Konten dari Pengguna

Ide Pokok Pikiran Muhammad Abduh, Tokoh Islam Modern dari Mesir

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ide pokok pikiran Muhammad Abduh. Foto: Unsplash/Rawan Yasser
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ide pokok pikiran Muhammad Abduh. Foto: Unsplash/Rawan Yasser

Pada tahun 1800an, Islam memulai era baru dari periode pertengahan menjadi periode modern. Salah satu penggagas gerakan modernisasi Islam adalah Muhammad Abduh, salah seorang tokoh perkembangan Islam yang terkenal dengan ide pokok pikiran Muhammad Abduh.

Sebagai sosok pemikir sejak duduk di bangku sekolah, Muhammad Abduh berdedikasi tinggi untuk mereformasi semua aspek kehidupan lewat pendidikan.

Profil Muhammad Abduh

Ilustrasi profil Muhammad Abduh. Foto: Unsplash/Hongbin

Muhammad Abduh dengan nama lengkap Muhammad bin Abdul bin Hasan Khairullah lahir pada tahun 1849 di Mahallat Nasr, Syubra Khit, Mesir.

Ia adalah putra dari petani bernama Abduh bin Hasan Khairullah dan Junaidah Uthman. Muhammad Abduh masih memiliki keturunan dengan Umar bin Khattab dari garis ibunya.

Sejak kecil, sang ayah sudah menekankan Muhammad Abduh untuk fokus mengenyam pendidikan dan tidak mengikuti saudara-saudaranya yang membantu orang tuanya bertani.

Muhammad Abduh belajar filsafat dan logika di Universitas Al-Azhar, Kairo, dan juga murid dari Jamaluddin al-Afghani, seorang filsuf dan pembaharuan yang mengusung gerakan Pan Islamisme untuk menentang penjajahan Eropa di negara-negara Asia dan Afrika.

Setelah menyelesaikan studinya, ia mengajar di Al-Azhar. Puncak karirnya, Muhammad Abduh menjadi mufti pertama di Mesir pada tanggal 3 Juni 1899.

Ide Pokok Pikiran Muhammad Abduh

Ilustrasi ide pokok pikiran Muhammad Abduh. Foto: Unsplash/Bagas Rais R

Adapun ide pokok pikiran yang dihasilkan Muhammad Abduh yang dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti oleh Abd. Rahman dan Hery Nugroho SMA/SMK Kelas XI (2021), yakni:

Bidang Pendidikan

Dalam bidang pendidikan, ia menawarkan agar dilakukan lintas disiplin ilmu, yakni antara kurikulum madrasah dan sekolah.

Tujuannya untuk menghilangkan dikotomi antara ulama dan ilmuwan modern; mengembangkan kelembagaan pendidikan, yaitu mendirikan sekolah menengah pemerintahan dalam berbagai bidang.

Misalnya: administrasi, militer, kesehatan, perindustrian, dan sebagainya. Kemudian, Muhammad Abduh melakukan pengembangan kurikulum sekolah dasar, menengah, kejuruan, dan universitas di Al-Azhar.

Selain itu, ia melakukan pembaruan dalam pendidikan Islam, yaitu: memasukkan mata pelajaran matematika, geometri, algebra, geografi, sejarah, dan seni khat ke dalam pendidikan non-formal; mewujudkan farmasi khusus untuk pelajar Universitas Al-Azhar.

Di sisi lain, ia juga menyediakan dana khusus untuk gaji guru yang diambil dari perbendaharaan negara dan waqaf negara; memasukkan mata kuliah filsafat, logika, dan ilmu pengetahuan modern ke dalam kurikulum Universitas Al-Azhar.

Ijtihad

Pintu ijtihad masih terbuka lebar bagi umat Islam. Ijtihad merupakan dasar penting dalam menafsirkan kembali ajaran Islam.

Akal

Islam adalah ajaran rasional yang sejalan dengan akal. Dengan akal, maka ilmu pengetahuan menjadi maju.

Pembatasan Negara

Kekuasaan negara harus dibatasi oleh konstitusi yang dibuat oleh negara yang bersangkutan.

Baca Juga: Mengetahui Perkembangan Periode Islam Modern di Dunia

Dengan ide pokok pikiran dari Muhammad Abduh, pendidikan berubah besar dengan menggunakan akal sehat tanpa meninggalkan agama. Sehingga, tidak memunculkan taklid buta tanpa memperhatikan Al-Quran dan hadits.(MZM)