Common Rail: Penerapan Sistem Elektronik pada Motor Diesel

·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini ada berbagai jenis teknologi yang diterapkan untuk kendaraan bermotor, baik yang menggunakan bahan bakar bensin, solar maupun listrik. Penerapan sistem elektronik pada motor diesel disebut dengan common rail.
Cara kerja dari common rail sebenarnya mirip dengan cara kerja dari electronic fuel injection (EFI) yang biasanya disematkan pada kendaraan bermesin bensin. Penggunaan sistem elektronik ini tentunya memiliki berbagai tujuan.
Penerapan Sistem Elektronik pada Motor Diesel disebut Common Rail
Motor diesel adalah jenis mesin pembakaran dalam yang menggunakan bahan bakar solar untuk menghasilkan tenaga. Motor diesel banyak digunakan pada kendaraan berat, seperti truk, bus, dan alat berat, karena memiliki torsi yang besar dan lebih hemat.
Meski memiliki banyak kelebihan, tetapi motor diesel juga memiliki beberapa kelemahan, seperti suara yang kasar, emisi yang tinggi, dan performa yang kurang responsif.
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut, para insinyur otomotif telah mengembangkan sistem injeksi bahan bakar yang lebih canggih dan modern. Penerapan sistem elektronik pada motor diesel disebut dengan common rail.
Dikutip dari buku Teknologi Motor Diesel, Paryono, (2013), dijelaskan bahwa pengertian dari sistem common rail adalah mekanisme penyaluran bahan bakar solar dari tangki ke dalam ruang bakar secara langsung, dengan bantuan perangkat elektronik sebagai pengontrol volume bahan bakar yang disuplai.
Dengan kata lain, sistem common rail itu seperti sistem EFI (Electronic Fuel Injection) pada mesin bensin. Sistem common rail pertama kali diperkenalkan pada tahun 1990-an di Jepang, dan sejak itu telah banyak diaplikasikan pada berbagai jenis kendaraan diesel.
Sistem common rail memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan sistem injeksi konvensional, antara lain:
Suplai bahan bakar lebih ideal karena dikontrol oleh ECU (Engine Control Unit), sehingga jumlah, waktu, dan tekanan injeksi dapat disesuaikan dengan kondisi mesin dan beban kendaraan.
Tenaga mesin lebih besar dan responsif, karena bahan bakar dapat disemprotkan dengan tekanan tinggi (hingga 200 MPa) dan kecepatan tinggi (hingga 1 ms) ke dalam ruang bakar.
Emisi lebih ramah lingkungan, karena pembakaran lebih sempurna dan efisien, serta dapat mengurangi emisi partikel dan nitrogen oksida (NOx).
Suara mesin lebih halus, karena tidak ada gesekan antara komponen mekanis seperti pada sistem injeksi konvensional.
Konsumsi bahan bakar lebih irit, karena penggunaan bahan bakar lebih optimal dan sesuai dengan kebutuhan mesin.
Baca juga: Pengertian Mobil Hatchback dan Kelebihannya
Itulah penjelasan mengenai penerapan sistem elektronik pada motor diesel disebut dengan common rail. Penerapan sistem ini memberikan banyak keuntungan bagi kendaraan bermesin diesel. (WWN)
