News
·
15 Juli 2021 20:43
·
waktu baca 1 menit

Biografi Singkat Sultan Hasanuddin, Ayam Jantan dari Timur

Konten ini diproduksi oleh Berita Update
Biografi Singkat Sultan Hasanuddin, Ayam Jantan dari Timur (22644)
searchPerbesar
Ayam jantan dari timur, sumber foto: Kemendikbud
Inilah biografi singkat Sultan Hasanuddin yang mendapat julukan Ayam Jantan dari Timur. Mengapa mendapat sebutan atau julukan tersebut dan apa maknanya? Simak ulasan di artikel ini, namun sebelumnya akan diuraikan terlebih dahulu tentang anugerah pahlawan nasional Indonesia yang disematkan kepada Sultan Hasanuddin of Gowa ini.
ADVERTISEMENT
Dari buku Pahlawan Indonesia, Tim Puspa Swara (2007) pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran.

Sultan Hasanuddin Si Ayam Jantan dari Timur

Bangsa Indonesia lahir dari perjuangan para pahlawan nasional Indonesia dari berbagai daerah selama perjuangan kemerdekaan Indonesia. Salah satu pahlawan nasional Indonesia berasal dari Indonesia timur adalah Sultan Hasanuddin dari Gowa, Sulawesi Selatan.
Biografi singkat Sultan Hasanuddin, Ayam Jantan dari Timur, lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631, adalah Sultan Gowa ke-16. Sebelum naik tahta dan bergelar Sultan Hasanuddin, terlahir dengan nama Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Sultan Hasanuddin merupakan putera dari Raja Gowa ke-15, Manuntungi Daeng Matola Karaeng Lakiyung Sultan Muhammad Said.
ADVERTISEMENT
Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa dari tahun 1653 sampai 1669. Gowa merupakan kesultanan besar di wilayah Indonesia timur yang menguasai jalur perdagangan.
Dalam masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajah Hindia Belanda, Sultan Hasanuddin berjuang keras menghalau VOC Belanda yang menyerang Makassar. Kerasnya Sultan Hasanuddin dalam menghadapi Belanda, hingga mendapat julukan De Haantjes van Het Osten yang artinya Ayam Jantan dari Timur.
Pada tanggal 18 November 1667 di Bungaya, Sultan Hasanuddin si Ayam Jantan dari Timur, terpaksa menandatangani Perjanjian Bungaya karena sudah terdesak dengan berbagai pertempuran. Namun perjanjian tersebut dirasa merugikan rakyat Sulawesi Selatan, sehingga Gowa mengadakan perlawanan dan pertempuran kembali pada pada tahun 1669. VOC Belanda berhasil menguasai pertempuan pada tanggal 24 Juni 1669. Sultan Hasanuddin wafat pada tanggal 12 Juni 1670, setahun kemudian.(IJS)
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020