dan Peduli Terhadap Bangsa Dapat Memerdekakan Indonesia?
Tanpa masyarakat yang terdidik dan peduli terhadap bangsa, perjuangan kemerdekaan mungkin akan lebih sulit dan memakan waktu lebih lama. Berikut cara yang dilakukan oleh masyarakat terdidik dan peduli untuk memerdekakan Indonesia.
1. Kesadaran Nasional Melalui Pendidikan
Pada awal abad ke-20, semakin banyak rakyat Indonesia yang mendapatkan akses pendidikan, baik di sekolah-sekolah Belanda seperti HIS, MULO, dan AMS, maupun di lembaga pendidikan pribumi seperti pesantren dan sekolah yang didirikan oleh organisasi nasional.
Melalui pendidikan, masyarakat mulai memahami konsep kedaulatan bangsa, demokrasi, dan hak asasi manusia, yang menjadi landasan dalam perjuangan kemerdekaan. Beberapa tokoh terdidik yang berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan antara lain:
Soekarno, lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) dari jurusan Teknik Sipil telah memperjuangkan kemerdekaan melalui gagasan nasionalisme.
Mohammad Hatta, yang mendapat pendidikan tinggi di Belanda dan memperjuangkan diplomasi kemerdekaan di luar negeri.
Ki Hajar Dewantara, yang mendirikan Taman Siswa untuk mendidik rakyat agar memiliki kesadaran kebangsaan.
2. Peran Pers dan Media dalam Membangkitkan Kesadaran Nasional
Masyarakat terdidik memanfaatkan media sebagai alat untuk menyebarkan gagasan kemerdekaan. Surat kabar dan majalah menjadi sarana penting untuk mengedukasi rakyat tentang pentingnya melawan kolonialisme.
Melalui tulisan-tulisan kritis dan propaganda nasionalisme, media membantu membangun semangat perjuangan di kalangan masyarakat. Beberapa media yang berperan dalam perjuangan kemerdekaan antara lain:
Harian Indonesia Raya
Surat kabar Fikiran Ra’jat
Majalah Poedjangga Baroe
3. Organisasi Nasional sebagai Wadah Perjuangan
Masyarakat terdidik menyadari bahwa perjuangan tidak bisa dilakukan secara individu. Oleh karena itu, mereka membentuk organisasi nasional yang berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan secara sistematis.
Dengan adanya organisasi ini, perjuangan rakyat lebih terarah dan memiliki strategi yang lebih efektif. Beberapa organisasi yang berpengaruh dalam pergerakan nasional meliputi:
Budi Utomo (1908), organisasi yang pertama kali membangkitkan kesadaran nasional.
Sarekat Islam (1912), yang memperjuangkan hak-hak ekonomi dan sosial masyarakat pribumi.
Partai Nasional Indonesia (1927), yang secara terang-terangan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: Manfaat Belajar Sejarah bagi Kehidupan Warga Negara
4. Sumpah Pemuda dan Persatuan Bangsa
Salah satu bukti nyata bagaimana masyarakat terdidik berperan dalam kemerdekaan adalah peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Pada kongres pemuda tersebut, para pemuda dari berbagai daerah berikrar untuk bersatu sebagai satu bangsa, satu Tanah Air, dan satu bahasa.
Sumpah Pemuda menjadi momentum penting yang menunjukkan bahwa masyarakat terdidik memahami pentingnya persatuan dalam perjuangan merebut kemerdekaan.
5. Kepedulian terhadap Bangsa Mendorong Aksi Nyata
Selain memiliki pemahaman yang luas tentang nasionalisme, masyarakat terdidik juga menunjukkan kepedulian terhadap nasib bangsa dengan berbagai aksi nyata.
Tanpa kepedulian ini, perjuangan mungkin tidak akan mencapai hasil yang maksimal. Beberapa bentuk kepedulian yang berperan dalam perjuangan kemerdekaan antara lain:
Demonstrasi dan aksi protes terhadap kebijakan kolonial yang menindas rakyat.
Gerakan bawah tanah, seperti kelompok Menteng 31 yang aktif dalam pergerakan kemerdekaan.
Diplomasi internasional, seperti yang dilakukan oleh Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir untuk mendapatkan dukungan dunia terhadap kemerdekaan Indonesia.
6. Pendidikan dan Kepedulian dalam Mempersiapkan Kemerdekaan
Ketika Jepang mulai mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II, para pemuda terdidik di Indonesia semakin aktif dalam mendorong kemerdekaan. Mereka tidak hanya berdiskusi, tetapi juga melakukan langkah-langkah nyata seperti:
Mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, seperti yang dilakukan oleh para pemuda dalam Peristiwa Rengasdengklok.
Menyusun naskah proklamasi, yang dilakukan dengan pertimbangan matang dari segi hukum dan politik.
Menyiapkan sistem pemerintahan, sehingga Indonesia dapat langsung berfungsi sebagai negara yang berdaulat setelah proklamasi.
(NDA)
