Konten dari Pengguna

Etika Belajar dari Kitab Ta'lim Muta'alim

Berita Update

Berita Update

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ta'lim Muta'alim, Kitab Tentang Etika. Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ta'lim Muta'alim, Kitab Tentang Etika. Sumber: Freepik.com

Ta’lim Muata’alim rasanya sudah tidak asing lagi bagi para santri yang sedang belajar dan menimba ilmu di pondok pesantren. Kitab yang diberi nama Ta’lim Muata’alim Thaqatta’allum terdiri dari 13 pasal.

Pesantren sebagai tempat santri dalam mencari ilmu sangat mengajarkan bagaimana adab dan etika seorang untuk mendapatkan banyak ilmu. Bahkan pelajaran etika tersebut masuk dalam kurikulumnya.

Banyak orang yang memiliki ilmu namun tidak dapat mencapai hasilnya. Karena salah satu manfaat dan buah ilmu adalah mengamalkan ilmu dan menyebarkannya. Beberapa kesalahan dilakukan tanpa sadar, bahkan tak sedikit yang tersesat.

Maka dari itu sebagai umat muslim yang baik kita perlu mendalami lebih banyak bagaimana cara mengejar ilmu dan mengamalkannya dengan baik.

Ta'lim Muta'alim Ada 13 Pasal Tentang Ilmu dan Etika

Mengutip dari buku Terjemahan Ta’lim Muata’alim karya Al ‘alamah Syaikh Burhanuddin Az zanurji Mukkadimah dijelaskan 13 pasal secara jelas sebagai berikut

1. Hakikat ilmu dan keutamaannya

Rasulullah bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan.”

Perlu diketahui bahwa kewajiban menentut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi dibahas pada ilmu agama, dan ilmu yang menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia.

Ada beberapa hukum dalam mencari ilmu pertama fardlu‘ain, salah satunya adalah ilmu wudhu dan shalat. Kedua, fardlu kifayah, seperti ilmu cara menguburkan jenazah. Ketiga, haram, seperti mempelajari ilmu ramalan berdasarkan perbintangan. Keempat, jawâz (boleh), seperti mempelajari ilmu kedokteran.

2. Niat di waktu belajar

Wajib berniat, sebab niat itu menjadi pokok dari segala hal, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw “Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu terserah niatnya. Ada beberapa nniat yang dapat kita lakukan yaitu mencari ridha Allah Swt, menghilangkan kebodohan dirinya dan orang lain, menghidupkan agama dan mendirikan Islam, dan mensyukuri nikmat akal dan kesehatan badan.

3. Memilih ilmu, guru, dan teman, serta keteguhan dalam menuntut ilmu

Bagi pelajar dalam masalah ilmu hendaklah memilih mana yang terbagus dan dibutuhkan dalam kehidupan agamanya pada waktu itu, lalu yang untuk waktu yang akan datang. Hendaklah lebih dahulu mempelajari ilmu tauhid, mengenali Allah lengkap dengan dalilnya.

Ditambah lagi dalam memilih guru, hendaklah mengambil yang lebih alim, waro’ dan lebih tua usianya. Sebagaimana Abu Hanifah setelah lebih dulu mmeikir dan mempertimbangkan lebih lanjut, maka menentukan pilihannya kepada tuan Hammad bin Abu Sulaiman.

4. Menghormati ilmu dan ahlinya

Seorang pelajar tidak akan mendapat ilmu melainkan ia menghormati ilmu dan pemiliknya, yaitu gurunya. Sebagai seorang pelajar kita tidak duduk di tempat duduk gurunya, tidak memulai percakapan dengan guru kecuali atas izinnya, dan tidak banyak berbicara di sisi gurunya.

5. Sungguh-sungguh, tekun, dan semangat

Kesungguhan tidak hanya bergantung pada pelajar saja, namun guru dan orang tua pun harus bersungguh menyiapkan pendidikan anaknya.

6. Tahap awal, ukuran, dan urutannya

Pada pasal ini menejelaskan tentang urutan tingkat pelajaran yang mesti diajarkan guru kepada murid, dari dasar baru kemudian kepada tingkat yang lebih tinggi.

7. Tawakal kepada Allah

Tentunya setelah usaha-usaha di atasi, seorang pelajar harus berserah diri kepada Allah SWT. Seperti hadis Nabi SAW, “Barang siapa yang mencari ilmu, maka Allah SWT akan menjamin rezekinya.”

8. Masa produktif

Perlu diketahui masa mencari ilmu ada seumur hidup, sejak dilahirkan hingga masuk ke liang lahat.

9. Kasih sayang dan nasihat

Ilmu dan akhlak adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Seorang pelajar hendaknya memiliki rasa kasih sayang, bersedia memberi nasihat dan tidak iri hati. Seorang pelajar juga seharusnya menghindari permusuhan dengan orang lain, karena dapat menyia-nyiakan waktu.

10. Mengambil faedah pelajaran

Metode praktis untuk menambah pengetahuan dapat dipersiapkan dengan baik, tidak menyia-nyiakan waktu, fokus ketika pelajaran, dan taat kepada seorang guru.

11. Bersikap wara’ ketika belajar

Kita bisa menjauhi rasa kenyang, banyak tidur, banyak membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat, menghindari makanan dari pasar bila memungkinkan, menggunjing, bergaul dengan orang yang rusak akhlaknya.

12. Hal yang dapat menguatkan dan melemahkan hafalan

Menghafal termasuk ke dalam metode belajar di berbagai lembaga pendidikan. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk membantu hafalan yaitu kesungguhan, tekun, sedikit makan, dan shalat di malam hari, membaca Alquran.

Sedangkan hal-hal yang dapat menyebabkan lupa di antaranya adalah banyak berbuat maksiat, banyak melakukan dosa, gelisah, khawatir, dan sibuk dengan urusan dunia.

13. Sesuatu yang mendatangkan dan menjauhkan rezeki, serta menambah dan memperpendek umur

Ingat bahwa perbuatan dosa dan dusta dapat menjadi penghalang datangnya rezeki. Selain itu, tidur pada waktu Subuh termasuk penghalang rezeki, banyak tidur menyebabkan fakir, termasuk fakir dalam ilmu. Sedangkan bangun di waktu pagi dapat mendatangkan segala kemudahan dan dapat mendatangkan rezeki.

Itulah 13 pasal yang membahas mengenai ilmu dan etika dalam Ta’lim Muata’alim. Semoga ulasan di atas dapat bermanfaat. (AA)